Peningkatan Okupansi Dorong Pertumbuhan Ekonomi Balikpapan

Editor: Mahadeva WS

195
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Suharman Tabrani – Foto Ferry Cahyanti

BALIKPAPAN – Peningkatan tingkat hunian atau okupansi hotel, dan perbaikan daya beli yang terjadi di triwulan III/2018, diyakini Bank Indonesia (BI) Balikapan mendorong pertumbuhan ekonomi Kota Balikpapan.

Bahkan, tidak hanya Peningkatan okupansi hotel, peningkatan kapasitas produksi Pertamina Refinery Unit V Kalimantan, juga sangat mendukung pertumbuhan ekonomi Balikpapan. Pada triwulan III/2018, tercatat Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) Balikpapan, terpantau relatif aman.

Disertai dengan peningkatan DPK, maupun aset pada periode Agustus 2018. Sementara, kredit di Agustus 2018 masih tumbuh meskipun melambat dibandingkan periode sebelumnya. “Kalau berdasarkan jenis penggunaan, peningkatan kredit terjadi pada semua jenis kredit, meskipun sedikit melambat dibandingkan bulan lalu,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Suharman Tabrani, Senin (24/9/2018).

Perincian kredit yang ada di masyarakat saat ini, Kredit Modal Kerja dari 3,16% menjadi 1,50%, Kredit Konsumsi dari 5,22% menjadi 4,98%, dan Kredit Investasi melambat dari 6,59% menjadi 5,97%. Adapun pertumbuhan aset, meningkat dari 6,03% (yoy) pada Juli 2018 menjadi 10,20% pada Agustus.  Dana pihak ketiga tercatat meningkat dari 7,17% (yoy) menjadi 8,15% (yoy), sementara tren kredit sedikit melambat dari 4,91% (yoy) menjadi 4,07%.

Menurut Suharman, ada beberapa faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi Balikpapan di tahun ini, yaitu meningkatnya kapasitas produksi Pertamina RU V Kalimantan, kinerja pertambangan yang diperkirakan meningkat karena ada peningkatan produksi dan membaiknya harga batubara, dan kinerja sektor perhotelan maupun restoran, yang tercermin dari peningkatan tingkat okupansi hotel dan perbaikan daya beli.

Dengan melihat perkembangan stabilitas keuangan yang relatif stabil di Balikpapan, Suharman optimis, kondisi perekonomian di Indonesia masih tetap kuat dan berdaya tahan. Beberapa indikator perekonomian yang menunjukkan ketahanan tersebut, diantaranya, pertumbuhan ekonomi yang tumbuh cukup baik, serta inflasi yang rendah serta terjaga.

Terjaganya stabilitas sistem keuangan ditunjukkan oleh intermediasi yang kuat. “Bank Indonesia juga senantiasa mewaspadai berbagai risiko yang mungkin timbul di tengah ketidakpastian global sebagaimana yang terjadi pada Turki dan Argentina,” pungkas Suharman.

Baca Juga
Lihat juga...