Penuhi Kebutuhan Pakan, Peternak Cari Jerami ke Luar Kecamatan

Editor: Satmoko Budi Santoso

180

LAMPUNG – Sulitnya mencari pakan hijauan untuk ternak membuat sejumlah peternak rela menempuh jarak jauh untuk pemenuhan kebutuhan pakan.

Basuki (40) warga Desa Kemukus, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, bahkan harus mencari pakan hingga ke Desa Tanjungheran, Kecamatan Penengahan.

Ia menyebut, rela menempuh jarak sekitar dua puluh kilometer akibat di wilayahnya sulit mendapatkan pakan dampak kemarau yang masih melanda wilayah tersebut.

Pemilik ternak lima ekor sapi jenis peranakan ongole (PO) dan brahman tersebut mengaku, semenjak kemarau ia menyiapkan berbagai jenis pakan. Pakan jerami dari limbah padi dicari dengan sistem bongkok (mengikat) menggunakan tambang lalu diangkut memakai motor.

Proses pencarian bersama dengan peternak lain, disebut Basuki, kerap dilakukan menggunakan kendaraan roda dua secara konvoi agar bisa saling membantu saat terjatuh.

“Kami kerap berangkat secara rombongan untuk memudahkan proses pencarian pakan. Saat musim panen padi jerami jadi pilihan. Tapi kerap mencari rumput di dekat lahan jagung yang belum disemprot obat kimia,” terang Basuki, salah satu peternak sapi yang ditemui Cendana News, tengah mencari jerami di areal persawahan Desa Tanjung Heran, Minggu (2/9/2018).

Saat sumber pakan jenis jerami di wilayah Kecamatan Ketapang serta kecamatan terdekat sulit diperoleh, Basuki bahkan kerap mencari pakan hingga ke Kabupaten Lampung Timur.

Pencarian pakan hingga ke kabupaten lain dilakukan dengan sistem iuran untuk membeli bahan bakar kendaraan truk. Bersama sebanyak sepuluh orang peternak pencarian pakan dilakukan dengan sistem patungan kerap dilakukan untuk mendapatkan pakan.

Peternak yang ikut patungan umumnya merupakan peternak yang memiliki sapi atau kerbau minimal tiga ekor. Peternak di Desa Kemukus umumnya memiliki ternak sapi sebanyak tiga hingga lima ekor sebagai investasi.

Basuki yang memiliki tiga ekor sapi PO dan dua ekor sapi brahman mengaku, musim kemarau ia harus menyiasati kebutuhan pakan. Jerami yang dikumpulkan akan dikeringkan dan diberikan bersama suplemen organik cair (SOC) dari tetes tebu.

“Pakan lain saya berikan dengan jenjet halus bonggol jagung, dedak serta suplemen lain untuk merangsang nafsu makan sapi,” beber Basuki.

Basuki menyebut, proses mencari pakan hingga keluar kecamatan bahkan kabupaten kerap mengeluarkan biaya ekstra. Biaya ekstra tersebut untuk pembelian bahan bakar. Demikian juga untuk pembelian pakan yang jika ditotal dalam sebulan menghabiskan biaya Rp1 juta.

Meski demikian dengan nilai jual sapi per ekor jenis PO mencapai Rp20 juta dan brahman mencapai Rp23 juta dirinya masih bisa memperoleh keuntungan.

Apriantoni salah satu peternak di Kecamatan Penengahan mengandalkan pakan jerami dan pakan fermentasi untuk asupan pakan sapi miliknya [Foto: Henk Widi]
Peternak sapi lain bernama Apriantoni (28) menyebut, kebutuhan pakan harus dipenuhi dengan mencari dari wilayah lain. Masa tanam tidak serempak sekaligus tibanya musim kemarau berimbas sumber pakan sulit diperoleh.

Musim panen padi yang berlangsung empat bulan sekali membuat Apriantoni harus melakukan proses menyimpan pakan. Sistem penyimpanan pakan, menurut Apriantoni, menjadi siasat bagi peternak agar selalu mendapat asupan pakan yang memadai.

“Kalau hanya mengandalkan pakan hijauan peternak, seperti saya dengan delapan ekor sapi akan kewalahan sehingga harus ada stok,” beber Apriantoni.

Ia bahkan menyebut, penyuluhan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk musim kemarau diimbau untuk menyimpan pakan. Selain mengantisipasi musim kemarau, saat ada acara keluarga mendadak, dirinya bisa menyiapkan pakan di bak pakan tanpa harus mencari.

Pengolahan pakan dari sejumlah limbah pertanian dengan sistem fermentasi, disebut Apriantoni, sekaligus membuat dirinya bisa melakukan penghematan untuk kegiatan beternak.

Baca Juga
Lihat juga...