Perajin Perkakas Dapur di Bantul Bertahan dari Gempuran Produk Impor

Editor: Koko Triarko

256
YOGYAKARTA — Sejumlah perajin alat perkakas rumah tangga di daerah Srandakan, Bantul, mencoba tetap bertahan di tengah gencarnya produk impor asal luar negeri.
Dengan alat tradisional yang masih sangat sederhana, mereka mencoba bersaing dengan produk pabrikan besar, dengan cara mereka sendiri. Tanpa bantuan pemerintah dan hanya murni swadaya.
Seperti dilakukan pasangan suami-istri di Dusun Gunungsaren, Srandakan, Bantul, Tris Sutrisno. Memiliki keahlian di bidang logam alumunium dan stainless steel secara turun-temurun, keduanya terampil membuat bermacam alat perkakas, seperti wajan penggorengan, soblok atau penanak nasi, dandang atau pengukus, panci, dan sebagainya.
“Tidak ada pilihan lain, karena keahlian kami, ya hanya ini. Biar pun saat ini penjualan semakin sulit, karena banyak produk dari luar negeri, kita tetap akan produksi,” ujar Tris, Selasa (4/9/2018).
Salah satu cara untuk menyiasati persaingan dengan produk perkakas impor, adalah menerima order lewat pesanan. Selain menjual produk perkakas yang jamak seperti alat penggorengan, panci atau penanak nasi, ia juga menerima pesanan alat seperti dandang yang bisa disesuaikan. Baik itu dari sisi bentuk, ukuran maupun kualitasnya.
“Kita menerima pesanan pembuatan dandang untuk mie ayam, bakso, bakpao, dan sebagainya. Bentuk dan ukurannya bisa disesuaikan permintaan. Itu yang banyak dibeli, karena di toko kadang tidak dijual,” ungkapnya.
Memproduksi 3-10 buah alat perkakas setiap hari, Tris mengaku menjual produknya dengan harga bervariasi. Mulai dari Rp10 ribu untuk perkakas ringan seperti wajan dan sothil, hingga perkakas besar seperti dandang pesanan ukuran 25 kilogram yang mencapai ratusan, bahkan juataan rupiah per bijinya.
“Untuk omset, ya tidak tentu. Kalau pas ramai bisa sampai Rp3 juta per bulan. Tapi kalau pas sepi, ya kadang tidak sampai Rp1 juta,” ungkapnya.
Selain ibu-ibu rumah tangga, pelanggan utama Tris berasal dari kalangan pelaku UKM, seperti pedagang makanan atau warung maupun pedagang keliling, seperti pedagang siomay, bakpao, dan sejenisnya.
“Kendala yang paling berat adalah modal. Karena semua kita usahakan sendiri. Tidak pernah ada bantuan pemerintah sama sekali,” ungkapnya.
Selain itu, mahalnya bahan baku utama pembuatan alat perkakas berupa aluminium juga menjadi kendala lain bagi para perajin seperti Tris. Saat ini, harga aluminium dikatakan mencapai Rp200 ribu per lembar. Meningkat sekitar Rp20 ribu dari sebelumnya yang hanya Rp180 ribu per lembar.
“Untuk ukuran 0,8 saat ini sudah sekitar Rp200 ribu per lembar. Naik signifikan dari sebelumnya. Padahal, sebulan kita butuh sedikitnya 15 lembar aluminium,” keluhnya.
Dengan kondisi yang semakin sulit, perajin seperti Tris hanya bisa berharap kepada pemerintah untuk ikut membantu. Baik itu dengan memberikan bantuan pinjaman modal, alat atau sekadar memberikan izin usaha.
Baca Juga
Lihat juga...