Perajin Sapu Berbahan Sabut Kelapa, Butuh Perhatian Pemerintah

Editor: Makmun Hidayat

204

YOGYAKARTA — Minimnya modal, kurangnya inovasi serta keterbatasan kemampuan di bidang pemasaran, masih menjadi kendala utama puluhan perajin produk berbahan dasar sabut kelapa di Dusun Klegen, Sendangsari, Pengasih, Kulon Progo.

Hal itu mengakibatkan, usaha produksi alat rumah tangga berbahan dasar sabut kelapa, seperti sapu, keset atau tali tambang di dusun ini sulit berkembang secara maksimal meski sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar.

Dusun Klegen sendiri selama ini memang dikenal sebagai sentra penghasil kerajinan berbahan dasar sabut kelapa. Mayoritas warga dusun ini menggantungkan hidupnya dengan membuat dan menjual produk berbahan dasar sabut kelapa.

Salah seorang perajin, Mustarom, mengaku sudah membuat kerajinan berupa sapu dari bahan sabut kelapa sejak belasan tahun lalu. Ia mengaku memiliki keahlian tersebut secara turun temurun dari orangtua maupun kakeknya, sebagaimana warga Dusun Klegen pada umumnya.

“Semua perajin di sini, termasuk saya, masih mengolah sabut kelapa menjadi produk seperti sapu secara tradisional. Semua dilakukan dengan cara dan alat manual sederhana, tidak banyak berubah, masih sama seperti dilakukan orangtua atau simbah-simbah dulu,” ungkapnya.

Selain produk yang dihasilkan memiliki kualitas atau mutu rendah, kurangnya inovasi serta alat pendukung, juga mengakibatkan proses produksi sapu sabut kelapa di dusun ini membutuhkan waktu relatif lama. Otomatis jumlah produksi para perajin pun menjadi terbatas.

“Biaya produksi saat ini juga semakin mahal. Hampir semua bahan kita harus beli. Mulai dari sabut kelapa, plastik tempat merangkai sabut, hingga gagang sapu semua kita beli. Bahkan untuk tenaga mengolah sabut hingga siap dipakai, kita juga harus keluar biaya,” ungkapnya.

Mustarom mencontohkan harus membeli bahan sabut kelapa mentah seharga Rp24ribu per 100 biji. Untuk biaya tenaga ia mengeluarkan Rp5ribu per kilogramnya agar sabut siap diolah. Itu belum termasuk biaya untuk membeli plastik tempat merangkai sabuh, benang, hingga gagang sapu.

“Padahal sehari kita rata-rata hanya mampu memproduksi sekitar 30-40 sapu per hari. Itu karena kita harus nyambi melakukan proses lainnya seperti menjemur, merendam dan memukul sabut agar siap dipasang. Dengan harga jual ke pengepul Rp5000-7000 per satu buah sapu, pemasukan kita boleh dibilang tidak seberapa,” katanya.

Atas berbagai kendala tersebut, para pengrajin produk rumah tangga berbahan dasar sabut kelapa, seperti Mustarom, hanya bisa berharap agar pemerintah dapat membantu mereka. Baik itu dalam memberikan bantuan modal usaha, pelatihan proses produksi dengan memanfaatkan inovasi maupun alat modern, hingga membantu dalam hal pemasaran.

“Selama ini kita mandiri. Belum ada bantuan dari pemerintah,” katanya.

Lihat juga...

Isi komentar yuk