Perajin Tas Berbahan Alami di Nanggulan Kesulitan Bahan Baku

Editor: Koko Triarko

273
YOGYAKARTA – Semakin menipisnya ketersediaan bahan baku enceng gondok, daun pandan serta daun gebang di alam, membuat para perajin tas bahan alam di kecamatan Nanggulan, Kulon Progo, memanfaatkan plastik sebagai baha pengganti.
Selain mudah didapat, bahan baku pembuatan tas dari plastik dinilai juga lebih murah dibanding bahan alam. Meski begitu, untuk menjaga kualitas dan ciri khas kerajinan tas ini, para perajin tetap menggunakan bahan alam dengan cara dikombinasikan dengan bahan plastik.
Salah seorang perajin tas bahan alam, di Dusun Tanjunggunung, Tanjungharjo, Nanggulan, Tumijo, mengaku mulai memanfaatkan bahan baku berupa pintalan tali dari plastik sejak beberapa tahun silam. Ia mendatangkan bahan baku plastik tersebut dari sejumlah pabrik di Jakarta.
“Dulu, memang semua bahan baku kerajinan tas di sini berasal dari alam. Semua disuplai dari kawasan Kulon Progo. Namun, saat ini sudah habis. Mayoritas harus didatangkan dari daerah Ambarawa-Jawa Tengah atau Tasik-Jawa Timur. Harganya pun semakin naik, sehingga kita inovasi dengan memanfaatkan bahan dari plastik,” katanya.
Perajin tas bahan alam di Dusun Tanjunggunung, Tanjungharjo, Nangulan, Tumijo. –Foto: Jatmika H Kusmargana
Tumijo menyebut, harga bahan baku berupa tali pintalan daun pandan saat ini mencapai Rp14.000 per kilogram, enceng gondok Rp8.000 per kilogram dan daun gebang mencapai Rp60.000 per kilogram. Sementara bahan baku yang berasal dari plastik hanya Rp17.000 per kilogram.
“Saat musim kemarau seperti sekarang, bahan baku dari alam sulit didapat. Sehingga harganya bisa naik tinggi. Mau tidak mau, kita harus pakai bahan dari plastik. Walau sedikit mahal, namun selalu tersedia,” katanya.
Para perajin tas bahan alam di kawasan Nangulan ini mulai berani memanfaatkan bahan baku dari pastik, juga tak lepas dari respon positif para konsumen yang mayoritas merupakan orang luar negeri, baik Eropa maupun Amerika.
Mereka mengaku tertarik dengan kerajinan tas bahan alam yang dikombinasikan bahan plastik, karena memiliki keunikan tersendiri.
“Awalnya kita hanya coba-coba, karena ‘kepepet’ (terpaksa) tidak ada bahan dari alam lagi. Namun, ternyata banyak konsumen luar negeri yang suka. Mereka lalu pesan lagi, sehingga kita mulai menggunakan bahan plastik ini dengan cara dikombinasikan dengan bahan alam,” katanya.
Daerah Nanggulan, Kulon Progo, selama ini memang dikenal sebagai sentra penghasil kerajinan bahan alam. Sejumlah produk kerajinan, mulai dari tas, kursi, dan barang rumah tangga lainnya diproduksi dari bahan alam, seperti daun pandan, enceng gondok, dan lainnya.
Saat ini, sedikitnya terdapat 30 lebih pemasok dan ribuan perajin kecil kerajinan bahan alam yang tersebar di lima desa di wilayah kecamatan Nanggulan. Salah satu desa yang menjadi cikal bakal munculnya perajin kerajinan bahan alam ini adalah desa Tanjungharjo.
Baca Juga
Lihat juga...