Percantik Objek Wisata, Komunitas Lingkup Desain Aplikasikan Eco Design

Editor: Satmoko Budi Santoso

368

LAMPUNG – Gondrong alias rambut panjang tidak selamanya berkonotasi buruk. Itulah spirit yang menginspirasi kelompok yang menamakan diri GTB (Gondrong Tidak Berguna).

Diketuai oleh Zulfikar (26) GTB terdiri dari tujuh mahasiswa. GTB yang identik kepanjangan Gondrong Tidak Berguna, justru memiliki filosofi menjadi gondrong berguna. Mendedikasikan diri untuk melakukan hal positif dan berguna.

Salah satu media yang digunakan melalui seni dan menambah estetika suatu objek wisata.

Zulfikar menyebut, ia bersama tujuh mahasiswa termasuk dirinya merupakan anggota Komunitas Lingkup Desain (KLD) dari Universitas Indrprasta (Unindra) di Jakarta Selatan.

Zulfikar, Ketua Komunitas Lingkup Desain yang membuat seni instalasi dari berbagai bahan tidak terpakai sebagai lokasi spot foto di pantai Minang Rua Bakauheni Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Sebagai mahasiswa dari Fakultas Bahasa dan Seni Jurusan Desain Komunikasi Visual, seni menjadi cara unik untuk aktualisasi sekaligus eksistensi. Aktualisasi seni tersebut diakui Zulfikar dilakukan oleh KLD dengan kegiatan sub liburan.

“Kali ini Komunitas Lingkup Desain memiliki kegiatan namanya sub liburan dan kelompok kami Gondrong Tidak Berguna memilih pantai Minang Rua setelah sebelumnya pernah ikut Festival Minang Rua. Kami ingin berbuat hal positif di pantai ini,” terang Zulfikar selaku ketua Komunitas Lingkup Desain, dikonfirmasi Cendana News, baru-baru ini.

Anggota kelompok yang sebagian memiliki ciri khas rambut gondrong di antaranya Aula Putra, Arief NP, Galang, Wildan, Heru, Ali tersebut, mengaku ingin melakukan hal berguna sesuai dengan ilmu desain yang dimiliki.

Pemilihan objek wisata disebut Zulfikar bukan kali pertama dilakukan karena sebelumnya kelompok GTB telah melakukan kegiatan di Pulau Untung Jawa Kepulauan Seribu, ikut membuat seni mural di Jakarta pada ajang Asian Games ke-18 di Jakarta-Palembang.

Konsep seni yang diaplikasikan untuk mempercantik kawasan objek wisata disebut Zulfikar mengambil tema eco design. Eco design dilakukan dengan membuat desain ramah lingkungan bahkan menggunakan produk dari barang-barang yang bisa ditemukan tak terpakai, bisa didaur ulang di objek wisata.

Beberapa barang tidak bermanfaat dan bisa dimanfaatkan untuk seni diakui Zulfikar dilakukan menggunakan eco materials yang murah dan tidak mengganggu lingkungan.

Pembuatan miniatur penyu oleh Komunitas Lingkup Desain untuk pelengkap penangkaran penyu yang dikelola oleh anggota Pokdarwis Minang Rua Bahari sekaligus penangkar penyu,Gusti Winata (kanan baju merah) [Foto: Henk Widi]
“Kegiatan yang sudah kami lakukan di antaranya menghias sejumlah warung dengan seni mural atau lukisan di tembok agar warung lebih artistik,” beber Zulfikar.

Personil GTB yang merupakan bagian Komunitas Lingkup Desain yang melakukan kegiatan liburan juga memastikan bukan sekedar jalan-jalan. Ia menilai sebagai objek wisata sebagian masyarakat di objek wisata masih belum memiliki kesadaran akan seni.

Atas dasar tersebut Zulfikar melakukan kegiatan seni mural, membuat spot foto, membuat bahan untuk majalah, pelatihan sablon kaos, seni fotografi, miniatur penyu.

Komunitas tersebut melanjutkan program serupa yang sudah dilakukan pada bulan Mei silam di antaranya membuat giant letter (tulisan besar) PANTAI MINANGRUA. Selain itu kegiatan lain dengan membuat tulisan unik di sejumlah titik yang disebutnya science system pada lokasi penangkaran penyu Minang Rua, spot Green Canyon, Goa Lalai serta sejumlah titik untuk objek swafoto wisatawan.

Keunikan pantai Minang Rua yang dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Minang Rua Bahari diakuinya karena memiliki sejumlah spot unik dalam satu kawasan.

Konsep eco design memberi nilai estetika pada pada objek wisata pantai Minang Rua juga dilakukan dengan membuat seni instalasi. Seni instalasi tersebut di antaranya memanfaatkan cangkang kerang, tambang kapal, batu karang mati, kayu mati yang terbawa arus laut.

Sebagian bahan disebut Zulfikar semula merupakan sampah tak berguna namun dengan pembuatan seni instalasi maka objek tersebut dikombinasikan dengan tulisan unik bisa untuk menjadi background selfie bagi pecinta fotografi sekaligus Instagramable.

“Pemanfaatan barang tidak terpakai juga sudah banyak diterapkan di sini dengan membuat kursi bekas kayu hanyut, sekaligus mengurangi sampah,” cetus Zulfikar.

Hasil proses sablon yang dilakukan untuk kaos yang dimiliki warga dan pengunjung pantai Minang Rua [Foto: Henk Widi]
Anggota Komunitas Lingkup Desain bagian dari kelompok GTB bernama Arief NP menyebut, seni mural atau melukis dinding ikut mempercantik kawasan tersebut. Semula sejumlah warung hanya terbuat dari papan dan bambu, namun berkat sentuhan kreatif kelompok GTB sejumlah dinding dengan lukisan mural bahkan semakin mempercantik kawasan wisata Minang Rua sekaligus sebagai spot foto.

Penggunaan cat warna warni yang disediakan juga sekaligus untuk pembuatan kaos sablon.

Pembuatan kaos sablon disebut Arief NP dilakukan dengan mempersilakan warga pemilik kaos polos untuk disablon. Sablon berupa tulisan dan lanskap pantai Minang Rua Bahari diakuinya bisa menjadi suvenir.

Melalui kegiatan mempercantik kawasan wisata Arief NP berharap pengunjung bisa menemukan hal hal baru di lokasi tersebut. Pasalnya, saat zaman semakin canggih sejumlah objek wisata tidak sekadar untuk dinikmati langsung tetapi bisa menjadi konsumsi untuk media sosial melalui foto dan video.

“Komunitas Lingkup Desain yang bergerak dalam bidang seni ikut berkolaborasi dengan pegiat wisata harapannya destinasi wisata bisa semakin dikenal dan kunjungan wisatawan meningkat,” terang Arief NP.

Gusti Winata (27) selaku salah satu anggota Pokdarwis Minang Rua Bahari mengaku, sangat mengapresiasi peran serta Komunitas Lingkup Desain. Berkat kehadiran komunitas tersebut dengan adanya seni mural, seni instalasi dan sejumlah spot foto semakin menambah daya tarik objek wisata pantai Minang Rua.

Kehadiran tujuh orang kelompok GTB tersebut bahkan ikut memberi warna baru dan memberi wajah baru pada objek wisata bahari di Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni tersebut.

Ia bahkan memastikan pengunjung akan selalu mendapat sajian baru setiap pekan berbeda dengan pekan sebelumnya. Sejumlah spot foto diakuinya menjadi daya tarik dengan penambahan tulisan unik di spot Penangkaran Penyu, Goa Lalai, Green Canyon.

Gusti Winata yang juga dipercaya untuk melakukan penangkaran penyu menyebut, lokasi konservasi penyu semakin menarik setelah diberi tulisan. Meski anggota komunitas sebagian besar berambut gondrong terkesan menyeramkan, namun diakui Gusti Winata, hasil karya seni yang dibuat justru memiliki nilai positif untuk objek wisata pantai Minang Rua.

 

Lihat juga...

Isi komentar yuk