Peroleh Keuntungan Berlipat, Petani Gunakan Sistem Tumpang Sari

Editor: Satmoko Budi Santoso

1.526

LAMPUNG – Keberadaan hamparan sawah di kaki Gunung Rajabasa Lampung Selatan dimanfaatkan sejumlah petani untuk menanam padi sawah.

Sunanti (42) salah satu petani di Desa Pasuruan yang memiliki hamparan sawah di Desa Ruang Tengah, Kecamatan Penengahan menyebut, memanfaatkan lahan untuk penanaman padi sekaligus sayuran.

Penanaman sistem tumpang sari dilakukan untuk memaksimalkan hasil dari lahan sawah seluas seperempat hektar yang dimilikinya.

Kondisi lahan sawah dengan pengairan yang lancar dari Gunung Rajabasa diakuinya, membuat ia melakukan penanaman padi varietas padi merah penghasil beras merah serta padi varietas Inpari.

Penanaman bibit padi sawah tersebut dikombinasikan dengan penanaman berbagai jenis tanaman sayuran untuk dijual di pasar. Pekerjaan berjualan sayur di pasar menurut Sunanti membuat ia menanam sejumlah komoditas sayuran bernilai jual.

“Pemanfaatan pematang sawah untuk menanam sayuran sudah dilakukan oleh saya dan suami karena lahan yang subur bisa menghasilkan sebelum waktu panen padi,” beber Sunanti salah satu petani padi di Penengahan saat ditemui Cendana News, Senin (24/9/2018).

Lahan sawah yang selalu teraliri air Gunung Rajabasa disebut Sunanti sengaja ditanami varietas padi merah dan padi Inpari. Penggunaan bibit berkualitas disebutnya menjadi cara untuk memaksimalkan hasil termasuk penerapan sistem penanaman jajar legowo.

Pematang sawah atau galengan dimanfaatkan untuk penanaman tomat mawar,cabai,kedelai,kemangi dan sejumlah tanaman sayuran dan refugia [Foto: Henk Widi]
Penanaman sistem jajar legowo tersebut menurut Sunanti menjadi cara untuk memaksimalkan hasil dari rumpun padi yang maksimal sekaligus memudahkan pembersihan gulma.

Selama penanaman padi berlangsung, Sunanti bersama sang Suami, Suroso, memanfaatkan pematang sawah untuk penanaman sayuran. Beberapa jenis sayuran yang ditanam di pematang sawah di antaranya jenis tomat, kacang hijau, kacang panjang, kemangi, sawi, kedelai.

Penanaman beberapa jenis sayuran tersebut diakuinya menyesuaikan umur setiap tanaman sehingga ia bisa memanen berbagai jenis sayuran sebelum padi memasuki musim panen.

Pada masa tanam ketiga, Sunanti menyebut, pada setiap petak sawah ia menanam sayuran yang berbeda. Tanaman tomat yang dikembangkan di pematang sawah saat ini ditanam berjumlah 300 batang, kacang tanah sekitar 50 batang, kedelai dan kacang hijau puluhan batang.

Meski hasilnya terhitung sedikit namun ia memastikan beberapa jenis sayuran bisa dijual di pasar sebagian bisa dikonsumsi sendiri. Proses perawatan sayuran yang ditanam secara tumpangsari dengan padi disebutnya lebih mudah sembari melakukan proses perawatan padi.

“Pemupukan sayuran pada pematang sawah saya lakukan dengan sistem kocor mencampurkan air dan pupuk,” beber Sunanti.

Tanaman tomat jenis mawar disebutnya bisa dipanen usia 60 hingga 90 hari sementara jenis sayuran lain bisa dipanen lebih cepat saat usia 30 hingga 40 hari. Saat memasuki masa panen pertama, ratusan batang tanaman tomat yang ditanam disebutnya bisa menghasilkan buah sekitar 5 kilogram dan hasilnya akan semakin meningkat saat tanaman semakin tua.

Pemanenan tomat tersebut dilakukan seminggu sekali setelah berbuah dengan harga mencapai Rp2.000 bahkan bisa lebih.

Selain tomat mawar, Sunanti juga menyebut, menanam sayuran jenis sawi dan kemangi ketika tanaman tomat sudah tinggi. Pada sela sela tanaman tomat yang sudah tinggi dan diberi ajir bambu ia bisa menanam sayuran sawi dan kemangi yang bisa dipanen lebih cepat.

Sawi dan kemangi kerap dipesan oleh sejumlah pedagang kuliner untuk lalapan serta pelengkap sayuran. Selain bisa dijual ke sejumlah pedagang kuliner, penjual sayur keliling diakui Sunanti kerap memesan sayur yang ditanamnya sebagai pelengkap barang dagangan.

Selain sistem penanaman sayuran tumpang sari dengan padi, di sejumlah pematang sawah petani di wilayah tersebut mulai mengembangkan tanaman refugia. Tanaman refugia jenis bunga sebagai habitat alami predator bisa dimanfaatkan oleh petani untuk mengurangi populasi hama dengan sistem pengendalian hama terpadu.

Kondisi tersebut juga diakui petani lain bernama Imam (30) warga Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan yang menanam refugia.

Imam salah satu petani yang memanfaatkan pematang sawah untuk menanam sayuran dan refugia [Foto: Henk Widi]
Penanaman berbagai jenis sayuran berbunga dan refugia disebut Imam terbukti ikut mencegah populasi hama penyakit pada padi. Meski sejumlah hama masih tetap menyerang padi sawah yang dimilikinya namun sebagian masih bisa dikendalikan.

Penanaman sayuran dengan sistem tumpang sari bernilai jual disebutnya sekaligus membantu petani memperoleh hasil dari menjual sayuran. Meski populasi hama burung pipit menyerang sebagian tanaman padi yang sudah berbulir, hasil dari tanaman tumpang sari masih bisa menjadi sumber penghasilan bagi petani.

Baca Juga
Lihat juga...