Pesisir Selatan Pertahankan Populasi Sapi

Editor: Koko Triarko

1.438
PESISIR SELATAN – Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, berupaya menjaga dan mempertahankan populasi sapi. Hal ini mengingat daerah setempat merupakan sentra daging sapi di Pesisir Selatan, Sumatra Barat.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Pesisir Selatan, Hazrita, mengatakan, upaya tersebut dilakukan agar peningkatan permintaan konsumen setiap tahun, tidak berpengaruh terhadap penurunan populasi yang saat ini telah mencapai 81.786 ekor.
Untuk menjaga populasi itu, Dinas Peternakan akan berupaya maksimal melaksanakan program Inseminasi Buatan (IB) terhadap sapi betina produktif.
“Produksi bisa dilakukan seiring semakin tingginya permintaan terhadap daging sapi. Tahun ini kita mentargetkan IB sebanyak 10.540 ekor,” katanya, Senin (3/9/2018).
Hazrita menjelaskan, program IB tersebut terus dilakukan sosialisasinya kepada masyarakat. Tujuanya agar masyarakat tahu, bahwa selain perkawinan alam, pengembangbiakan sapi juga bisa dilakukan melalui IB.
Bahkan, paranakan yang dihasilkan juga berkualitas, karena melalui IB, turunan yang dihasilkan tidak berasal dari kawin sejenis atau sesama satu keturunan.
Menurutnya, pada 2017 pihaknya juga telah melakukan IB terhadap sapi sebanyak 10.481 ekor dari target 9.412 ekor. Tercapainya angka itu, melalui sosialisasi yang dilakukan, dan antusiasme masyarakat peternak untuk melakukan IB terhadap sapinya semakin tinggi.
“Untuk itu, pada 2018 ini target IB diperkirakan akan melampaui dari yang direncanakan sebagai mana 2017 lalu,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Disnakeswan, Yusmal, menambahkan, untuk memaksimalkan capaian IB hingga akhir 2018, pihaknya menerjunkan 22 orang petugas di lapangan.
“Di Pesisir Selatan, Kecamatan Silauat dan Basa Ampek Balai Tapan termasuk sentra sapi, sehingga di daerah itu, tahun ini juga dilakukan penambahan masing-masing satu Pos IB.” Katanya.
Ia menyebutkan, upaya tersebut dilakukan, sebab beternak sapi sudah dijadikan andalan oleh masyarakat di Pesisir Selatan dalam meningkatkan pendapatan keluarga, di samping juga sebagai petani penggarap lahan.
“Kita melihat usaha itu bisa dijadikan andalan, sebab sapi lokal Pesisir Selatan cukup diminati oleh masyarakat di berbagai daerah. Selain kesehatannya terjaga, kualitas dagingnya juga sangat bagus dan gurih,” ungkapnya.
Untuk itu, ia mengajak para peternak di Kabupaten Pesisir Selatan, agar melakukan IB terhadap indukan sapi peliharaan.
Selain IB, pada 2018 ini Disnakeswan setempat juga menargetkan kegiatan Upaya Khusus Sapi dan Wajib Bunting (Upsus-Siwab) sebanyak 10,540 akseptor dari 80 ribu ekor lebih hewan peliharaan masyarakat.
Sedangkan target Upsus-Siwab 2017 sebanyak 9.412 akseptor Insiminasi Buatan (IB) terhadap sapi peliharaan masyarakat, dengan realisasi 10.481 dari akseptor, kondisi ini meningkat dibandingkan pada 2016 sebanyak 5,105 akseptor atau 195,91 persen.
Ia menjelaskan, hasil capaian IB sampai akhir Juli 2018 sebanyak 5.777 akseptor 54,81 persen, kemudian hewan yang bunting sebanyak 3.844 ekor dan angka kelahiran sebanyak 2.122 ekor, dengan petugas pelayanan lapangan Insiminasi Buatan (IB) sebanyak 22 orang, sedangkan pada tahun ini juga terjadi penambahan Pos IB untuk dua kecamatan yaitu, kecamatan Silaut dan kecamatan Basa Ampek Balai Tapan.
Menurutnya, usaha beternak merupakan andalan pendapatan masyarakat Pesisir Selatan yang mayoritas hidup sebagai petani. Selama ini, sapi peliharaan masyarakat Pesisir Selatan cukup diminati oleh masyarakat pedagang yang datang dari luar daerah untuk membelinya. Pasalnya, kualitasnya baik dan dagingnya gurih serta terjaga kesehatannya.
Pemda setempat juga mengajak para peternak, agar induk sapi peliharaan supaya mendapatkan pelayanan Isiminasi Buatan (IB) dengan bibit unggul, antara lain bibit Brahman dan Simental. Bibit sapi ini memiliki prospek cerah dalam mengangkat pertumbuhan ekonomi masyarakat, apalagi pertumbuhan anak sapi cepat besar, harga jual tinggi di pasaran.
Kepada masyarakat juga diminta agar tidak menjual induk sapi yang produktif, hal tersebut agar populasi sapi betina akan terus berkembang sebagai sumber ekonomi keluarga, bila induk sapi produktif dijual, dikhawatirkan akan memberikan dampak buruk terhadap pertumbuhan ekonomi para petani peternak di daerah Pesisir Selatan.
Anak sapi yang berada di kandang. Usaha peternakan sapi merupakan usaha yang cukup menjanjikan. Maka, pemerintah mengupayakan terus menjaga populasi sapi/Foto: M. Noli Hendra
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Pesisir Selatan Hazrita (tengah) bersama sejumlah staf/Foto: Ist
Lihat juga...