Petani di Bantul Enggan Simpan Bawang untuk Benih

149
Bawang merah - Dokumentasi CDN

BANTUL – Mayoritas petani di Kabupaten Bantul, DIY, enggan menyimpan bawang merah hasil panenannya, untuk pembenihan atau dijadikan benih. Pembenihan tersebut dibutuhkan untuk musim tanam selanjutnya.

“Rata-rata petani cenderung melepas hasil panen ketimbang menyimpan, memang ada yang menyimpan, tapi hanya sebagian kecil saja,” kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Bantul, Suroto, Selasa (11/9/2018).

Sebagian besar petani, tidak menyimpan hasil panen bawang merah untuk benih karena khawatir akan busuk. Pembusukan akan terjadi, jika proses pembenihan tidak berlangsung maksimal. Hal itulah yang mendorong petani memilih menjual semua hasil panen yang diperoleh.

Jika-pun petani menyimpan bawang untuk benih, maka dilakukan pada musim panen pertama yang bisa dialami pada Mei hingga Juni. Bibit tersebut untuk ditanam pada musim tanam dua pada Juli hingga Agustus, atau selang dua bulan.

Perbedaan penyikapan tersebut mempertimbangkan, jarak tanam antara musim tanam dua dan tiga, bisa lebih dari lima bulan. “Petani lebih memilih tidak menanggung risiko, mending membeli saat butuh benih, itu justru lebih aman. Dulu memang petani berduyun-duyun menyimpan untuk benih, tapi sekarang ini sepi,” kata petani asal Sode Desa Srigading Sanden tersebut.

Mayoritas petani bawang merah memilih membeli benih ketika akan tanam. Meski harus mendapatkan bibit dengan harga tinggi, karena mengikuti kondisi pasar, pembelian disesuaikan dengan biaya dan kebutuhan lahan pertanian sehingga tidak memberatkan. “Pada musim tanam dua ini di Bantul digunakan varietas dari Nganjuk, karena di Bantul sendiri kecil sekali produksinya. Kelebihan benih varietas ini hasil buahnya besar, kemudian mudah dibudidayakan,” jelasnya.

Luas lahan tanam bawang merah pada masa tanam kedua ini lebih baik dari sebelumnya, yaitu mencapai 800 hektare. Sementara produktivitas panen berkisar 13 sampai 15 ton bawang per hektare. “Kalau musim tanam pertama kemarin, cuma seluas 400 hektare, namun harga jualnya lebih tinggi. Makanya untuk MT sekarang kalau bisa dimaksimalkan harus mencapai 15 ton per hektare,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...

Isi komentar yuk