Petani di Flotim Enggan Tanam Padi

Editor: Koko Triarko

175
LARANTUKA – Para petani pemilik lahan persawahan di Desa Konga, Kecamatan Titehena, Flores Timur, masih banyak yang belum mau menanam padi, karena pola tanam petani di areal persawahan belum serentak, sehingga serangan hama sulit diatasi.
“Lahan sawah saya ubah menjadi tanaman kakao sejak 2005, karena hasil panen padi tidak menentu dan selalu saja kesulitan air untuk mengairi sawah. Selain itu, butuh tenaga dan biaya besar mengolah sawah,” sebut Anselmus Langkamau, Senin (24/9/2018).
Selain diserang hama wereng dan walang sangit, saat musim kemarau sawahnya tidak bisa diolah akibat peresapan airnya sangat tinggi, sehingga membutuhkan banyak air, karena lahan sawahnya merupakan tanah berpasir.
Anselmus Langkamau, petani di desa Konga mengubah lahan sawahnya menjadi kebun kakao. -Foto: Ebed de Rosary
Ia mengatakan, daripada selalu menjaga pintu air setiap malam untuk mendapatkan dan ribut dengan petani lain karena rebutan air untuk mengairi sawah, lebih baik areal sawah diubah menjadi kebun kakao dan tanaman mahoni.
“Sekarang saya sudah tenang dan tidak terlalu capek mengolah sawah lagi seperti dahulu. Uang juga tidak terbuang untuk membeli pupuk dan bahan kimia untuk menyemprot hama, dan setiap bulan saya bisa dapat uang belasan juta rupiah,” tuturnya.
Kalau masih tanam padi, kata Anselmus, setiap bulan dirinya selalu kesulitan uang untuk membeli pupuk, sehingga ini yang membuat petani sering meminam uang di renternir dengan bunga yang besar, dan selalu terbelit utang.
Hendrikus, petani lainnya menambahkan, pemilik lahan persawahan di desa Konga selain dimiliki warga desa Konga juga dimiliki warga desa Lewolaga dan desa-desa sekitar lainnya, sehingga sulit diajak untuk menanam padi secara serentak.
“Biasanya petani takut, sebab kalau tanam serentak mereka yang memiliki lahan sawah di bagian ujung saluran air tidak kebagian air, sehingga mereka biasanya menanam terlebih dahulu,” ungkapnya.
Memang, katantya, dinas pertanian kabupaten Flores Timur sering turun melakukan sosialisasi soal penanaman serentak. Tetapi, petani di desa Konga saja tidak semuanya mau untuk menerapkannya, sehingga serangan hama bisa terus meningkat.
“Banyak petani terpaksa harus selalu menyemprot obat untuk membunuh hama wereng dan walang sangit, bahkan dosisnya terus ditambah akibat serangan hama terus bertambah banyak,” tuturnya.
Menurutnya, banyak lahan sawah di areal irigasi Konga sudah beralih fungsi menjadi kebun sayuran dan buah. Bahkan, ada petani yang melepas sapi di bekas areal sawahnya, karena banyaknya rumput yang tumbuh di sana.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian kabupaten Flores Timur, Soni Fernandez Aikoli, saat berbincang dengan Cendana News, meminta agar petani harus mempraktikkan pola tanam serentak, sehingga saat diserang hama lahan sawah tidak banyak mengalami kerusakan.
“Kalau tidak serentak, maka hama setelah menyerang satu hamparan padi yang siap panen hingga rusak semua baru akan berpindah ke hamparan lainnya hingga seterusnya. Tapi kalau tanam serentak, serangan hama akan terbagi ke semua lahan, sehingga dalam satu areal kerusakannya hanya sedikit,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Flores Timur, Antonius Wukak Sogen, menjelaskan, hama tersebut telah menyerang tanaman padi petani di lahan irigasi Konga seluas 70 hektare, karena memang petaninya tidak mau mengikuti arahan petugas penyuluh lapangan.
“Kalau tidak tanam serempak, maka produksi akan terus berkurang dari 7,5 ton menjadi 4 ton, bahkan terus menurun hingga semua tanaman padi mengalami gagal panen,” tuturnya.
Pihaknya mengaku sudah meminta petani untuk menanam tanaman lain, seperti kedelai dan kacang-kacangan atau sayuran untuk sementara, agar terhindar dari serangan hama yang merugikan petani.
Baca Juga
Lihat juga...