Petani di Lampung Selatan Sukses Budidayakan Jeruk Siam Banyuwangi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

445

LAMPUNG — Alih profesi yang dilakoni masyarakat di Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas Lampung Selatan berbuah manis. Sebelumnya warga beraktivitas sebagai pembuat batu bata, genteng. Akibat anjloknya harga, sejak 2010 mereka beralih membudidayakan jeruk siam Banyuwangi.

Kadeni (52) warga dusun Solo desa Tanjungsari menyebutkan, keputusan beralih profesi merupakan dampak semakin sulitnya bahan baku. Ketersediaan lahan setengah hektare membuat ia mulai memberanikan diri dengan menanam sebanyak 500 batang tanaman jeruk siam.

”Saya beralih dari usaha pembuatan batu bata karena ada peluang dan adik saya sudah lebih dahulu sukses. Prospek bertani jeruk siam juga menjanjikan karena tanah di sini sangat cocok,” terang Kadeni saat disambangi Cendana News, Senin (3/9/2018)

Kadeni menerangkan, jeruk miliknya mulai belajar berbuah saat usia tiga tahun dan usia empat tahun mulai rutin. Sejak bulan Mei, sudah mulai berbunga dan Agustus hingga September mulai bisa dipanen. Proses pembuahan yang tidak serempak membuat ia bisa memanen jeruk hingga puluhan kali.

“Saat bunga pertama mulai menjadi bakal buah dan mulai matang muncul bunga baru,” sebutnya..

Sesuai pengalaman panen tahun sebelumnya dari sebanyak 500 batang bisa menghasilkan sekitar 50 kilogram buah jeruk segar setiap kali panen. Totalnya dapat mencapai 50 ton dengan perhitungan harga per kilogram Rp7.000 denga omset Rp350juta.

“Keuntungan digunakan untuk membayar modal pinjaman, dikurangi biaya produksi yang bisa mencapai 50 juta per hektare,” tambahnya.

 

Jeruk Siam
Kadeni, warga Dusun Solo Desa Tanjungsari Kecamatan Palas Lampung Selatan yang sukses menjadi petani jeruk Siam Banyuwangi setelah beralih dari usaha pembuatan batu bata [Foto: Henk Widi]
Meski bermodal nekat dan mendapat cibiran di awal usaha, berkat bertani buah jeruk siam Banyuwangi, Kadeni menyebut telah ikut memberi pekerjaan bagi warga sekitar.

“Selain sebagai tenaga kerja untuk proses perawatan, pemanenan, sebagian warga yang memiliki waktu luang bisa menjadi penjual jeruk. Saat ini ada 30 pedagang yang datang langsung untuk membeli,” terangnya.

Sementara itu, salah satu pedagang jeruk keliling, Suhar (39) menyebutkan, jeruk siam memiliki ciri khas sensasi rasa segar, kandungan air lebih banyak dengan kombinasi rasa asam segar.

Sebagai penjual jeruk dengan skala kecil Suhar mengaku tidak menyediakan stok banyak. Saat barang habis ia akan mengambil buah jeruk langsung di kebun.

“Petani kerap memberi bonus jeruk puluhan kilogram yang akan digunakan sebagai contoh untuk dicicipi pembeli,” tambahnya.

Suhar bahkan menyebut dengan harga jual kembali buah jeruk siam yang terjangkau berkisar Rp10.000 hingga Rp12.000 per kilogram banyak diminati. Buah jeruk lokal disebutnya lebih murah dibanding jeruk impor yang bisa seharga Rp20.000 hingga Rp25.000 per kilogram.

“Harga yang terjangkau membuat saya mampu menghabiskan 100 kilogram jeruk dalam sehari dengan berjualan hingga ke beberapa pelosok desa,” tambahnya.

Lihat juga...

Isi komentar yuk