Petani di Lampung Timur, Optimis Kembangkan Bawang Merah

1.318
Lahan bawang merah, ilustrasi-Dok: CDN
LAMPUNG TIMUR – Kabupaten Lampung Timur, memungkinkan menjadi sentra penghasil komoditas pertanian bawang merah, menyusul keberhasilan sejumlah petani di Kecamatan Batanghari dengan hasil panen bawang yang maksimal.
Kadis Pertanian Lampung Timur, Muhamad Yusuf, HR., mengatakan, secara geografis lahan pertanian di wilayah Lampung Timur cocok ditanami bawang merah dan sudah terbukti petani yang menanam berhasil panen.
“Secara geografis, bawang merah cocok di Lampung Timur, karena kita lihat sejauh ini bagus hasil panennya,” kata Yusuf.
Bahkan, kata Yusuf, menyusul keberhasilan petani di Batanghari menanam bawang merah, sudah ada sejumlah petani yang mendeklarasikan diri, bahwa Lampung Timur “kiblatnya” bawang merah, menggantikan Brebes-Jawa Tengah yang selama ini dikenal sebagai sentra bawang merah.
Menurut Yusuf, mencermati keberhasilan itu sekarang tergantung petani, apakah ada kemauan membudidayakan bawang atau tidak.
Meski secara gegorafis lahan pertanian di Lampung Timur cocok ditanami bawang merah, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur sejauh ini belum akan menjadikan tanaman bawang merah sebagai komoditas pertanian unggulan.
Pemerintah Kabupaten Lampung Timur masih sekadar menyarankan, agar tanaman bawang merah sebagai tanaman selingan sebagai tambahan pendapatan petani.
“Kita masih fokus pajale, tanaman padi, jagung dan kedele, karena kita sedang kejar swasemda nasional,” ujar dia.
Nanang Suparlan, petani bawang merah Desa Banjarrejo, Kecamatan Batanghari, saat dihubungi, mengatakan, tanaman bawang merah sudah sejak 2016 ditanam oleh petani di daerahnya.
Menurut dia, bawang merah terbukti cocok ditanam di lahan pertanian daerahnya.
Dia menyebutkan, sekarang banyak petani di wilayah Kecamatan Batanghari yang menanam bawang, baik secara berkelompok maupun sendiri.
Dia menerangkan pengalamannya melakoni budi daya bawang merah. Menurut dia, sangat mudah, mulai dari mendapat bibit dan perawatan, usia tanam dua bulan dan hasilnya memuaskan.
“Kemarin, seperempat hektare hasilnya 1,3 ton, itu bibit dua kuintal,” sebutnya.
Pemasaranya pun, kata Nanang, gampang karena setiap agen, pedagang di pasar dan di warung menerima.
Untuk harga jual, kata Nanang, cukup baik, dalam kondisi harga sedang turun seperti saat ini yang mencapai Rp12.000 per kilogram, petani pun masih kembali modal dan untung, meski sedikit.
“Harga bawang merah sekarang ini Rp12.000 di agen, warung dan pedagang, kalau diecer ke pembeli langsung Rp15.000. Harga ini masih untung, walau harga turun, tapi masih ada untung,” katanya.
Artinya, kata Nanang, jika harga bagus, keuntungan petani maksimal.
Dia meyakini, bawang merah tidak hanya cocok di wilayahnya, tapi di semua lahan pertanian lainya di Lampung Timur.
Nur Fauzan, anggota DPRD Lampung Timur dari Fraksi PKS berpandangan, sepanjang lahan pertanian Lampung Timur cocok, subur ditanami bawang merah dan hasilnya menguntungkan petani.
Ia berharap, budi daya tanaman hortikultura itu bisa diperluas oleh pemda ke daerah pertanian lainnya, tidak hanya di Batanghari.
“Saya sepakat dikembangkan ke daerah lainya, asal lahan cocok, subur dan hasilnya maksimal,” kata Nur Fauzan.
Nur Fauzan mengatakan, jika budi daya bawang merah dipromosikan oleh pemda agar ditanam para petani Lampung Timur sebagai komoditas pertanian yang menguntungkan.
Pemda mesti siap menyediakan akses kemudahan petani mendapatkan air, bibit, pupuk dan pasarnya.(Ant)
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.