Petani Jagung di Bantul Tunda Penjualan Hasil Panen

Editor: Koko Triarko

1.584
YOGYAKARTA – Sejumlah petani jagung di kabupaten Bantul, memilih tidak langsung menjual hasil panen mereka, dan memilih menahan dan menyimpan hasil panen jagung untuk dijual di saat waktu yang tepat.
Hal itu dilakukan para petani, lantaran anjloknya harga jagung di musim panen raya sekarang ini. Harga jagung saat ini hanya berkisar Rp3.000 per kilogram, berada di bawah standar yang biasanya mencapai Rp4.000.
“Rencananya akan saya simpan dulu. Menunggu harga jual bagus. Karena harganya saat ini sedang jatuh. Hanya sekitar Rp3.000 per kilo,” ungkap salah seorang petani jagung, Swartono, di Dusun Kaliasat, Gunturan, Triharjo, Pandak, Bantul, Kamis (/9/2018).
Swartono mengaku menanam jagung jenis Pionir di lahan miliknya seluas kurang lebih 1.000 meter persegi. Hasil panen pada musim tanam kali ini dikatakan cukup bagus. Yakni, mencapai sekitar lima-enam kuintal per 1.000 meter persegi.
“Untuk hasil panen sebenarnya cukup bagus. Tidak ada masalah seperti hama penyakit dan sebagainya. Hanya saja, memang harganya yang sedikit jatuh,” ungkapnya.
Di kawasan Bantul, terdapat dua macam jenis petani jagung, yakni petani swadaya dan petani yang bermitra dengan perusahaan benih atau pakan ternak. Petani swadaya menanam jagung di lahan mereka sendiri dengan modal sendiri, baik itu benih pupuk pestisida, dan sebagainya.
Sementara, petani yang bermitra dengan perusahaan/pabrik, hanya bermodal lahan dan tenaga. Mereka biasanya mendapatkan benih, pupuk maupun pestisida dari perusahaan, dan seluruh hasil panen nantinya akan diserap oleh perusahaan tersebut, dengan dipotong biaya benih pupuk, dan sebagainya.
“Sebenarnya ada keuntungan dan kerugian masing-masing. Petani yang bermitra dengan perusahaan, tidak perlu keluar modal banyak. Mereka cukup merawat saja. Hanya saja, harga jual hasil panen sudah ditentukan oleh pihak perusahaan,” ungkapnya.
Sementara itu, lanjut Swartono, petani swadaya menang dapat menahan untuk tidak menjual hasil panennya, tapi harus keluar modal banyak, seperti beli benih, pupuk dan lainnya.
“Apalagi, sekarang harga benih juga mahal, mencapai Rp60 ribu lebih per kepek,” ujarnya.
Pada musim kemarau seperti sekarang ini, para petani memilih menanam komoditas jagung, karena minimnya air. Selain minim perawatan, jagung juga dipilih karena dapat diambil batang atau pun daunnya sebagai pakan ternak. Selain bisa digunakan sendiri, batang dan daun jagung juga bisa dijual ke daerah-daerah pegunungan, seperti Gunung Kidul.
Baca Juga
Lihat juga...