Petani Lamsel Berbagi Air di Musim Kering

Editor: Koko Triarko

1.437
LAMPUNG – Berbagai upaya dilakukan petani untuk bisa menggarap sawah, saat musim kemarau melanda wilayah Lampung Selatan. Ratusan petani sawah di Kecamatan Penengahan, pun memanfaatkan pasokan air semaksimal mungkin dari Gunung Rajabasa.
Hamdan (38), petani padi sawah di Desa Tanjungheran, menyebut ada lima hamparan lahan sawah di wilayah tersebut. Saat musim kemarau, seluruh hamparan sawah milik petani bisa digarap. Sistem pembagian air oleh masing-masing kelompok tani, menjadi kunci semua petani bisa menggarap sawah tanpa kekurangan air.
Cara tersebut diakui Hamdan sudah turun-temurun dilakukan petani setempat, menyesuaikan aliran irigasi dari hulu ke hilir bersumber dari air terjun curug layang. Air terjun curug layang oleh warga dimanfaatkan untuk irigasi sawah meliputi Desa Tanjungheran, Desa Pisang.
Hasan, salah satu pemilik lahan di Desa Pisang, Kecamatan Penengahan, tepat di kaki Gunung Rajabasa, bisa panen saat musim kemarau [Foto: Henk Widi]
“Areal lahan sawah kami berada di bagian tengah, dengan petani belasan orang, dan luas lahan puluhan hektare, memasuki masa panen. Pada bagian atas sudah panen lebih dahulu, dan memasuki masa tanam,” terang Hamdan, salah satu petani di Desa Tanjungheran, saat ditemui Cendana News, Senin (3/9/2018).
Hamdan menyebut sejumlah petani di bagian atas saluran irigasi sudah menanam padi sejak April, bagian tengah pada Mei dan bagian bawah pada Juli.
Selisih waktu masa tanam tersebut dimanfaatkan petani untuk membagi penggunaan air yang sangat dibutuhkan pada masa pengolahan lahan, hingga pemupukan pertama pada usia 25 hari setelah tanam (HST).
Masa tanam ketiga (MT3), diakui Hamdan dengan kondisi kemarau masih bisa dimanfaatkan petani untuk menanam padi varietas Ciherang.
Sistem irigasi di lahan pertanian seluas lebih dari 500 hektare di wilayah tersebut, sebagian merupakan irigasi permanen dan alami. Saat hamparan sawah bagian hulu saluran irigasi mulai bisa menanam, saluran irigasi dengan bendungan batu dibuka dan dialirkan ke areal sawah bagian tengah.
Selanjutnya, air irigasi bisa dipergunakan pada bagian bawah untuk mengairi hamparan sawah milik petani lainnya.
“Areal sawah di kecamatan Penengahan, masih tergantung irigasi dari Gunung Rajabasa, saat kemarau debitnya menyusut sehingga perlu dilakukan pembagian air,” terang Hamdan.
Kearifan lokal masyarakat dalam pembagian air tersebut diakui Hamdan sudah dipertahankan puluhan tahun silam. Pola tanam bergantian untuk penggunaan air, tidak memerlukan petugas khusus, hanya kesepakatan tidak tertulis  yang sudah dijalankan oleh petani.
Imbas positifnya, ketika petani di bagian hulu sudah tidak terlalu membutuhkan air, maka air akan digunakan petani di bagian bawah sehingga semua petani bisa menggarap sawah dan panen.
Sistem tersebut, menurut Hamdan, berkaitan dengan pola bagi hasil yang dikenal ceblok. Sistem ceblok merupakan cara menanam padi oleh kaum wanita di Desa Tanjungheran, Desa Pisang, di mana penanam akan berhak memanen padi yang ditanam dan mendapat bagian dari pemilik.
Masa panen hamparan sawah di bagian atas yang lebih dahulu, kerap dimanfaatkan untuk stok kebutuhan sehari-hari, karena warga masih bisa memanen padi milik petani lain di hamparan sawah bagian bawah.
“Bagi warga yang tidak memiliki sawah, sistem ceblok menjadi tabungan, karena memiliki tanaman padi dari sistem bagi hasil panen padi,” cetus Hamdan.
Petani lain bernama Hasan (38), yang sudah memasuki masa panen mengatakan, sistem pembagian air yang teratur membuat semua lahan sawah bisa ditanami. Jika pengolahan lahan sawah dilakukan serentak, maka pemilik lahan sawah di bagian atas dipastikan tidak mendapat pasokan air. Ketika air irigasi sudah digunakan hingga waktu sesudah tanam, air bisa digunakan oleh petani lain secara bergiliran.
“Prinsip kearifan lokal kami di sini, semua warga membutuhkan beras, jika semua bisa menggarap sawah, maka kebutuhan beras akan terus terpenuhi,”beber Hasan.
Hasan yang memiliki lahan seluas satu hektare padi varietas Ciherang, mengaku bisa memanen enam ton gabah kering panen (GKP). Saat padi di bagian tengah aliran irigasi panen, hamparan padi di bagian bawah sudah memasuki masa padi berbulir dan bisa dipanen sebulan kemudian.
Sementara padi di bagian atas yang sudah panen lebih dahulu, sudah memasuki masa panen selama dua pekan. Keberadaan alat dan mesin pertanian (alsintan) jenis traktor membuat pengolahan lahan bisa lebih cepat.
Irigasi yang lancar dan sistem pembagian air secara bergiliran, diakui oleh Subandi (39) yang tengah mengalirkan air untuk sawahnya.
Ia menyebut, saat sebagian petani mulai panen, sebagian menunggu panen, areal sawah di bagian atas sebagian memasuki masa tanam, bahkan mulai menghijau.
Pembagian air saat musim kemarau dengan mengandalkan air Gunung Rajabasa juga menghindari petani berebut air untuk lahan sawah.
Pada lahan pertanian di Desa Tanjungheran dan Desa Pisang, Subandi menyebut, sebagian saluran irigasi dibiarkan masih alami. Bendungan terbuat dari batu kali masih tetap dipertahankan, meski sejumlah petani secara mandiri membuat saluran irigasi permanen untuk pembagian air.
Pembagian air yang diterapkan selama puluhan tahun membuat saat musim kemarau petani padi sawah masih bisa panen, meski daerah lain mengalami kekeringan.
Lihat juga...

Isi komentar yuk