Peternak di Kulonprogo Keluhkan Membanjirnya Telur Puyuh Luar Daerah

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

237

YOGYAKARTA — Sejumlah peternak ayam puyuh mengeluhkan masuknya produk dalam jumlah besar dari luar daerah ke wilayah Kulonprogo Yogyakarta. Mereka khawatir hal tersebut akan membuat harga di pasaran akan jatuh akibat persaingan harga.

Salah seorang peternak telur puyuh asal Ngulakan, Hargorejo, Kokap, Kulonprogo, Sarjiyo menyebutkan, harga telur puyuh di pasaran Kulonprogo saat ini mulai turun akibat masuknya produk dari luar daerah dengan harga jauh lebih rendah.

Harga telur puyuh dari peternak Kulonprogo yang dijual Rp22 ribu-Rp23 ribu per kilo, tersaingi dengan produk luar daerah yang dijual sekitar Rp20 ribu-Rp21 ribu per kilo.

“Saat ini saja harga jual sudah mulai turun akibat masuknya telur puyuh asal Surabaya. Harga pasaran dari peternak ke pengepul yang berkisar Rp21.500 per kilo sekarang sudah turun jadi Rp20.500 per kilo,” ungkapnya Senin (10/09/2018).

Salah seorang peternak asal Ngulakan, Hargorejo, Kokap, Kulonprogo, Sarjiyo. Foto: Jatmika H Kusmargana

Sarjiyo menyebut, pada bulan-bulan tertentu, peternak asal Jawa Timur dan Jawa Tengah memang kerap mengedrop produknya ke wilayah DIY dengan harga jauh lebih murah. Hal itu dikarenakan pasar di wilayah asal mulai turun, sehingga mereka mencari perluasan pasar untuk menjual produknya.

“Sebenarnya kualitas telur puyuh dari peternak Surabaya tidak sebagus dari peternak kita. Sehingga mereka berani jual murah. Rp180, per butir. Kalau disini kan rata-rata Rp260-270 per butir. Karena kualitasnya beda. Tapi masalahnya tidak semua konsumen tahu,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, banyaknya campuran pakan mengakibatkan kualitas telur puyuh dari luar daerah menurun. Ia mengklaim telur puyuh pasokan luar daerah akan mudah dekok saat direbus sehingga membentuk semacam cekungan. Hal itu otomatis akan mengurangi nilai jual telur puyuh itu sendiri.

“Kalau yang dari luar kan, kalau jatuh pecah. Kalau yang dari sini kan tidak. Paling hanya retak cangkangnya, tapi masih bisa tetap direbus,” ungkapnya.

Para peternak seperti Sarjiyo sendiri hanya bisa berharap agar masyarakat khususnya konsumen dapat membedakan kualitas telur puyuh dari setiap peternak. Sehingga tidak mudah terpengaruh dengan harga telur puyuh yang lebih rendah.

“Sebenarnya ini hanya akan berpengaruh pada penjualan di tingkat pengepul saja. Tapi untuk konsumen tetap kita, tidak akan banyak terpengaruh. Karena mereka sudah tahu kualitasnya,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...