Peternak Puyuh di Kulon Progo Belum Bisa Mandiri

Editor: Koko Triarko

1.513
YOGYAKARTA – Sejumlah peternak ayam puyuh di Kabupaten Kulon Progo, memilih bekerja sama dengan perusahaan untuk memasok kebutuhan bibit serta pakan ternak mereka. Hal itu dilakukan, karena peternak merasa kesulitan jika harus memenuhi kebutuhan bibit maupun pakan secara mandiri. 
Seperti dilakukan salah seorang peternak ayam puyuh di Dusun Ngulakan, Hargorejo, Kokap, Kulon Progo, Sarjiyo.
Ia memiliki sekitar 6.000 ekor ayam puyuh di kandangnya. Dalam sehari, mengaku membutuhkan sedikitnya tiga karung pakan ukuran 50 kilogram. Dengan harga Rp290.000 per karung, ia berarti harus mengeluarkan biaya pakan Rp870 ribu per hari.
Untuk menjaga produksi telur puyuh ternaknya, Sarjiyo juga mengaku harus mengganti sekitar 25 persen dari total jumlah ternaknya setiap 14 bulan sekali. Hal itu dimaksudkan untuk proses regenerasi ayam puyuh petelur, agar tetap dapat terus berproduksi secara berlanjut tanpa henti.
 “Hampir semua peternak ayam puyuh di sini, sekarang bekerja sama dengan perusahaan. Jadi, kebutuhan bibit dan pakan kita dipasok oleh perusahaan tersebut. Karena kalau kita mencari sendiri, kita tidak mampu. Ketersediaan bibit lokal tidak memenuhi. Kualitasnya juga kalah,” ungkapnya, Senin (10/9/2018).
Dijelaskan Sarjiyo, kualitas bibit lokal ayam puyuh yang disediakan peternak di luar perusahaan, saat ini masih minim. Sehingga tidak mungkin mencukupi untuk regenerasi setiap peternak. Selain itu, kualitas hasil bibit ayam puyuh juga akan semakin menurun dalam periode waktu tertentu.
“Kalau bibit dari peternak itu awalnya bagus, tapi lama-lama produksinya semakin turun drastis. Jadi, kita lebih pilih dari perusahaan. Selain itu, harganya juga tidak jauh beda. Dari perusahaan bibit kita ambil Rp1.800 per ekor. Jadi, cukup murah,” ungkapnya.
Keuntungan lain peternak bekerjasama dengan perusahaan, ialah adanya pemantauan secara rutin dari tim dokter. Sehingga, jika sewaktu-waktu terjadi serangan penyakit, peternak lebih mudah mengontrol, karena akan ada tim yang memantau dan membantu mengatasi penyakit yang muncul.
“Perusahaan juga siap menerima telur hasil produksi kita. Namun, jika kita ingin memasarkan sendiri juga bisa,” ungkapnya.
Dari sekitar 6.000 ekor ayam puyuh miliknya, Sarjiyo mengaku mampu menghasilkan sekitar 55-60 kilogram telur puyuh setiap harinya, dengan jumlah telur mencapai 4.500-5.000 butir. Satu biji telur ia jual dengan harga Rp260-270 per butir atau Rp22-23 ribu per kilogram.
“Hasil produksi telur biasa saya setor ke sejumlah tempat seperti Wates, Sentolo, bahkan hingga ke Wonosobo,” ungkapnya.
Selama enam tahun menjadi peternak ayam puyuh, Sarjiyo mengaku belum menemukan kendala berarti. Salah satu kendala hanya terkait besarnya modal yang harus dikeluarkan. Di samping juga persaingan harga dengan peternak dari luar daerah yang kerap memasok telur dengan harga lebih murah.
“Untuk penyakit, tidak terlalu menjadi kendala. Kita hanya waspada saja, khususnya untuk penyakit flu burung dan ND,” jelasnya.
Selain mendapatkan pemasukan dari telur yang dihasilkan, peternak juga masih mendapatkan tambahan dari hasil menjual limbah kotoran. Satu karung kotoran telur puyuh, biasa dijual Rp15 ribu per kantong. Termasuk juga tambahan pendapatan dari hasil menjual ayam puyuh pekiran seharga Rp4.900 per ekor.
“Kita juga memiliki kelompok. Sehingga bisa membantu menjaga standar harga. Termasuk meminjami modal, jika anggota butuh tambahan modal,” pungkasnya.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.