Pilpres Jangan Terjebak Kondisi Tidak Beradab

Editor: Mahadeva WS

137

JAKARTA – Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) menghimbau, Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legeslatif (Pileg) 2019,  jangan terjebak dalam kondisi yang tidak beradab.

Sekertaris Wantim MUI, Noor Ahmad mengatakan, untuk menghadapi ancaman perpecahan bangsa, diperlukan persatuan, kesatuan dan kebersamaan seluruh elemen bangsa. Khususnya persatuan dan kesatuan umat Islam, dengan mengedepankan ukhuwah islamiah, menahan diri dan tidak menebar kebencian.

“Kita harus menjadikan pemilu sebagai sarana beradab untuk mengatasi ketidakadaban. Maka Pilpres dan Pileg jangan terjebak kepada ketidakadaban,” kata Noor pada Rapat Pleno ke 31 Wantim MUI bertajuk “Ancaman Terhadap Bangsa: Sikap Umat Islam” di kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (26/9/2018).

Segenap ormas Islam telah mengamati dengan cermat, perkembangan kehidupan kebangsaan dan keumatan. Hasilnya, sangatlah disadari adanya ancaman terhadap bangsa dan negara. Berbagai ancaman tersebut seperti, merajalela dan merebak berpentrasi ke dalam tubuh bangsa, berupa pikiran dan ideologi-ideologi yang bertentangan secara diametral, dengan agama dan falsafah bangsa Pancasila.

Ideologi berbahaya tersebut diantaranya, komunisme yang anti Tuhan. Ideologi yang terakhir ini, mengemuka secara leluasa dalam kehidupan bangsa yang menjelma atau termanifestasi. Adapun ancaman lainnya adalah liberalisme, paham kebebasan yang sesungguhnya sangat bertentangan dengan agama yang merasuki berbagai aspek kehidupan bangsa, baik polilitik, ekonomi, sosial dan budaya di Indonesia.

Radikalisme yang ekstrim, baik atas dasar paham keagamaan maupun kepentingan ekonomi bisnis dan kepentingan politik, juga perlu diwaspadai. Wantim MUI sangat menyayangkan, adanya sikap pembiaran dan pengabaian terhadap isme-isme yang ditampilkan oleh masyarakat, maupun penyelenggara negara baik legislatif maupun eksekutif.

Namun demikian, ancaman paling berbahaya adalah adanya deviasi, distorsi, dan disorientasi kehidupan nasional, dari nilai-niai dasar Pancasila dan UUD 1945. Terutama dalam kehidupan sosial-politik, kehidupan sosial-ekonomi, dan sosial-budaya. “Karena Pancasila hanya banyak diucapkan, tapi tidak banyak diterapkan dalam kehidupan,” ujarnya.

Wantim MUI berpendapat, ancaman terhadap bangsa, sebagai ancaman bagi umat Islam. Ancaman terhadap umat Islam dan Islam, sesungguhnya adalah ancaman terhadap eksistensi terhadap Bangsa Indonesia.  Dengan demikian, Wantim MUI menyerukan, umat Islam untuk menunjukkan tanggungjawabnya mengawal dan siap menghadapi ancaman terhadap bangsa tersebut.

Begitu pula terhadap seluruh elemen bangsa, untuk memahami peran dan posisi umat Islam. “Maka tidak tepat jika umat Islam terpinggirkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...