Polda Bali Nyatakan Perang terhadap Narkoba dan Premanisme

Editor: Satmoko Budi Santoso

377

DENPASAR – Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Bali, Irjen Pol. Petrus R. Golose mengatakan,  Provinsi Bali rentan terhadap peredaran narkoba. Pulau ini sering dijadikan jalur keluar masuknya peredaran narkoba.

Menurut data yang dimiliki Polda Bali, jumlah kasus narkoba dari tahun 2016 hingga 2018 tercatat ratusan orang terlibat dalam kasus haram tersebut baik sebagai pengguna maupun pengedar.

“Tahun 2016 terdapat 925 kasus dari data itu tercatat, dimana 342 merupakan orang dari luar Bali, 13 orang merupakan warga negara asing. 652 orang merupakan dari Bali. Sementara di tahun 2017 terdapat 872 kasus. Dari data tersebut diketahui ada 353 orang luar Bali, 24 orang WNA dan 588 orang merupakan asli orang Bali. Untuk di tahun 2018 tepatnya dari Januari hingga Agustus tercatat ada 679 kasus, 262 orang dari luar Bali, 15 orang WNA dan 503 orang asli Bali,” ucap Irjen Pol. Petrus R. Golose saat mendeklarasikan perang melawan premanisme dan peredaran narkoba bersama 12.000 orang masyarakat di Pulau Bali di Lapangan Bajra Sandhi Renon Denpasar, Sabtu (1/9/2018), sore.

Suasana deklarasi perang melawan premanisme dan peredaran narkoba oleh Polda Bali bersama 12.000 orang masyarakat di Pulau Bali di Lapangan Bajra Sandhi Renon Denpasar, Sabtu (1/9/2018) sore.-Foto: Sultan Anshori.

Menurut Golose, dari fakta-fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa hampir 70 persen pelaku kejahatan narkoba di Pulau Bali merupakan asli orang Bali. Hal ini tentu sangat memprihatinkan, masih banyak orang Bali yang menjadi kurir narkoba dan drugs dealer.

Melalui deklarasi ini, pihaknya menyampaikan bahwa Polda Bali akan menindak tegas segala bentuk penyalahgunaan narkoba, karena merupakan kejahatan transnasional dan kejahatan terorganisir. Termasuk bagi anggota Polri yang berada di jajaran Polda Bali, jika ada yang diketahui terlibat dalam praktik haram tersebut akan langsung dipecat menjadi polisi.

“Hal ini saya lakukan untuk untuk meminimalisir peredaran narkoba. Saya akui saya memang cinta terhadap anak buah saya. Akan tetapi saya lebih cinta kepada masyarakat Bali yang mau hidup tidak menggunakan narkoba. Jadi jangan coba-coba untuk bermain narkoba di Pulau Bali,” kata Jenderal berbintang dua asal Manado ini.

Selain kasus narkoba, hal yang menjadi perhatian khusus jajaran Polda Bali adalah masalah premanisme. Diketahui sejak tahun 2017 hingga 2018 Polda Bali dan jajaran Polres di seluruh Bali sudah menangani kasus premanisme sebanyak 205 kasus dengan 803 orang tersangka yang didominasi kasus pungli, pengancaman, kekerasan dan lain-lain kepada masyarakat kecil. Sejatinya masyarakat kecil harus dilindungi.

“Premanisme di Bali masih sangat meresahkan dan mengganggu kehidupan masyarakat. Walaupun saya bisa katakan mereka sebenarnya adalah para pengecut yang berlindung di balik kode. Oleh karena itu, sampaikan salam Kapolda kepada para pengecut itu. Saya tidak mau masyarakat kecil diganggu oleh orang yang mengatasnamakan organisasi apa pun itu,” tukasnya.

Untuk itu pemberantasan premanisme atau preman yang berkedok masyarakat harus dilakukan dan tidak boleh dalam bentuk apa pun di Bali. Namun, dalam pemberantasan penyakit masyarakat, diperlukan kerja sama dengan semua pihak termasuk dengan desa adat. Bahkan jika perlu para preman itu juga dikenakan sanksi adat berupa kasepekang atau diusir dari kampung.

“Oleh karena itu saya tidak akan mentolerir aksi premanisme dalam bentuk apa pun. Ini juga diperlukan peran serta semua pihak. Jangan pernah takut. Kami Polda Bali ada di belakang masyarakat,” pungkas Golose.

Acara deklarasi perang melawan premanisme dan peredaran narkoba bersama 12.000 orang masyarakat di Pulau Bali. Mereka mengemukakan yel yel Preman, Narkoba, No Way!

Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama untuk memberantas narkoba dan preman di Bali oleh tokoh masyarakat setempat.

Baca Juga
Lihat juga...