Pos Parkir

CERPEN FANDY HUTARI

380

KOPI di cangkir sudah hampir habis. Ampasnya sudah terlihat, dan menempel di pinggiran dalam cangkir berwarna putih susu. Rokok yang ia isap, tinggal separuh. Sedari tadi, ia melamun di teras rumah, duduk di bale-bale. Tetangganya, menyetel musik dangdut, dan bersenandung sendiri.

“Biasanya tak pakai minyak wangi. Biasanya tak suka begitu. Saya cemburu, saya curiga. Takutnya ada main di sana. Solali lali, ola ola la…”

Angin pagi yang mendesis, mengempaskan abu rokok di dalam asbak. Rokok itu ia lumat ke dasar asbak. Baranya masih tersisa di asbak. Asapnya mengepul. Lantas, pantatnya ia angkat, dan beranjak ke dalam rumah. Saat melintasi kamar, ia menyingkap tirai pintu kamarnya. Ia mendapati istrinya yang sedang berdoa sehabis sembahyang duha.

“Ya Allah, berikan rezeki berlimpah kepada keluarga kami.”

Ia lantas mengambil handuk dari atas dipan kamarnya. Bergegas mandi. Anto, anak semata wayang mereka sedari kemarin masih merajuk. Anaknya yang baru berusia tujuh tahun itu merengek minta dibelikan mobil-mobilan remote control.

Ia berjalan melintasi anaknya yang duduk di kursi ruang tengah. Lalu, mengusap rambut anaknya itu.

Baca Juga

Ndaru

“Sabar ya, Nak…” katanya pelan.

Sehabis mandi dan berpakaian, ia kemudian pamit kepada istrinya. Istrinya mencium tangan kanannya.

“Hati-hati di jalan, Pak,” kata istrinya.

Ia mencium kening istrinya, lalu mencium rambut anaknya yang masih cemberut itu. Pergi keluar rumah. Tak lupa memberikan salam.
***
SEHARI-HARI, pos parkir bercat krem yang di setiap sisinya dilapisi kaca bening berteralis itu menjadi ladangnya untuk mencari nafkah. Pos parkir itu letaknya persis di gerbang masuk Taman Raden Saleh. Sebuah tempat orang-orang berkesenian, berkuliah, dan menikmati segala acara seni dan budaya.

Ia selalu sibuk luar biasa jika akhir pekan tiba. Biasanya, di pusat kebudayaan itu berlangsung pameran seni rupa atau pertunjukan teater. Hiruk pikuk kendaraan selalu ia ladeni. Menerima uang parkir, dan memberikan karcis kepada para pengunjung yang datang.

Beberapa orang ada pula yang ngeluyur masuk tanpa membayar. Tapi, ia tak pernah menegurnya. Ribuan wajah sudah ia pernah sapa di sini. Wajah-wajah yang berlalu begitu saja, hanya membayar dan menerima kertas karcis.

Di pos parkir itu, ia bekerja selama delapan jam dengan sistem shift. Duduk di sebuah kursi kayu yang sudah reot. Tak terasa, sudah lima tahun profesi ini ia jalani, dengan upah yang cukup untuk membeli beras dua kepala di rumahnya.

Terkadang, ia membeli mainan untuk Anto, anak semata wayangnya yang ia doakan menjadi Gubernur DKI Jakarta suatu saat nanti.

Namun, tiga hari lalu, segalanya berubah. Pak Nanang tiba-tiba datang menghampirinya siang itu.

“Yasin, bisa kita bicara sebentar?” kata Pak Nanang.

Pria berkepala plontos itu adalah koordinator parkir yang mengurus segala uang retribusi dan sistem kerja para pekerja parkir di komplek Taman Raden Saleh. Biasanya, Pak Nanang menghampirinya jika hari gajian tiba, setiap akhir bulan.

Ia tercenung.

Pak Nanang mengajaknya bicara di sebuah warung makan sederhana di dalam kompleks Taman Raden Saleh. Ia masih membisu. Di dalam kepalanya berkecamuk segala pertanyaan. Apa sebab Pak Nanang mengajaknya berbicara, padahal itu bukan hari saat dirinya menerima gaji. Tak biasa.

Matanya memandang sekeliling. Orang-orang di warung makan itu saling tak acuh. Mereka asyik memendamkan diri masing-masing ke dalam gawai di tangan. Ada beberapa yang berdiskusi. Ada pula yang menyantap makanan dengan lahap.

Anak-anak para penjaja tisu masih menawari tisu yang dijinjingnya di atas keranjang kepada para pengunjung warung makan.

Lalu, keheningan pun pecah.

“Yasin, kita mau adakan perubahan soal parkir,” kata Pak Nanang mengawali pembicaraan.

“Soal apa, Pak?”

Ada jeda ketika ia melepaskan kalimat itu. Terbit senyum kecil di bibir Pak Nanang. Ia menghela napas panjang. Panjang sekali.

“Saya nggak bisa berbuat apa-apa. Ini sudah perintah dari atasan. Kami akan membuat mesin parkir otomatis. Jadi, kamu akan dirumahkan. Hari ini kamu terakhir. Sebab esok, segalanya dikerjakan mesin otomatis buatan Jepang itu. Kami hanya membutuhkan satu petugas karcis saja di gerbang keluar.”

Tentu saja penjelasan itu membuat hatinya gusar. Ia kembali menarik napas sangat panjang. Sebatang rokok ia keluarkan dari saku seragamnya. Sekadar untuk meredakan perasaannya yang kalut. Lalu ia sulut. Kecut. Satu per satu kancing seragamnya ia buka.

Kemudian, ia serahkan kepada Pak Nanang yang duduk persis di hadapannya, tanpa berkata apa-apa lagi. Pak Nanang hanya tersenyum kecil. Seperti tak ada dosa yang hinggap di hatinya.

Hujan runtuh dari langit. Hentakan halilintar seakan menggambarkan suasana hatinya.
Ada pesan pendek yang hinggap di telepon selulernya. Ia membuka, dan membaca. Dari istrinya di rumah.

“Sayang, nanti pulang kerja belikan Anto mobil-mobilan remote control ya. Kasihan dari kemarin dia merengek minta dibelikan.”

Ia tak menjawab pesan pendek dari istrinya. Ponsel ia matikan. Hendak ia banting.

Sebenarnya, ia sudah curiga sejak seminggu lalu, ketika mesin parkir berbentuk kotak itu dibawa menggunakan mobil pick up. Lantas, keesokan harinya, mesin tersebut dipacak persis di depan pos parkir yang biasa ia jaga.

Sehari sebelum Pak Nanang memutuskan kontrak kerjanya, ia menyaksikan mesin itu bisa berbicara.

“Selamat datang. Silakan ambil struk parkir Anda. Terima kasih,” lantas plang terbuka. Saat itu, mesin tersebut masih dicoba oleh dua orang teknisi.

Tak disangka, petaka itu pun terjadi. Ia dipecat, dan hari-harinya akan diisi oleh kegusaran hati untuk menafkahi keluarganya di rumah. Menganggur. Meninggalkan pos parkir yang sudah dijaganya sejak lima tahun silam.

Kekuasaan teknologi tak bisa dilawan. Arus zaman sudah berubah. Manusia digantikan mesin. Kenyataan itu sudah ia dapati di beberapa pusat perbelanjaan. Mereka lebih memilih kerja mesin dibandingkan manusia yang harus menggaji setiap bulan.
***
MALAM merambat dengan cepat. Para pedagang kaki lima sudah berjejer di pinggiran jalan, depan komplek Taman Raden Saleh. Ia masih duduk termenung di tangga pelataran Taman Raden Saleh. Mendapati anak-anak penjual tisu, yang mengiba minta dibeli.

“Pak, tisunya Pak…” ujar salah seorang anak penjaja tisu, yang kurus dan kucal.

Ia meninggalkan mereka, setelah menolak membeli tisu. Lalu berjalan ke arah pos parkir yang kini kosong melompong. Sebuah sepeda motor berhenti persis di sebelah mesin parkir otomatis itu. Pengendaranya menekan tombol berwarna hijau.

“Selamat datang. Silakan ambil struk parkir Anda. Terima kasih.”

Plang terbuka. Sepeda motor itu pun melaju ke dalam komplek Taman Raden Saleh. Ia berjalan menghampiri mesin kotak berwarna biru itu. Langkahnya gontai.

“Mesin sialan!” hardiknya.

Kakinya lantas menendang mesin tersebut. Ia berjingkrak-jingkrak kesakitan, sembari memegangi kaki kanannya. Setelah puas sumpah serapah, ia bergegas pulang.

Sudah tiga hari ini ia berbohong kepada istrinya, pamit berangkat ke tempat kerjanya, sebuah pos parkir Taman Raden Saleh. Dan, entah berapa kali lagi ia mesti berbohong kepada istrinya. Berbohong jika ia masih bekerja sebagai penjaga karcis parkir di pos yang kini tak berpenghuni itu.

Seharusnya, hari ini ia pulang membawa amplop gaji. Tapi, tak ada lagi amplop yang diterimanya. Ia bingung, bagaimana nanti di rumah jika istrinya menanyakan soal uang belanja, dan uang untuk membelikan mobil-mobilan remote control untuk anak mereka.

Ia pulang dengan langkah gontai. Membuang rokoknya yang sudah habis. Hatinya disayat sembilu dan rasa bersalah. Tapi, takdir tak bisa dielak. Semua sudah kehendak Yang Maha Esa.
Ia berjakan melintasi rumah tetangganya yang masih menyetel lagu dangdut, sembari bersenandung sendiri.

“Biasanya tak pakai minyak rambut. Biasanya tak seperti itu. Saya gelisah, tak enak hati. Takutnya ada cinta yang lain. Solali lali, ola ola la….”

“Pulang, Mas. Gajian nih ye,” tegur tetangganya yang bertelanjang dada dari teras rumahnya.

Ia tak membalas teguran tetangganya itu. Kakinya masih melangkah. Ia masuk ke rumah tanpa salam. Menyingkap tirai pintu kamarnya. Ia mendapati istrinya berdoa sehabis sembahyang Isya.

“Ya Allah, berikanlah keluarga hamba rezeki yang berlimpah.”

Lantas, ia keluar kamar setelah melepaskan kemeja kumalnya. Mengambil handuk dari atas dipan. Menuju kamar mandi. Anaknya sudah tak merajuk. Dengan mata kepalanya sendiri, ia mendapati anaknya sedang bermain mobil-mobilan yang terbuat dari segepok karcis parkir.

Ia menangis. Terisak. ***

Palmerah Barat, Jakarta.

Fandy Hutari adalah penulis lepas. Sejumlah buku kajian sejarah telah ia terbitkan. Tinggal di Jakarta.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com

Lihat juga...

Isi komentar yuk