Posdaya Utama, Garda Depan Hidupkan Perekonomian

Editor: Satmoko Budi Santoso

131
Ketua Posdaya Utama Aidil Adhari/Foto: M. Noli Hendra

PADANG – Tak bisa dipungkiri kebanyakan ibu rumah tangga sibuk dengan urusan rumah tangganya. Sehingga tidak sempat melakukan hal alternatif yang bisa mendatangkan manfaat guna memenuhi kebutuhan keluarga.

Seperti halnya usaha rumahan. Hal ini dinilai merupakan solusi bagi ibu rumah tangga untuk dapat menjalankan usaha, tanpa harus meninggalkan rumah dan meninggalkan tanggungjawab sebagai seorang ibu rumah tangga. Maka, peran Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang di dalamnya memiliki 4 pilar menjadi penting. Pilar tersebut di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan ekonomi.

Menumbuhkan ekonomi masyarakat, Posdaya memiliki peran memberikan bantuan permodalan usaha dengan sasaran keluarga yang tergolong kurang mampu. Hal inilah yang dilakukan  Posdaya Utama yang ada di Parak Laweh, Kecamatan Lubuk Begalung, Padang, Sumatera Barat.

Ketua Posdaya Utama, Aidil Adhari, mengatakan, semenjak hadirnya Posdaya Utama di Kecamatan Lubuk Begalung yakni pada tahun 2014 lalu, masyarakat yang telah mendapatkan pinjaman modal usaha itu mencapai 300 orang.

Namun seiring waktu berlalu, hingga bulan ini di tahun 2018, masyarakat yang masih berjalan usahanya dengan mendapatkan pinjaman modal menurun menjadi 119 orang.

“Pinjaman modal usaha itu dari Tabur Puja. Kenapa menurun hingga sekarang, karena setelah usaha yang dijalani mulai berkembang dan mandiri dalam permodalan, banyak yang berhenti mengajukan pinjaman lanjutan. Sementara juga banyak pengajuan pinjaman baru, artinya usaha baru mulai bermunculan,” katanya, Rabu (26/9/2018).

Ia melihat, keberadaan Posdaya melalui pinjaman modal usaha dari Tabur Puja, telah menggairahkan usaha rakyat yang pada umumnya adalah masyarakat kurang mampu. Terlihat munculnya warung-warung kalontong kecil di halaman rumah dan juga di lingkungan sekolah.

Salah satu usaha keripik ubi singkong anggota Posdaya di Padang. Ini merupakan proses penjemuran ubi singkong/Foto: M. Noli Hendra

Selain terlihat pertumbuhan warung kalontong, usaha lainnya seperti menjual pulsa seluler dan token listrik juga tumbuh. Usaha-usaha yang demikian dinilai usaha yang mudah dijalani dan tidak mengganggu tanggungjawab seorang ibu rumah tangga.

“Setidaknya dengan adanya usaha kecil-kecilan itu, dapat membantu pemasukan ekonomi keluarga yang sebagian besar diusahakan oleh sang suami,” ujarnya.

Ia menjelaskan, meski hanya usaha yang muncul terbilang skala kecil, namun dampaknya sangat dirasakan oleh masyarakat. Karena dari sebelumnya hanya menghabiskan waktu mengurus keluarga, dengan adanya Tabur Puja, telah memberikan perbaikan ekonomi keluarga.

Kecilnya usaha awal yang dijalani, karena usaha itu dilakukan oleh orang-orang yang dasar ilmunya bukanlah pengusaha. Tapi merupakan keluarga kurang mampu yang tengah berjuang  memperbaiki ekonomi keluarga.

“Di Tabur Puja, pinjaman modal usaha Rp2 juta, dari jumlah itulah dikembangkan menjadi usaha baru. Di dalam menjalankan usaha, Tabur Puja turut membina anggota. Artinya, harapan yang diinginkan ialah mengentaskan kemiskinan,” tegasnya.

Ai menyebutkan, ke depan Posdaya akan terus menjangkau keluarga kurang mampu untuk bisa mengangkat golongan sosial dari keluarga prasejahtera, menjadi keluarga sejahtera. Caranya, memberikan kesempatan pinjaman modal usaha, yang benar-benar untuk keluarga kurang mampu.

“Harapan ke depan, tidak ada lagi persoalan lemahnya ekonomi bagi kalangan masyarakat. Posdaya akan terus berupaya memberikan manfaat bagi masyarakat,” ucapnya.

 

Baca Juga
Lihat juga...