Potensi Besar Budi Daya Ikan Gabus Belum Banyak Diminati

Editor: Koko Triarko

381
YOGYAKARTA – Usaha budi daya ikan gabus atau sering disebut ikan Kuthuk hingga saat ini belum dimanfaatkan maksimal oleh para peternak. Padahal, permintaan pasar terhadap ikan lokal ini semakin hari semakin tinggi, karena khasiatnya yang bisa digunakan sebagai obat. 
Masih banyaknya suplai ikan dari hasil tangkapan alam, serta belum masuknya budi daya ikan gabus dalam program pemerintah, dinilai menjadi faktor masih minimnya peternak melirik usaha budi daya ikan predator ini. Padahal, jika mulai dikembangkan, usaha budi daya ikan gabus memiliki peluang yang sangat menjanjikan.
Rohadi, peternak ikan gabus di Desa Banyuraden, Gamping, Sleman, mengaku tertarik mengembangkan usaha budi daya ikan gabus, lantaran ikan ini memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Harga satu kilogram ikan gabus di pasaran bisa mencapai Rp50-60.000, atau hampir tiga kali lipat dari ikan lele atau nila.
Pelaku usaha budidaya ikan gabus, Rohadi -Foto: Jatmika H Kusmargana
“Selain itu, budi daya ikan gabus saat ini juga masih sangat jarang. Di Jogja ini saja mungkin hanya asa satu-dua saja. Bisa dihitung. Karena itu, saya ingin mencoba mengembangkan,” ujarnya, saat ditemui baru-baru ini.
Karena keterbatasan lahan, Rohadi masih fokus mengembangkan usaha budi daya ikan gabus untuk pembibitan. Ia biasa membeli bibit atau anakan ikan untuk kemudian dibesarkan, dan dijual dalam bentuk bibit dengan ukuran yang lebih besar.
“Saya biasanya ambil bibit berupa larva ikan. Biasanya per tetasan bisa menetas sekitar 1.000-2.000 ekor. Harganya Rp50-60.000,” katanya.
Setelah dipelihara dalam kolam-kolam kecil dan dilatih agar dapat makan pelet, Rohadi kemudian melepas kembali bibit ikan tersebut ke pasaran. Ada sejumlah ukuran bibit yang dijual mulai dari ukuran 3-5 cm, dengan usia 40-60 hari seharga Rp600 per ekor. Lalu, ada ukuran 3-4 cm dengan harga jual Rp450 per ekor. Hingga ukuran 4-6 cm, 5-7 cm dan 7-9cm dengan harga bervariasi.
“Biasanya, bibit ikan ini saya jual  ke sekitar Jawa Tengah, seperti di Rembang, Bojonegoro, Magelang, dan banyak lagi. Karena kalau di Jogja belum banyak peternak yang membudidayakan ikan gabus. Rata-rata dalam sebulan saya bisa jual 4.000 ekor, tapi kalau sedang musim kemarau hanya sekitar 2.000 ekor,” ungkapnya.
Menggunakan kolam model semen, Rohadi menjelaskan, bahwa untuk pembibitan ikan gabus, ukuran kolam tidak perlu terlalu besar, agar memudahkan pengontrolan. Cukup sekitar 1 x 1 meterpersegi, dengan tinggi muka air sekitar 20 cm. Sebaiknya di atas kolam ditempatkan jaring, agar ikan tidak melompat. Karena ikan gabus termasuk ikan predator yang memiliki kebiasaan melompat.
“Saat ikan masih di bawah usia dua bulan, biasanya saya kasih makan berupa kutu air dan cacing sutra. Sambil dilatih makan pelet. Setelah mampu makan pelet, ikan sudah siap untuk dijual sebagai bibit,” katanya.
Baca Juga
Lihat juga...