Presiden Soeharto Sukses Kembangkan Diversifikasi Pangan

Editor: Mahadeva WS

324
Penulis buku "Soeharto : Ketahanan Pangan Dalam Pembangunan Nasional", Koos Arumdanie. Foto : Sri Sugiarti

JAKARTA – Ketahanan pangan, menjadi faktor sangat penting bagi Indonesia. Hal tersebutlah yang mendorong Presiden Soeharto menjadikan ketahanan pangan salah satu yang mendapatkan fokus perhatian. Diversifikasi pangan merupakan program yang menjadi andalan dari Pak Harto.

Apa yang dilakukan Pak Harto tersebut, dinilai Wartawan senior, Koos Arumdanie, masih sangat layak untuk dilakukan di Indonesia masa kini. Apalagi sekarang ini penduduk Indonesia, jumlahnya jauh lebih banyak dari zaman Orde Baru (Orba), sehingga kebutuhan pangan semakin meningkat.

“Nah, diversifikasi pangan itu sudah dilakukan Pak Harto, dari buah, sayur mayur, dan kebiasaan secara kultural. Yang biasa makan singkong, nggak usah dipaksakan mengkonsumsi beras. Ya sudah, makan singkong saja,” kata Koos kepada Cendana News, usai peluncuran buku “Soeharto: Ketahanan Pangan Dalam Pembangunan Nasional”, Kamis (6/9/2018).

Orang Maluku, yang terbiasa mengkonsumsi sagu, disebutnya harus dibiarkan untuk mengkonsumsi sagu. Tidak harus dipaksakan untuk memakan nasi, konsep diversifikasi pangan tersebutlah yang diterapkan Pak Harto. Pak Harto di istana negara disebutnya, mempopulerkan daging kelinci. Di Yogyakarta, tepatnya di daerah Kaliurang, daging kelinci menjadi makanan favorit masyarakat. “Jadi, Pak Harto itu mengembangkan diversifikasi pangan masyarakat Indonesia, karena produksi beras itu selalu terbatas,” tandasnya.

Koos menyayangkan, pemerintah sekarang memilih kebijakan impor beras. Dan Presiden Joko Widodo tidak menggaungkan diversifikasi pangan secara riil.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.