Produksi Benih Gurami di UKBAT Tak Berjalan Maksimal

Editor: Mahadeva WS

67
Salah satu kolam indukan yang dimiliki UKBAT Sendangsari Pengasih Kulonprogo - Foto: Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA – Sampai saat ini, ikan air tawar gurami, masih menjadi primadona bagi masyarakat untuk dikonsumsi. Banyak peternak di DIY, memilih gurami sebagai usaha ternak mereka. 

Sayangnya, dengan tingkat kesulitan budidaya yang cukup tinggi, tak banyak peternak mampu menangkarkan ikan gurami. Pasokan benih ikan gurami ke peternak DIY, sampai saat ini masih didominasi dari luar daerah, seperti Purwokerto.

Pemerintah DIY, melalui Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD), Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya (BPTPB), Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UKBAT) Sendangsari, Pengasih, Kulunprogo, sebenarnya sudah mampu memproduksi benih gurami untuk memenuhi kebutuhan peternak.

Salah seorang pengelola UKBAT Sendangsari Pengasih Joko – Foto: Jatmika H Kusmargana

Sayangnya, sejumlah keterbatasan serta berbagai kendala yang ada, mengakibatkan produksi benih ikan gurami yang dihasilkan saat ini masih belum maksimal.  “Kita memang menjadi satu-satunya unit pemerinyah yang menghasilkan bibit gurami. Walaupun belum mampu memenuhi kebutuhan yang ada, namun paling tidak kita bisa mengurangi ketergantungan peternak pada bibit dari luar daerah,” ujar pengelola UKBAT Sendangsari, Joko, Senin (10/9/2018).

Sejumlah persolan yang dihadapi seperti, ketersediaan suplai air untuk proses budidaya, kurangnya sarana prasarana pendukung, hingga minimnya jumlah tenaga kerja yang dimiliki, menjadi hambatan UKBAT Sendangsari untuk memproduksi benih ikan gurami.

Joko menyebut, dengan luas lahan mencapai 2,5 hektar, UKBAT Sendangsari hanya memiliki sembilan tenaga, yang terdiri dari lima pegawai dan empat tenaga harian. Dua dari lima pegawai yang ada saat ini, bahkan telah memasuki masa pensiun di tahun ini, sehingga harus segera diganti.

Kegiatan tersebut, juga hanya mengandalkan suplai air kolam dari aliran irigasi. Sehingga, setiap tahun UKBAT Sendangsari harus menghentikan produksi bibitnya akibat kekeringan. Setiap musim kemarau, suplai air dari aliran irigasi dipastikan mengering beberapa bulan, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan proses produksi. “Padahal dalam budidaya ikan, air menjadi kuncinya. Jika pasokan air tidak tersedia tentu akan menurunkan proses produksi,” ungkapnya.

Memiliki kolam seluas 1,7 hektar, UKBAT Sendangsari melakukan budidaya ikan gurami dengan sistem pemijahan alami. Empat ekor indukan ditempatlan dalam kolam berukuran 20 meter persegi, dengan kedalaman minimal 80 sentimeter. Ikan indukan kemudian dibiarkan bertelur dengan cara disediakan sarang berupa ijuk. “Satu kilogram bobot ikan indukan, biasanya akan menghasilkan 1.500 butir telur. Satu bibit ikan sendiri kita jual bervariasi tergantung ukuran. Mulai dari Rp1.000, untuk bibit ukuran tujuh sentimeter hingga Rp 450 ribu untuk satu peket indukan isi empat indukan,” katanya.

Selain memenuhi kebutuhan benih ikan gurami untuk peternak di Kulonprogo, UKBAT Sendangsari juga telah memasok benih maupun indukan gurami ke sejumlah peternak di luar daerah, seperti Purworejo dan Klaten Jawa tengah. “Rata-rata kita bisa memproduksi sekitar 700.000 bibit dan 50 paket indukan setiap tahunnya. Jumlah itu hanya sekitar 70 persen dari target yang ditetapkan. Itu terjadi karena sejumlah kendala yang ada,” pungkasnya.

Lihat juga...

Isi komentar yuk