Purwacaraka, Sang Komponis Handal: Hidup Harus Seimbang

Editor: Makmun Hidayat

291
Purwacaraka - Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA — Purwacaraka termasuk salah seorang musikus dan komponis handal yang begitu aktif dalam berbagai pertunjukan musik.

Karya-karya musiknya dalam bentuk ciptaan lagu dan ilustrasi sering menghiasi film dan sinetron. Seperti di antaranya, ilustrasi musik pada sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang sampai sekarang masih dikenang banyak penggemarnya.

Kali ini, ia menjadi penata musik Opera Ainun. Sebuah opera yang berkisah tentang cinta dari Presiden RI ke-3, BJ Habibie, dengan istrinya, Ainun, ini dipentaskan di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 15-16 September 2018.

“Pertunjukan Opera Ainun dipentaskan dua hari berulang-ulang, saya sebagai penata musik yang tentu membutuhkan daya tahan, fisik dan mental,” kata Purwacaraka Cendana News di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (15/9/2018) malam.

Sebagai konduktor, lelaki kelahiran Beograd, Yugoslavia, 31 Maret 1960, itu membeberkan kakinya harus kuat untuk berdiri dan tangannya harus kuat selama pertunjukan opera berlangsung. “Itu risiko pekerjaan dan kita nikmati saja,” bebernya.

Purwacaraka menyampaikan bahwa kadang-kadang banyak orang mengatakan dirinya tak habis-habis terima pekerjaan.

“Kalau saya tergantung apa dulu pekerjaannya, kalau hanya dapat capainya saja pasti kita tolak, tapi kalau itu menjadikan sebuah tantangan yang punya arti dan nilai ke depan, bukan hanya untuk diri saya sendiri, tapi juga untuk bangsa ini, selama kita kuat secara fisik, raga, dan batin, kenapa tidak, Opera Ainun ini digarap begitu matang dengan persiapan lama sekitar dua tahun lebih,” paparnya.

Ketika ditanya bagaimana perkembangan musik sekarang, dengan tenang Purwacaraka memberikan jawaban, tergantung cara memandangnya.

“Kalau cara memandangnya hanya secara industri, ya industrinya maju saja, tapi tentu tidak hanya itu, karena bisa dilihat dari pendidikannya, kultur yang berkembang,” ungkapnya.

Dalam Opera Ainun yang berperan sebagai Ainun adalah Andrea Miranda yang tiada lain anaknya Purwacaraka. “Saya sebagai ayah tidak mengarahkan secara khusus. Saya juga tidak memaksakan kehendak. Kala dia dengan senang hati melakukan sesuai dengan passion-nya, saya mendukung,” sebutnya.

Pada intinya, kata Purwacaraka, sebagai anak tidak harus persis seperti ayahnya, tapi semangatnya harus sama.

“Semangat untuk berkarya harus sama, karena hidup tidak hanya sekedar bernafas dan makan saja, tapi ada gunanya apa enggak, hidupnya untuk bermanfaat apa enggak untuk orang lain. Kalau hidup memang harus punya sesuatu yang dibanggakan,” tegasnya.

Sementara pandangan Purwacaraka terhadap sosok Habibie, disebutkan Purwacaraka, Habibie orang pintar, dan intelek dengan pergaulannnya Eropa oriented.

“Dia punya cara pandang bahwa manusia harus berbudaya, menurut dia kebudayaan itu penting, karena manusia dan bangsa tidak hanya dibangun oleh teknologi, tapi juga harus berbudaya dan beradab. Pada intinya, manusia hidup harus seimbang,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...