Rabies Terus Mengancam di Sikka

Editor: Koko Triarko

1.507
MAUMERE –  Kasus penyakit rabies yang disebabkan oleh gigitan anjing yang sudah tertular virus rabies di Kabupaten Sikka, semakin hari semakin meningkat. Hingga akhir Agustus ini, sudah ditemukan 29 kasus.
“Tenaga vaksin yang ada di dinas Pertanian minim, sebab idealnya tenaga vaksinator harus sebanding dengan jumlah anjing yang ada di masyarakat,” sebut Penjabat Bupati Sikka, Drs. Mekeng P. Florianus, Senin (3/9/2018).
Dikatakan Mekeng, saat ini sedang dilatih 60 vaksinator, namun kesulitannya pada biaya operasional untuk petugas vaksinator tersebut serta kesulitannya, saat hendak dilakukan vaksinasi pemilik anjing tidak mau anjingnya divaksinasi oleh petugas.
Ketua Fraksi PKPI DPRD kabupaten Sikka, Afridus Aeng. -Foto: Ebed de Rosary
“Kita bisa juga mengajak teman-teman Forkopimda, seperti polisi dan TNI untuk bantu memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Ada beberapa kecamatan yang saat ini virus rabies sudah menjalar, sehingga beberapa kecamatan ini yang menjadi fokus pemerintah,” ungkapnya.
Pada 28 Agustus 2018, kata Mekeng, dirinya sudah melakukan rapat kordinasi tim rabies kabupaten, dan hasil rapat sudah dibuatkan surat pada 30 Agustus 2018 kepada camat, kepala desa, tokoh masyarakat untuk menyampaikan sosialisasi, bahwa penyakit ini berbahaya dan menular.
“Pada 2018,  ada peningkatan kasus rabies menjadi 29 kasus gigitan anjing yang tertular rabies, hingga akhir Agsutus 2018. Tadi pagi saat apel juga sudah saya buat pengumuman dan kita akan cek kembali camat dan kepala desa, apakah sudah melakukan sosialisasi,” terangnya.
Untuk kabupaten Sikka, beber Mekang, terdapat 60 ribu ekor anjing yang terdata, sehingga dibutuhkan banyak petugas vaksinator, karena bila jumlahnya sedikiti, maka dibutuhkan waktu lama untuk melakukan vaksin dan virusnya sudah tersebar.
Ketua Fraksi PKPI DPRD Sikka, Afridus Aeng, mengatakan pihaknya sepakat dengan langkah-langkah konkrit yang disampaikan pemerintah kabupaten Sikka, termasuk sosialisasi kepada masyarakat, sebab kabupaten Sikka mengalami bencana rabies.
“Tetapi pertanyaannya, apakah vaksin rabies, baik untuk hewan maupun manusia yang digigit, tersedia di dinas pertanian dan dinas kesehatan kabupaten Sikka?,” tanyanya.
Bila vaksin tersebut habis, tegas Afridus, maka pemerintah harus segera mengambil langkah cepat dengan membeli vaksin tersebut menggunakan dana tanggap darurat. Sebab, ketersediaan vaksin sangat penting agar penyakit ini tidak menyebar dengan cepat ke wilayah lainnya.
“Pemerintah harus segera bertindak cepat, agar jangan sampai ada banyak korban jiwa akibat digigit anjing yang sudah tertular rabies, apalagi penularan penyakit ini sangat cepat sekali. Anjing yang sudah terkenan virus akan menularkannya kepada anjing lainnya,” ungkapnya.
Baca Juga
Lihat juga...