Ragam Jenis Reptil Ada di Museum Komodo TMII

Editor: Makmun Hidayat

235

JAKARTA — Museum Komodo dan Taman Reptilia Taman Mini Indonesia Indah (TMII), menjadi pilihan wisata untuk mengenal ragam jenis fauna dari seluruh provinsi Indonesia.

Museum yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 April 1978, itu bangunannya sangat unik seperti komodo. Kemudian pada 2000 dibangun Taman Replitia di atas lahan museum seluas satu hektar ini dengan koleksi satwa dari seluruh provinsi Indonesia.

Namun setelah direnovasi pada dua tahun lalu, koleksi museum ini lebih fokus hanya reptil dan ampibi saja. “Kini koleksi satwanya mencapai 67 jenis dengan jumlah 346 ekor reptil, terbanyaknya kura-kura dan ular,” kata Kepala Museum Fauna Komodo dan Taman Reptilia TMII, Windyabrata kepada Cendana News, Minggu (16/9/2018).

Kepala Museum Fauna Komodo dan Taman Reptilia TMII, Widyabrata – Foto: Sri Sugiarti

Dia menjelaskan, museum Komodo ini terdiri dari dua lantai. Di lantai pertama, pengunjung dapat melihat jenis fauna dari sabang hingga maurakw yang sudah diawetkan yang dipajang dalam aquarium, seperti ular, kura, kura, dan biawak.

Sedangkan di lantai dua, pengunjung dapat melihat koleksi awetan yakni berupa kodok dari berbagai daerah di Indonesia. Semua satwa yang diawetan tersimpan rapih didesain seolah hidup seperti beraktivitas. Contohnya, ular yang diawetan tampak sangat nyata dengan lekukan tubuhnya. Begitu juga awetan kodok didesain dengan dedaunan dan batang, seolah hewan itu beraktivitas, sehingga dilihatnya sangat memesona.

Di luar museum, terdapat Taman Reptilia yang memamerkan satwa-satwa reptil, seperti biawak, iguana, ular sanca, ular king cobra dan ular berkaki yang tersaji di dalam aqurium kaca dilengkapi dengan dedaunan dan pohon. Sesekali ular tersebut berjalan diatas ranting, ada juga yang melingkar di sudut bawah pohon, seperti tertidur.

Buaya juga hidup bebas di taman ini. Untuk buaya, pengamanan sangat ketat dengan diletakkan dalam satu bangunan khusus berpagar besi tinggi. Bangunan itu dilengkapi dengan kolam air untuk buaya berenang.

Dalam bangunan itu, buaya terlihat bebas menggerakkan tubuhnya. Di kala lapar, buaya itu memakan daging ayam yang tersaji di dalam bangunan.

Sebagai edukasi, taman ini menyajikan hiburan, seperti memancing buaya. Dengan biaya Rp 10.000 perorang, pengunjung memancing buaya dengan cara memberi makan kepala ayam kepada buaya.

Selain itu, atraksi reptil di Amphitheatre yang terletak di sebelah kiri area luar museum. Menurut Windyabrata, atraksi reptil ini bertujuan untuk mengedukasi pengunjung agar tidak membunuh hewan, tapi tetap harus mewaspadainya. Diharapkan pula pengunjung nantinya bisa menyayangi hewan satwa tersebut. Karena selama ini sebagian masyarakat menganggap reptil itu hewan yang cukup menyeramkan.

Bagi pengunjung yang pemberani, bisa berfoto dengan ular sanca di Taman Sentuh yang terdapat di sebelah kanan area luar museum. Cukup membayar Rp5.000, pengunjung bisa memegang dan bercengkrama dengan ular sanca tersebut.

Pengunjung sedang melihat hewan awetan di lantai satu Museum Fauna Komodo Indonesia dan Taman Reptilia TMII, Jakarta, Minggu (16/9/2018) – Foto: Sri Sugiarti

Menurut Windyabrata, semua hewan yang ditampilkan di museum ini adalah ragam jenis reptil khas nusantara. Pihaknya akan berupaya menambah koleksi jenis reptil, bisa sumbangan dari masyarakat. Bahkan, sebut dia, belum lama ini ada sumbangan buaya dari warga Cipayung, Jakarta Timur.

“Karena pemilik buaya tersebut sudah meninggal dunia, maka keluarganya menyumbangkan buaya ke museum ini,” ujar pria kelahiran 56 tahun ini.

Sebagai lembaga konservasi, museum ini pada bulan Agustus 2018 lalu telah menerima 56 ekor satwa hasil tegahan dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta.

Terkait komodo yang menjadi kebanggaan pengunjung memang telah lama tidak tampil dikarenakan sakit sedang dikarantina. Komodo tersebut sudah ada di museum ini sejak tahun 2000, dan diperkirakan usianya sekarang sudah mencapai 25 tahun.

Sedianya diharapkan bisa tampil kembali pada bulan puasa lalu untuk menghibur pengunjung, tapi terkendala lagi. Memang diakui dia, sejak Komodo tidak tampil, animo pengunjung menurun. Padahal sebelumnya pengunjung begitu antusias datang untuk melihat komodo dari dekat sambil memberinya makan dan berfoto bersama komodo.

“InshaAllah bulan September ini, komodo akan hadir lagi di museum ini sehingga pengunjung bisa terhibur,” ujarnya.

Widyabrata mengatakan, banyak pelajaran mengenai binatang reptil dan melata di museum yang bagus dan edukatif. Taman Reptil juga telah berhasil mengembangbiakkan beberapa spesies, seperti ular sanca batik dan kura-kura dada kuning.

Pengunjung sedang melihat biawak di Taman Reptil yang terdapat di sebelah kiri area luar Museum Fauna Komodo TMII, Jakarta, Minggu (16/9/2018) – Foto: Sri Sugiarti

Namun terkadang sebut dia, sifat hewan reptil menjadi kendala pengelola museum. Yakni, terkadang sesama reptil akan berkelahi jika ditempatkan dalam satu kandang.

Widyabrata berharap pengunjung museum kedepan akan terus meningkat tidak hanya masyarakat Indonesia tapi juga mancanegara. Seperti saat pelaksanaan Asian Games 2018 lalu, puluhan wisatawan asing baik itu atlet, official dan pendukungnya berkunjung ke museum ini untuk melihat khazanah fauna Indonesia.

“Alhamdulillah saat Asian Games 2018 lalu, ada peningkatan,” ujarnya.

Dalam pengembangan TMII, dia juga berharap tampil berbagai program inovasi yang dapat mendatangkan wisatawan lebih banyak ke TMII, khususnya ke museum komodo ini.

Widyabrata juga merasa bangga terhadap sosok Ibu Negara Tien Soeharto yang telah memprakarsai berdirinya TMII, hingga kemudian Museum Fauna Komodo dan Taman Reptil dibangun dan diresmikan pada tahun 1978.

Menurutnya, Ibu Tien Soeharto memiliki pemikiran cemerlang kedepan dalam pelestarian fauna Indonesia dengan membangun museum ini. “Kalau bukan ide cemerlang Ibu Tien, kita tidak akan bisa melihat keindahan ragam jenis fauna Indonesia di museum ini,” tandasnya.

Dalam pembangun miniatur Indonesia, sebut dia, Ibu Tien Soeharto tidak hanya berpikir untuk menyatukan persatuan dan kesatuan bangsa dalam wadah pelestarian seni budaya setiap daerah. Tapi juga bertujuan untuk melestarikan dan pengembangkan ragam jenis flora dan fauna seluruh Indonesia di TMII ini.

Terbukti selain museum komodo, hadir juga Taman Burung, Dunia Serangga, Dunia Air Tawar, Taman Anggrek, dan lainnya.

Baca Juga
Lihat juga...