Ratu Hemas Khawatirkan Generasi Muda Indonesia

319
GKR Hemas -Dok: CDN
YOGYAKARTA – Ratu Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, meminta Pemerintah Kabupaten Kulon Progo mengenalkan kebudayaan kepada kaum milenial.
GKR Hemas mengatakan, kaum muda atau kaum milenial dewasa ini, pada umumnya, kurang tertarik dengan pengembangan seni budaya asli nenek moyang.
“Sejak kecil anak-anak kita lebih asik mendengarkan dan memainkan musik barat atau Asia, seperti Korea. Kami minta pemkab membangkitkan kembali kecintaan generasi muda terhadap seni budaya. ini penting dalam rangka menghidupkan kembali nilai-nilai jatidiri bangsa Indonesia yang mulai pudar,” pinta Hemas, dalam peresmian Padepokan Watu Gilang, Minggu (30/9/2018).
Ia berharap, padepokan ini tidak hanya dapat menghidupkan kembali berbagai seni-budaya asli Yogya yang sudah banyak ditinggalkan orang, tetapi juga dapat menjadi tempat sosialisasi nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh leluhur untuk para generasi muda.
Ia mengaku sangat prihatin, sifat gotong-royong, musyawarah, tepo seliro, dan saling menghargai sesama warga kini mulai banyak yang sirna. Cara kekerasan, anarkis dan amuk massa seringkali mewarnai perilaku masyarakat dalam mengatasi konflik sederhana sekali pun.
“Generasi muda kita hampir tidak ada lagi yang memperoleh pendidikan keluarga, berupa sosialisasi dan internalisasi akan nilai-nilai yang baik yang sesuai dengan jatidiri bangsa,” katanya.
Ia mengaku khawatir, generasi muda Indonesia di masa mendatang masih berdiri pada sendi-sendi budaya asli Indonesia atau sudah menjadi bangsa Indonesia dengan budaya asing.
Nilai-nilai luhur orang Jawa yang selama ini mewarnai nilai budaya bangsa, seyogyanya dapat disosialisasikan kembali kepada kaum Milenial. Misalnya, ajaran Hamemayu Hayuning Bawono, yang mengajarkan kepada kita semua bahwa kehadiran manusia di muka bumi ini harus dapat menjaga sikap dan perilaku, Kebenaran, Kebaikan, Keselamatan, Keadilan, Keindahan dan Kelestarian Dunia.
“Konsep Hamemayu Hayuning Bawono ini sangat universal, komprehensif dan holistik (menyeluruh),” katanya.
Lebih lanjut, Hemas mengatakan, puncak falsafah hidup hamemayu hayuning bawana adalah untuk meraih suasana “tata-titi-tentrem”. Tata-titi-tentrem tergambar pada saat orang Jawa mampu menjaga keteraturan alam semesta, suasana akan harmoni, tenang dan tenteram (hayu hayuning bawana).
Seseorang dianggap memiliki jiwa, sikap dan sifat hamemayu hayuning bawana, salah satu contohnya bila orang itu suka memberi air kepada orang yang kehausan, suka memberi makan kepada orang yang kelaparan, memberi payung kepada orang yang kehujanan, dan memberi perlindungan kepada orang yang sedang kesusahan.
Hamemayu hayuning bawana dapat juga dikatakan sebagai konsep etos kerja. Bagi orang Jawa, hidup di dunia itu hanya sementara, tetapi tugas mulia yang harus ditunaikan manusia adalah bekerja keras secara sungguh-sungguh dan terus-menerus (sepi ing pamrih rame ing gawe), untuk menjaga kebenaran, kebaikan, keindahan, keselamatan dan kelestarian dunia (hamemayu hayuning bawana),” katanya.
Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo, mengatakan masyarakat Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, sangat bersemangat menjaga dan melestarikan kebudayaannya. Ia mencontohkan, kebudayaan tarian tayub hingga saat ini sangat melekat di Desa Tuksno.
“Kami mendorong Desa Tuknoso sebagai bagain dari Desa Budaya mampu melestarikan dan mengangkat kebudayaan lokal,” harapnya. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...