Relawan Gotong Royong Bangun Ruang Belajar Sekolah di Lamsel

1.083
LAMPUNG – Keterbatasan ruang belajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Hidayah, Padan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, telah berlangsung selama puluhan tahun silam.
Agus Siswanto, salah satu pemilik usaha bidang konstruksi rangka baja dan tempat wisata, pun mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Bersama dengan sejumlah relawan, pegiat literasi Motor Pustaka Lampung itu awalnya melihat foto suasana kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan kelas bersekat, belajar di lorong.
Atas dukungan dari sejumlah relawan, sekaligus tergerak untuk membuat ruang belajar yang layak, ia mulai membuat ruang belajar tambahan yang layak. Ruang kelas tersebut dikonsep berbentuk saung dan dikerjakan dalam waktu dua hari.
“Kondisi ruang kelas yang memprihatinkan, mendorong saya beserta kawan-kawan yang biasa membuat bangunan dengan rangka baja, berkolaborasi dengan relawan untuk membuat ruang belajar,” terang Agus Siswanto, saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (13/9/2018).
Agus Siswanto menyebut, pekerjaan pembuatan kelas berkonsep saung tersebut menyesuaikan dengan keterbatasan lahan yang ada. Selama ini, ia melakukan pembuatan bangunan dengan rangka baja, sehingga konsep saung ini baru dilakukan pertama kali di MI Nurul Hidayah Padan.
Siti Nurjanah, Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Nurul Hidayah Padan Kecamatan Penengahan bersa siswa yang belajar di lorong [Foto: Henk Widi]
Sugeng Hariyono, pegiat literasi Motor Pustaka lainnya, menyebut keprihatinan akan ruang kelas yang terbatas telah mengetuk sejumlah pihak. Selain relawan yang bergerak pada usaha jasa konstruksi rangka baja, kepedulian mengalir dari sejumlah pihak dengan memberi donasi tenaga, pikiran dan material.
Sejumlah bantuan tersebut di antaranya berasal dari Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Indonesia, jurnalis dan juga pihak lain yang peduli dunia pendidikan.
Sugeng Hariyono juga menyebut, bangunan saung belajar tersebut belum sepenuhnya bisa digunakan. Sebab, proses pembangunan bertahap juga akan dilakukan untuk membuat lantai saung, pagar sekolah, WC sekolah serta fasilitas tambahan untuk belajar.
Sugeng Hariyono menyebut, bantuan fasilitas belajar tersebut dari sejumlah relawan dan CSR akan sangat membantu siswa MI Nurul Hidayah, yang selama ini belajar dalam keterbatasan ruang kelas.
“Tahap pertama bangunan saung belajar sudah diselesaikan untuk atapnya, dan untuk sekat serta fasilitas lain ditargetkan selesai akhir September ini,” terang Sugeng Hariyono.
Siti Nurjanah, Kepala Sekolah MI Nurul Hidayah, menyebut usia sekolah yang pada 2018 ini memasuki usia 37 tahun, belum mendapat perehaban semenjak dibangun.
Karenanya, berbagai pihak yang peduli akan kondisi ruang kelas dan KBM di MI Nurul Hidayah yang berada di bawah Kementerian Agama Lampung Selatan, sebagian melakukan bantuan dengan berbagai cara.
Selain itu, dukungan fasilitas belajar juga pernah diberikan melalui CSR Bank Indonesia. Gotong royong merealisasikan ruang kelas baru berkonsep saung diakui Siti Nurjanah merupakan kolaborasi sejumlah relawan dari Lampung Selatan, Lampung Timur dan sejumlah pihak.
Siswa MI Nurul Hidayah yang saat ini berjumlah 58 siswa, terdiri dari kelas I sebanyak 3 siswa, kelas II sebanyak 13 siswa, kelas III sebanyak 6 siswa, kelas IV sebanyak 8 siswa, kelas V sebanyak 6 siswa dan kelas VI sebanyak 22 siswa.
“Sebanyak empat kelas belajar di satu ruangan yang disekat dan satu kelas di lorong kelas,” beber Siti Nurjanah.
Keberadaan saung belajar tersebut yang dikerjakan secara gotong royong, kata Siti Nurjanah, menjadi perhatian sejumlah pihak untuk dunia pendidikan, khususnya madrasah. Sebab, anggaran yang terbatas dari instansi terkait membuat MI Nurul Hidayah tidak bisa membangun ruang kelas baru.
Gotong royong membuat ruang belajar yang layak di MI Nurul Hidayah, juga melibatkan siswa yang ikut membersihkan lokasi untuk dibangun saung belajar. Selain itu, bantuan dari orang tua murid, di antaranya akan dilakukan untuk pengerjaan fasilitas pagar dan WC sekolah.
Baca Juga
Lihat juga...