Review Film Aruna & Lidahnya, Lezatnya Kulineran dan Dekatnya Hubungan  

Editor: Mahadeva WS

218

JAKARTA – Satu lagi, film Indonesia tentang kuliner dirilis, yakni Aruna & Lidahnya. Sebelumnya, film-film Indonesia bertabur makanan lezat telah dirilis seperti, Filosofi Kopi (2015), Filosofi Kopi 2: Ben & Jody (2017), The Wedding and Bebek Betutu (2015), Tabula Rasa (2015), Madre (2013). Film-film tersebut menunjukan posisi Indonesia sebagai surganya kuliner.

Film Aruna & Lidahnya, bisa dibilang mengisi kekosongan film kuliner di Indonesia. Film arahan sutradara Edwin, yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak, di skenariokan oleh Titien Wattimena ini, berkisah tentang lezatnya kulineran dan dekatnya hubungan.

Film ini diawali dengan sop buntut masakan Aruna (Dian Sastrowardoyo) yang begitu lezat. Kemudian berlanjut dengan mie ayam bakso kantor, setelah itu banyak makanan lain yang begitu mengundang selera makan.

Aruna diceritakan termasuk perempuan penganut paham hidup untuk makan, dimana makan adalah kegiatan yang paling menyenangkan, baik ketika sendirian maupun bersama sahabat. Sosok sahabat kali ini adalah Bono (Nicholas Saputra), seorang chef muda yang piawai meramu makanan.

Ada sebuah masakan lezat yang menjadi obsesi Aruna, dan Dia ingin mengetahui racikannya. Yaitu resep nasi goreng yang kerap dimasak oleh sang mbok sejak ia kecil. Berulang kali ia mencoba untuk memasak nasi goreng tersebut, berulang kali juga ia merasa gagal dalam mereplika rasa.

Bono mengusulkan agar Aruna melacak resep itu sampai ke kampung halaman sang mbok di Pontianak. Secara kebetulan, mencuat kabar tentang wabah flu burung, yang mulai menjangkiti manusia. Hal itu membuat Aruna ditugaskan kantor untuk menyelidiki kasus tersebut di empat kota yang berbeda, yaitu Surabaya, Pamekasan (Madura), Pontianak, dan Singkawang.

Ibarat petatah, gayung bersambut, tugas kantor dan obsesi Aruna bisa menjadi saling berhubungan. Menyelam sambil minum air, bisa menunaikan tugas sekaligus mewujudkan obsesi. Bersama Bono, perjalanan dinas Aruna itu pun turut menjadi semacam wisata kuliner dengan daftar panjang menu makanan yang harus mereka cicipi di kota-kota tersebut, mulai dari  Rawon Surabaya, Soto Ayam Lamongan, Kacang Koah, Campor Lorjuk, Pengkang, Bakmi Kepiting, Choi Pan, sampai tentunya, nasi goreng yang konon serupa cita rasanya dengan nasi goreng simbok.

Wisata kuliner Aruna dan Bono itu, diikuti dengan kehadiran Nadezhda (Hannah Al Rashid), sahabat keduanya yang membuat Bono mabuk kepayang, dan Farish (Oka Antara), mantan supervisor, yang juga merangkap cinta lama Aruna. Farish ikut serta dalam wisata kuliner itu, karena menjadi rekan satu tim dengan Aruna, yang memang ditugaskan untuk mengunjungi beberapa peternakan unggas dan para pasien terindikasi flu burung.

Farish bukan termasuk dalam kaum yang makan untuk hidup, yang menganggap makanan hanya untuk mengisi perut yang keroncongan. Hal itu tak menyurutkan Aruna bersama Bono dan Nad, untuk tetap melanjutkan agenda wisata kuliner. Hubungan istimewa antara Aruna dan Farish, antara Bono dan Nad, tampaknya justru menjadi bumbu dalam film tersebut.  Dalam tugas investigasinya, Aruna menemukan beberapa kejanggalan tentang data yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Serta sosok-sosok berpakaian steril, yang seakan menyebarkan ketakutan akan adanya wabah flu burung. Kecurigaan tersebut memperdalam konflik internal antara Aruna dengan Farish, mulai dari perasaan antar keduanya yang terpendam, hubungan rahasia Farish, hingga sampai pada dugaan bahwa isu flu burung ini hanya lahan basah untuk praktik korupsi.

Rasa saling curiga berbenturan dengan ego masing-masing, membuat ketegangan keempat orang memuncak. Tetapi, lagi-lagi selalu saja ada makanan lezat yang bisa mencairkan suasana. Makanan tak hanya untuk disantap, tapi juga seperti menjadi mediasi ketegangan hubungan mereka berempat.  Makan bersama dengan orang-orang tersayang, lebih dari sekedar merasakan kelezatan, tapi juga merekatkan hubungan.

Film ini bagus dan menggiurkan, dalam arti makanan yang disajikan di sepanjang film memang menggoda selera makan. Film ini adalah film komersial kedua penyutradaraan Edwin, yang sebelumnya banyak menggarap film arthouse untuk konsumsi berbagai festival film, baik nasional maupun internasional.

Meski demikian, film ini tak kehilangan sentuhan kreatif Edwin dengan racikan-racikan khas sinematografi yang apik. Alur cerita film mengalir lancar, padat dan berisi. Penulis skenario, Titien Wattimena, piawai meramu cerita. Akting Dian Sastrowardoyo matang, dan menunjukkan kegemilangan sebagaimana film-film memorable yang dibintanginya sebelumnya. Terlebih Dian dipasangkan lagi dengan Nicholas Saputra, meski dalam film ini bukan sebagai pasangan kekasih, tapi persahabatan yang begitu akrab, menjadikan keduanya tetap menjalin chemistry dengan baik.

Nicholas Saputra dalam film ini muncul beda, tidak tampak seperti tiba-tiba menjadi chef, tapi benar-benar chef yang memang piawai meramu masakan. Nicholas tampaknya mampu berdaptasi dengan karakter apapun dengan sangat baik. Sedangkan, Hannah Al Rashid menjadi pemain pendukung, yang melengkapi film ini. Begitu juga Oka Antara yang memperkuat film ini, dari awal meski terlihat kaku sebagaimana karakter kaku yang dilakoninya, tapi kemudian menjadi sosok penentu dalam film ini.

Menyaksikan film ini, kita seperti disadarkan bahwa memang negara kita surganya kuliner. Makanan-makanan yang disajikan dalam film ini, seperti Rawon Surabaya, Soto Ayam Lamongan, Kacang Koah, Campor Lorjuk, Pengkang, Bakmi Kepiting, memperkaya khasanah kuliner kita, yang membuat kita suatu saat nanti ingin sekali mencicipi kesemua makanan yang begitu lezatnya.

Baca Juga
Lihat juga...