Ribuan Anjing di Sikka Perlu Divaksin Rabies

Editor: Satmoko Budi Santoso

170

MAUMERE – Selama bulan September hingga 11 September 2018, sudah terdapat 7 spesimen yang dikirim Dinas Pertanian bidang Kesehatan Hewan ke Balai Besar Vertenier Denpasar untuk diperiksa, hasilnya positif.

“Akhir agustus, spesimen otak yang positif rabies 29. Setelah itu bertambah cepat sekali, sebanyak 7 spesimen positif di bulan September 2018 sehingga total menjadi 36 spesimen positif di tahun 2018,” sebut dr. Asep Purnama, sekretaris Komite Rabies Flores dan Lembata (KRFL), Kamis (13/9/2018).

Untuk itu, dokter Asep meminta agar masyarakat Kabupaten Sikka perlu meningkatkan kewaspadaan apalagi hampir setengah anjing yang berjumlah sekitar 60 ribu di Kabupaten Sikka belum dilaksanakan vaksin antirabies.

dr. Asep Purnama, sekretaris Komite Rabies Flores dan Lembata (KRFL). Foto : Ebed de Rosary

“Bagi masyarakat yang memelihara anjing agar segera dilakukan vaksin terhadap hewan peliharaannya agar bisa terhindar dari tertularnya virus rabies. Masyarakat harus dipaksa untuk membiarkan anjingnya divaksin,” pintanya.

Sementara, persediaan Vaksin Anti Rabies (VAR) saat ini di Kabupaten Sikka, sebut Asep, ada 500, sesuai data per 10 September 2018. Jumlah ini sangat sedikit sekali dan perlu ada penambahan sesegera mungkin.

“Kalau gigitan konsiten 125 per gigitan, maka dalam sebulan, VAR bisa saja habis karena setiap orang yang terinfeksi rabies akan mendapatkan 4 kali suntikan vaksin antirabies,” sebutnya.

Sementara itu, Raymundus Tuda, warga desa Gera Kecamatan Mego menjelaskan, hampir semua anjing yang ada di desanya belum mendapatkan vaksin antirabies. Pihaknya tidak mengetahui kalau virus rabies telah menyebar dan menelan korban jiwa.

“Hampir semua anjing di Desa Gera belum mendapatkan vaksin antirabies. Masyarakat juga terkadang tidak mau kalau anjing mereka divaksin. Sebab ada yang setelah divaksin langsung mati,” ungkapnya.

Mundus berharap, agar petugas dari Dinas Kesehatan atau Dinas Pertanian Kabupaten Sikka segera datang ke desa-desa, apalagi desa terpencil, untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai rabies.

“Masyarakat memang mengetahui penyakit ini, namun karena belum ada warga yang meninggal usai digigit anjing, maka masyarakat masih menganggap biasa saja. Anjing di desa kami juga masih bebas berkeliaran. Ini sudah dianggap biasa, tidak ada rasa takut,” tuturnya.

Baca Juga
Lihat juga...