Ribuan Anjing di Sikka Perlu Divaksin Rabies

Editor: Satmoko Budi Santoso

133

MAUMERE – Selama bulan September hingga 11 September 2018, sudah terdapat 7 spesimen yang dikirim Dinas Pertanian bidang Kesehatan Hewan ke Balai Besar Vertenier Denpasar untuk diperiksa, hasilnya positif.

“Akhir agustus, spesimen otak yang positif rabies 29. Setelah itu bertambah cepat sekali, sebanyak 7 spesimen positif di bulan September 2018 sehingga total menjadi 36 spesimen positif di tahun 2018,” sebut dr. Asep Purnama, sekretaris Komite Rabies Flores dan Lembata (KRFL), Kamis (13/9/2018).

Untuk itu, dokter Asep meminta agar masyarakat Kabupaten Sikka perlu meningkatkan kewaspadaan apalagi hampir setengah anjing yang berjumlah sekitar 60 ribu di Kabupaten Sikka belum dilaksanakan vaksin antirabies.

dr. Asep Purnama, sekretaris Komite Rabies Flores dan Lembata (KRFL). Foto : Ebed de Rosary

“Bagi masyarakat yang memelihara anjing agar segera dilakukan vaksin terhadap hewan peliharaannya agar bisa terhindar dari tertularnya virus rabies. Masyarakat harus dipaksa untuk membiarkan anjingnya divaksin,” pintanya.

Sementara, persediaan Vaksin Anti Rabies (VAR) saat ini di Kabupaten Sikka, sebut Asep, ada 500, sesuai data per 10 September 2018. Jumlah ini sangat sedikit sekali dan perlu ada penambahan sesegera mungkin.

“Kalau gigitan konsiten 125 per gigitan, maka dalam sebulan, VAR bisa saja habis karena setiap orang yang terinfeksi rabies akan mendapatkan 4 kali suntikan vaksin antirabies,” sebutnya.

Sementara itu, Raymundus Tuda, warga desa Gera Kecamatan Mego menjelaskan, hampir semua anjing yang ada di desanya belum mendapatkan vaksin antirabies. Pihaknya tidak mengetahui kalau virus rabies telah menyebar dan menelan korban jiwa.

“Hampir semua anjing di Desa Gera belum mendapatkan vaksin antirabies. Masyarakat juga terkadang tidak mau kalau anjing mereka divaksin. Sebab ada yang setelah divaksin langsung mati,” ungkapnya.

Mundus berharap, agar petugas dari Dinas Kesehatan atau Dinas Pertanian Kabupaten Sikka segera datang ke desa-desa, apalagi desa terpencil, untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai rabies.

“Masyarakat memang mengetahui penyakit ini, namun karena belum ada warga yang meninggal usai digigit anjing, maka masyarakat masih menganggap biasa saja. Anjing di desa kami juga masih bebas berkeliaran. Ini sudah dianggap biasa, tidak ada rasa takut,” tuturnya.

Baca Juga
Pemkab Sikka Bertekad Bangun Rumah Sakit Tanpa Kel... MAUMERE – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka bertekad memberikan jaminan kesehatan bagi seluruh warga masyarakat sebanyak 15 ribu orang yang belum di...
Kesadaran Masyarakat Flores untuk Tes HIV Masih Mi... MAUMERE --- Kesadaran masyarakat di pulau Flores untuk tes HIV di klinik VCT (Voluntary Consulting and Testing) di puskesmas maupun rumah sakit masih ...
Ketua MUI Sikka Menyebut, Imunisasi Rubella Mubah MAUMERE – Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No.33/2018, tertanggal 20 Agustus, mengenai penggunaan vaksin Measles Rubella (MR), menyebabkan para ora...
Imunisasi MR di Sikka, Sudah Mencapai 79 Persen MAUMERE – Pemerintah Kabupaten Sikka, melalui Dinas Kesehatan setempat, telah mengimunisasi Measles Rubella (MR) 73.444 anak sasaran. Mereka tersebar ...
Pulau Flores dan Lembata Darurat Berantas Rabies MAUMERE – Segenap pimpinan di daerah NTT baik itu gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati serta walikota dan wakil walikota, harus berada...
KRFL Sesalkan Pernyataan Dinkes Soal Stok VAR BAJAWA – Kasus rabies yang terjadi di pulau Flores dan Lembata kian memprihatinkan. Diperlukan langkah cepat dari pemerintah daerah, untuk menangani k...
Gubernur Baru Diminta Langsung Memimpin Pemberanta... MBAY – Gubernur NTT yang baru, Viktor Laiskodat, diharapkan langsung membantu warganya berjuang memberantas rabies. Meningkatnya jumlah kasus gigitan ...