Rumah Betang, Kebersamaan Suku Dayak Kalimantan Tengah

Editor: Satmoko Budi Santoso

298

JAKARTA – Anjungan Kalimantan Tengah di kawasan wisata budaya Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menampilkan adat betang dengan dua rumah adat, yaitu Rumah Betang Tumbang Malahoi atau Rumah Panjang dan Rumah Betang Tumbang Gagu.

Menurut Pemandu Anjungan Kalimantan Tengah, Aat Nanyan, kedua rumah adat tersebut merupakan tempat tinggal suku Dayak, berbentuk rumah panggung tradisional berbahan kayu ulin atau kayu besi setinggi lima meter dari permukaan tanah.

Akses masuknya berupa tangga dinaik-turunkan untuk menghindari binatang buas atau serangan musuh.

Pemandu Anjungan Kalimantan Tengah TMII, Aat Nanyan. Foto : Sri Sugiarti.

Rumah Bentang Tumbang Malahoi ini, digunakan oleh kepala adat dan keluarga besarnya, dengan dijaga prajurit dayak di depan tangga utama. Rumah adat ini di Kalteng masih dilestarikan berdiri kokoh. Sedangkan rumah adat Betang Tumbang Gagu digunakan oleh keluarga dari seluruh koloni yang berada di bawah kendali sang kepala suku.

“Rumah betang atau rumah panjang di Kalimantan Tengah memiliki filosofi sama dengan semua rumah panjang di Kalimantan, yakni wujud kebersamaan dan toleransi untuk membentuk suatu keutuhan atau kebersamaan,” kata Aat kepada Cendana News, Kamis (20/9/2018).

Dijelaskan dia, rumah betang memiliki ciri khas arsitektur tradisional Kalimantan Tengah yang sederhana dan bernilai seni tinggi. Bentuk rumah betang milik suku Dayak umumnya tidak jauh berbeda dan selalu didirikan menghadap ke arah sungai.

Bentuk dasar bangunan berupa empat persegi panjang dengan panjang 100–200 meter, memiliki lebar 20–25 meter, dan beratap bentuk pelana. Saat ini, masyarakat dayak yang masih menggunakan model rumah adat seperti ini, dapat ditemui di sekitar desa Tumbang Gagu, Tumbang Samba, Kapuas, Mentaya Hulu, dan Kabupaten Kota Waringin timur.

“Masyarakat suku Dayak mempertahankan tradisi rumah betang sejak tahun 1880,” ujar Aat.

Atap bangunan Rumah Betang sebelah kanan, terdapat ukiran tombak dan daun kalakai yang merupakan lambang kekuatan serta persatuan. Ragam hias lainnya berupa lukisan naga dan burung enggang yang dianggap satwa gaib.

Rumah Betang Tumbang Gagu di area Anjungan Kalimantan Tengah TMII, Jakarta, Kamis (20/9/2018). Foto : Sri Sugiarti.

Di tengah rumah Betang terdapat tiang agung atau lukit adat berukir yang terdiri atas sepuluh bagian, yang berkaitan dengan kepercayaan suku Dayak Kaharingan.

Menurutnya, khazanah budaya Kalimantan Tengah yang menarik adalah seni patung dan ukir. Seni patung di daerah ini sebagian besar menggunakan kayu ulin atau kayu besi sebagai media dasar. Kayu tersebut merupakan kayu khas Kalimantan dengan ciri khusus.

Untuk seni ukir masyarakat Dayak Kalimantan Tengah banyak didominasi perpaduan kental antara budaya lokal dengan pengaruh agama Hindu yang akhirnya disebut dengan nama adat Dayak Kaharingan.

Rumah Betang di anjungan ini difungsikan untuk pameran khazanah seni budaya Kalimantan Tengah. Ragam seni kerajinan bernama Gita Nyatu atau dalam bahasa lokal disebut getah njatu.

Diorama Perahu Banama Riuang Kanghari Rayang, di area Anjungan Kalimantan Tengah TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti.

Seni kerajinan ini, jelas dia, memiliki ciri khusus karena terbuat dari bahan baku getah karet. Ragam kerajinan yang dihasilkan mewakili gagasan konseptual suku Dayak. Contohnya, tungkeh atau tongkat, mandau atau parang khas dayak, hewan, bunga dan ukiran lainnya.

Semua itu dipamerkan di Rumah Betang Tumbang Gagu. Selain itu, dipamerkan juga busana adat dan busana pengantin khas Kalimantan Tengah.

Selain kerajinan tangan berbahan dasar getah karet, tambah dia, dipamerkan juga kerajinan suku Dayak Kalimantan Tengah berupa anyaman berbahan dasar rotan. Kerajinan rotan tersebut berupa alat keperluan sehari-hari dengan motif pucuk rebung atau pakpasu, ular, ikan, parang, jajran ganjang, bunga-bungaan dan buah-buahan.

Ada juga motif berbentuk manusia, tambun atau sarang ular naga, belanga, guntur atau nyahu, tombak, dan burung enggang.

“Seni Maukir adalah seni relief suku Dayak khususnya Kalimantan Tengah. Keunggulan seni maukir lebih halus dibandingkan seni patung,” jelasnya.

Dia mengatakan, relief biasa ditemukan pada bangunan sandung atau peti jenazah milik suku Dayak. Motif umum relief Kalimantan Tengah adalah sulur atau tanaman menjalar yang dalam bahasa Dayak disebut Bajakah Lelek.

Ragam kerajinan tangan khas suku dayak dipamerkan di Rumah Betang Tumbang Gagu di Anjungan Kalimantan Tengah TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti.

Seni relief ini menghiasi tiang luhing adat yang menggambarkan penguasa langit atau nenek moyang orang Dayak. Seni maukir tiang luhing adat ini pertama kali dibuat oleh seorang tokoh Dayak bernama Damang J. Salilah.

Di tengah-tengah kedua rumah Betang terdapat panggung seni. Seni tari yang ditampilkan adalah Kerungut atau Deder. Kesenian ini merupakan perpaduan antara seni tari dengan permainan alat musik khas suku Dayak bernama ‘sape’ atau sejenis kecapi.

Ada pula kesenian Karungut yang memadukan seni tari, diiringi petikan kecapi dengan puisi atau senandung sajak berisi hikayat atau petuah-petuah lokal suku Dayak. Penari dalam kesenian Karungut bisa dilakukan oleh satu atau beberapa orang, tergantung kebutuhan atau konsep tarian yang akan dibawakan.

Namun jelas dia, seiring perkembangan zaman, sekarang Karungut kerap digabungkan dengan alat-alat musik modern seperti gitar, drum, bass, dan perkusi.

Alat musik sape digunakan untuk mengiringi tari Mandau dari suku Dayak. Tarian ini dapat dilakukan oleh pria maupun wanita dengan menggunakan senjata mandau. “Tari mandau ini sudah terkenal hingga ke mancanegara, dan banyak turis yang tertarik,” ujarnya.

Di depan bangunan Rumah Betang Tumbang Malahoi terdapat kolam yang merupakan gambaran sungai yang mengelilingi Kalimantan Tengah. Di atas sungai disajikan diorama perahu Banama Riuang Kanghari Rayang. Yang menurut kepercayaan Hindu Kaharingan bermakna sebagai kendaraan roh nenek moyang atau dewa.

Di halaman itu, ditampilkan pula diorama yang menggambarkan masyarakat Kalimantan Tengah menjadikan sungai sebagai tempat melakukan kegiatan keseharian, seperti memandikan anak, mendulang emas, dan mencari ikan.

Di pintu gerbang anjungan Kalimantan Tengah dihiasi motif lengkungan dan burung enggang. Di sebelah kiri tersaji patung satwa khas Kalimantan Tengah, yaitu orang utan. Hewan ini banyak hidup di taman nasional Tanjung Puting.

Lebih lanjut dia menjelaskan, Kalimantan Tengah terdiri dari 13 kabupaten dan 1 kotamadya. Kalimantan Tengah dengan ibu kota Palangkaraya merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki semboyan patriotik “Pantang Mundur”.

Semboyan tersebut sesuai dengan catatan sejarah bahwa Kalimantan Tengah dihuni oleh suku Dayak yang sulit ditaklukkan oleh pihak manapun. Yakni, sebagai sejarah dimulai pada tahun 1520 ketika Kesultanan Demak masuk di Kalimantan Tengah, tepatnya Kota Waringin, dilanjutkan Kesultanan Banjar tahun 1615 yang masuk menguasai sampai daerah Sampit, Mendawai, dan Pembuang.

Namun mereka mengalami kesulitan dalam menaklukkan suku Dayak sebagai suku asli yang mendiami pulau Kalimantan khususnya Kalimantan Tengah di pedalaman. Suku Dayak yang berdiam di Kalimantan Tengah, di antaranya suku Dayak Sampit, Katingan, Maanyan, Bakumpai, dan Ngaju.

Hamparan hutan ibarat permadani hijau yang membungkus 80 persen wilayah Kalimantan Tengah dengan kurang lebih 25 persen hutan primer di dalamnya. Kalimantan Tengah juga terkenal dengan wilayah pegunungan berbukit yang dikelilingi oleh laut, sungai dan rawa berpaya-paya.

Kalimantan Tengah memiliki ragam kekayaan hayati darat, laut, dan udara. Seperti ragam hewan, yaitu beruang, landak, beruk, kera, trenggiling, buaya, kukang, paus air tawar atau tampahas, manjuhan, ikan arwana, burung rangkong, betet, dan beo.

Di antara kekayaan hayati, ada jenis hewan endemik yang menjadi simbol. Kalimantan Tengah dan daya tarik wisatawan adalah orang utan dan babi hutan berjenggot.

Aat berharap, hadirnya anjungan Kalimantan Tengah di TMII, masyarakat pengunjung bisa lebih mengenal khazanah seni budaya Kalimantan Tengah.

Terutama, sebut dia, adalah generasi muda agar lebih mencintai budaya negeri sendiri daripada budaya barat. “TMII ini dibangun untuk memperkenalkan budaya daerah dari seluruh Indonesia. Saya berharap generasi muda lebih mencintai seni budaya bangsa,” ungkapnya.

Menurutnya, anjungan ini tidak pernah sepi pengunjung setiap harinya baik itu wisatawan domestik maupun asing. Khusus Senin hingga Jumat, wisatawan turis yang banyak berkunjung ke anjungan ini. Sedangkan Sabtu-Minggu, adalah pengunjung domestik.

“Anak sekolah dan mahasiswa juga banyak yang meminta bahan untuk karya tulis dan skripsi tentang budaya Kalimantan Tengah,” tandasnya.

Dalam pelestarian dan pengembangan budaya, Aat juga berharap, TMII lebih meningkatkan sektor seni budaya dengan koordinasi sejumlah kegiatan budaya sehingga menghasilkan inovasi-inovasi.

Baca Juga
Lihat juga...