Sagubal, Makanan Tradisional Lampung Berbahan Ketan

Editor: Koko Triarko

164
LAMPUNG – Berbagai makanan tradisional berbahan ketan, kerap dibuat untuk disajikan pada momen istimewa, dalam lingkungan keluarga di Lampung. Di antaranya juadah, lemper, lupis dan ketan lapis atau sagubal.
Sapta (30), warga Desa Pasuruan,Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, menyebut makanan berbahan ketan yang dikenal dengan sagubal kerap disajikan pada acara khusus, terutama hari raya atau hajatan keluarga.
Menurutnya, proses pembuatan sagubal diawali dengan proses membersihkan beras ketan putih yang sudah dicuci bersih. Beras ketan sebaiknya direndam selama satu malam untuk membersihkan ketan, sekaligus membuat empuk tekstur ketan.
Selanjutnya, beras diaron dengan menggunakan santan kelapa hingga setengah matang. Setelah matang, didinginkan pada tampah atau wadah dari bambu.
Sagubal (kanan) kerap disajikan dengan kue jejorong (kiri) makanan tradisional yang kerap disajikan saat momen istimewa [Foto: Henk Widi]
Proses selanjutnya, mencetaknya dengan menggunakan sendok, potongan bambu atau cukup menggunakan tangan dengan plastik. Daun pisang yang disiapkan untuk bungkus biasanya dilayukan terlebih dahulu, memanfaatkan sinar matahari.
Menurut Sapta, daun pisang yang kerap digunakan adalah daun pisang Kepok, karena lebih mudah dibentuk dan tidak mudah robek. Pemilihan daun pisang muda dengan warna hijau segar, sekaligus menjadi daya tarik saat sagubal akan disantap.
“Ketan yang sudah matang, selanjutnya dicetak berbentuk bundar memakai bambu atau pipa, disusun berlapis dan diikat dengan ikatan bambu apus, tapi sekarang kerap menggunakan tali plastik,” terang Sapta, saat ditemui Cendana News, baru baru ini.
Penyusunan ketan yang sudah dimasak berlapis tersebut, kata Spata, menjadikan Sagubal kerap disebut sebagai ketan lapis. Setelah disusun berlapis, ketan bisa dikukus kembali hingga matang dalam waktu kurang lebih satu jam. Tanda kematangan sagubal bisa dicek dengan membuka salah satu bungkus dan mencicipi kematangannya.
Menurut Sapta, kematangan sagubal akan semakin sempurna, saat dimasak menggunakan tungku kayu, meski di era sekarang kerap menggunakan kompor gas.
Sembari menunggu matang itu, dilakukan pembuatan bumbu pelengkap berupa serundeng ikan, yang dibuat dari satu butir kelapa setengah tua yang sudah diparut, ikan giling yang biasanya menggunakan ikan tenggiri, ikan teri serta ikan parang.
Sedangkan bumbu yang digunakan, di antaranya bawang merah, bawang putih, sereh, laos, sedikit ketumbar, selanjutnya dihaluskan dengan proses menguleg atau mesin blender.
“Setelah semua bahan bumbu halus disiapkan, selanjutnya campurkan dengan kelapa parut tanpa menggunakan minyak dan disangrai,” beber Sapta.
Semua bumbu yang sudah digoreng hingga renyah dan berwarna kuning diberi tambahan gula pasir dan penyedap rasa secukupnya. Setelah semua bahan tercampur sempurna dengan rasa serundeng yang khas, selanjutnya didinginkan.
Sapta menaburkan serundeng ikan yang akan digunakan sebagai pelengkap menikmati kue sagubal [Foto: Henk Widi]
Proses selanjutnya, sagubal yang sudah matang melalui proses pengukusan menggunakan tungku kayu akan didinginkan. Serundeng yang sudah matang juga disiapkan dalam wadah khusus untuk pelengkap saat disantap.
Sapta mengatakan, kue sagubal yang semula kerap hanya dibuat saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha atau momen istimewa, kini kerap dibuat pada acara biasa.
Sejumlah pedagang kue tradisional keliling bahkan kerap membuat sagubal sebagai pelengkap. Sagubal yang dibuat kerap dinikmati dalam kondisi hangat, sehingga rasa serundeng menyatu dengan hangatnya ketan yang memiliki rasa gurih dan rasa ketan yang khas.
“Sagubal kini bisa dinikmati tanpa menunggu hari raya, terutama di sejumlah toko penyedia makanan tradisional,” beber Sapta.
Rama (9) dan Ezra (13), yang merasakan ketan lapis atau sagubal dalam kondisi hangat di warung makan yang dimiliki oleh Sapta, mengatakan, sagubal menjadi makanan tradisional mengenyangkan. Selain bisa dimakan dengan serundeng kue, sagubal juga bisa dimakan bersama dengan lontong, dilengkapi sayur kuah daging ayam.
Ezra mengaku, kue sagubal jarang ditemui dan hanya ditemui saat ada pembuat kue yang masih membuat makanan tradisional Lampung tersebut.
Nurjanah, salah satu warga Desa Padan, membenarkan, bahwa sagubal kerap hanya ditemui saat hari raya. Namun seiring dengan perkembangan saat ini, kue tersebut bisa ditemui di beberapa penjual kue.
Sebagai kue dengan bahan baku beras ketan, sagubal disajikan saat pagi hari sebagai alternatif sarapan. Sagubal juga kerap disajikan sebagai kue selingan saat istirahat kerja, ditemani secangkir teh hangat sembari bersantai.
Kue sagubal, kata Nurjanah, menjadi salah satu kekayaan kuliner khas Lampung yang dibuat saat sejumlah keluarga melakukan panen padi ketan berlimpah.
Saat panen padi ketan berlimpah, pemilik padi kerap membuat kue sagubal dan membagikannya kepada sejumlah tetangga. Hal ini sekaligus bentuk rasa syukur dan berbagi, setelah panen dan kerap beras ketan bisa disimpan dan baru dimasak saat hari raya dan hari istimewa, menjadi ketan lapis atau sagubal.
Baca Juga
Lihat juga...