Sambut Tahun Baru Islam, Warga Sumbersari Gelar Takiran

Editor: Mahadeva WS

225

LAMPUNG – Menyambut peringatan tahun baru Islam, 1 Muharam 1440 Hijriyah, ratusan warga Dusun Sumbersari, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan Lampung Selatan, menggelar tradisi takiran.

Haji Nasrulah, Kepala Dusun Sumbersari Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan [Foto: Henk Widi]
Haji Nasrulah, Kepala Dusun Sumbersari menyebut, pada kegiatan tersebut dilakukan doa bersama yang diikuti semua warga. Kegiatan digelar secara pluralisme, diikuti oleh masyarakat baik pemeluk agama Islam maupun Katolik. Semua berkumpul untuk bersyukur, atas tahun yang sudah dilalui dan harapan di tahun sesudahnya.

Tradisi tersebut, sudah berlangsung secara turun temurun. Sebagai tahun baru Islam, peringatan malam satu Suro juga sangat istimewa bagi warga yang bersuku Jawa. Sesuai kalender tahun baru Hijriyah tahun ini, tanggal 1 Muharam akan jatuh pada Selasa (11/9/2018). Pada malam harinya, warga sudah mempersiapkan malam pergantian tahun tersebut.

Di malam pergantian tahun baru Islam tersebut, diisi dengan tradisi takiran yang kerap disebut sebagai malam kenduri anak-anak. Sebagian besar anak-anak bertugas membawa makanan dari rumah, tidak seperti kenduri pada umumnya. Kebahagiaan dan keceriaan anak-anak disebut Nasrulah terlihat, sesudah doa bersama, anak-anak dan orang dewasa, membaur bersama untuk bertukar makanan, di perempatan dusun sebagai pusat kampung.

“Tradisi takiran dengan menggunakan berbagai jenis bungkus daun pisang, janur kuning, kertas nasi, besek selanjutnya akan saling dibagi kepada warga yang membawa makanan dari rumah,” terang Haji Nasrulah, Senin (10/9/2018) malam.

Tradisi berbagi makanan tersebut diawali dengan doa bersama, menggunakan tata cara Islam dan Katolik. Hal yang sudah berlangsung turun-temurun tersebut, menjadi wujud persaudaraan warga dua agama yang tinggal di dusun tersebut. Semangat kebersamaan, sebagai masyarakat melalui tradisi takiran, berbagi makanan bersama memperlihatkan kerukunan warga di dusun tersebut.

Sebagai pemimpin doa dari perwakilan agama Islam, Haji Nasrulah langsung memimpin doa. Doa akhir tahun disebutnya, berisi ucapan syukur atas keselamatan dan perlindungan bagi warga dan dusun setempat. Serta berisi harapan, di tahun yang akan dilalui, bisa lebih baik dari tahun sebelumnya.

Warga juga diberi kesehatan dan umur panjang. Hal yang sama juga didoakan oleh perwakilan dari agama Katolik yang didoakan oleh, Wagimun. Pada doanya, Dia meminta, kesejahteraan dan keselamatan bagi warga, agar hidup dalam kerukunan dan persaudaraan. “Pada berbagai kegiatan di dusun kami selalu didoakan dua agama bentuk sikap toleransi dalam hidup sebagai masyarakat dengan tetap menghormati,” beber Nasrulah.

Selain doa bersama, ada tradisi masyarakat yang masih dipertahankan, yaitu tidak tidur sore hari,  dan menunggu pergantian tahun. Beberapa warga yang masih memiliki benda pusaka, melakukan tradisi jamasan, atau menyucikan benda-benda pusaka yang dimiliki.

Ali Mustofa, salah satu warga menyebut, tradisi tersebut masih terus dilestarikan dari generasi ke generasi. Semenjak dirinya masih duduk di bangku SD, hingga kini memiliki dua orang anak, tradisi takiran masih tetap dilakukan. Dia menyebut, kegiatan tersebut kerap ditunggu oleh anak-anak karena menjadi momen kebersamaan.

Sejumlah anak bertugas membawa makanan ke tengah kampung “Anak anak sejak sore sudah bersiap untuk membawa makanan dan orang tua akan berkumpul saat doa dilangsungkan,” terang Ali Mustofa.

Tradisi bertukar makanan tersebut diakui Ali Mustofa dilakukan dengan membuat wadah makanan terbuat dari pelepah daun pisang atau takir. Berbungkus daun pisang, kertas nasi, beralaskan pelepah pisang yang dirangkai seperti nampan, membuat warga bisa saling bertukar makanan.

Seiring perkembangan zaman, sebagian warga sudah membawa nasi kotak, sehingga anak-anak bisa memakan nasi tersebut setelah didoakan. Terlepas dari cara yang berubah di tradisi malam tahun baru Islam atau malam 1 Suro, Ali Mustofa menyebut acara tersebut, mempererat persaudaraan antar generasi dan antar agama.

Baca Juga
Lihat juga...