Sang Ksatria

CERPEN ANGGORO KASIH

384

AKU duduk, melihatnya mulai bergerak.
***
Putra Bima dan Arimbi yang berasal dari semesta Arcapada turun, manapakkan kaki di hutan. Matanya tajam mengedar, dilihatnya raksasa tepat di bawah pohon besar, daunnya yang rimbun menjadi penghalang sinar matahari. Raksasa itu membawa kapak besar di tangan kanannya. Dia adalah penunggu hutan itu.

Sang ksatria Pringgadani terbang rendah menghampiri raksasa penunggu hutan. Rupanya raksasa penunggu hutan mengetahui kehadiran seseorang. Ia membalikkan badan untuk mengetahui siapa yang berani mengganggunya. Gatotkaca berhenti. Kini keduanya saling berhadapan.

Dengan mata lebar menyala, rambut panjang berantakan, taring yang tumbuh di kedua sisi, dan tubuh tinggi besar, ia berteriak. Suaranya menggelegar ke area hutan. Menerbangkan burung-burung yang tadinya bertengger nyaman di ranting-ranting pohon, menandakan bahwa dirinya tak suka dengan kedatangan Gatotkaca.

Sebenarnya jika ingin, dirinya juga bisa membesarkan tubuhnya agar sepadan dengan raksasa yang kini berada di depannya. Karena sejatinya, Gatotkaca juga merupakan raksasa. Ia lahir dari seorang raksasa perempuan bernama Hidimbi. Hidimbi sendiri merupakan raksasa penguasa sebuah hutan.

Hidimbi mempunyai saudara kembar bernama Hidimba. Namun ibu Gatotkaca lebih akrab dengan sapaan Arimbi. Arimbi bukan raksasa penunggu hutan biasa, melainkan seorang putri dari kerajaan Pringgadani. Negeri para raksasa.

Raksasa penunggu hutan merasa tidak senang dengan siapa pun yang datang ke wilayahnya. Merasa terusik, ia segera menyerang Gatotkaca. Kapaknya diangkat tinggi, siap menebas sang lawan. Dengan baju besi Antakusuma dan sarung tangan kembar Brajamusti-Brajadenta, sang ksatria Pringgadani juga menyerang sang raksasa.

Sekali pukulan, raksasa penunggu hutan terpental, badannya hancur berserakan di tanah. Darah hitam memercik ke batang pohon yang berada di sekitarnya.

Beberapa rekannya dengan senjata lengkap datang setengah berlari. Kehadiran mereka tidak sepenuhnya terlambat. Setelah usai dengan raksasa yang baru saja ia kalahkan, Gatotkaca terbang rendah memasuki area hutan semakin dalam.

Para rekannya berlari mengikuti. Dijumpainya lagi raksasa lain, tak perlu membutuhkan waktu lama untuk menghabisi raksasa itu. Kejadian seperti itu berulang sampai tiga kali. Dan Gatotkaca dengan mudah mengalahkan mereka semua.

Senja berganti petang. Namun itu tak menjadikan alasan untuk kembali dan mengakhiri pertempuran. Karena sebenarnya pertempuran baru akan dimulai. Tentu hal itu merupakan keuntungan bagi Gatotkaca.

Bukan suatu rahasia lagi bahwa semakin gelap, kekuatannya akan semakin besar. Ditambah lagi ia baru saja menyerap kekuatan beberapa raksasa yang baru saja ia kalahkan.

Setelah menumpas semua raksasa penunggu hutan, Gatotkaca tiba di tanah lapang memanjang. Di sana ia bertemu dengan panglima dan prajurit lain. Jumlah mereka cukup banyak dan akan terus bertambah. Karena masih ada pasukan yang dikirim dan masih dalam perjalanan.

Jelas itu merupakan tanda bahwa ini merupakan peperangan besar. Sementara hal yang sama juga berlaku bagi pihak musuh. Mereka terus ada, seperti tak ada habisnya. Pertempuran yang sudah berlangsung cukup lama itu pun tampaknya belum menemui tanda akan segera berakhir.

Beberapa prajurit terkapar di tanah. Mereka tewas, dihabisi seorang panglima musuh bersenjata pedang. Sudah tak terhitung berapa jumlah prajurit yang meregang nyawa oleh pedang sang panglima.

Melihat itu, Gatotkaca membesarkan tubuh. Kini ia berwujud raksasa. Tangannya yang terbungkus sarung tangan kembar Brajamusti-Brajadenta mengepal penuh amarah.

Pertarungan sengit terjadi. Beberapa kali pedang yang terkenal sangat sakti milik sang panglima mengenai tubuh Gatotkaca. Namun itu bukanlah perkara besar bagi ksatria dengan julukan “otot kawat tulang besi” itu.

Semakin dihajar, bukan makin lemah, Gatotkaca justru semakin bertambah kuat. Pusaka para dewa telah menyatu ke dalam dirinya. Hal itu terjadi ketika dulu ia diceburkan ke dalam kawah Candradimuka di Gunung Jamurdipa oleh Batara Narada yang kemudian disusul para dewa yang melempar pusaka ke dalam kawah dan menyatu dengan Gatotkaca.

Dengan kekuatan dan senjata pemberian Batara Guru, Gatotkaca menghajar musuh dengan sangat kejam. Panglima itu ditangkapnya, kemudian dibawanya terbang tinggi dan dihempaskan ke bumi. Luapan amarah karena panglima itu telah membunuh rekannya. Sekarang dendam itu sudah lunas terbalas.

Gatotkaca terus merangsek ke depan, menghabisi semua prajurit yang mencoba menghalangi. Kini ia bersama dengan rekannya yang bersenjata panah. Kekuatan keduanya mampu menumpas musuh dalam jumlah yang tidak sedikit.

Mereka juga telah menjatuhkan panji-panji musuh. Mengetahui kekuatan Gatotkaca yang tak terbendung, pihak musuh mengatur siasat untuk dapat mengalahkan ksatria otot kawat tulang besi itu.
***
SECARA harfiah, Gatotkaca mempunyai makna “bentuk kepala menyerupai kendi”. Nama Gatotkaca sendiri terdiri atas dua suku kata. “Gatt” yang memiliki arti buli-buli atau kendi, dan “Utacha” berarti kepala.

Nama itu diberikan kepadanya karena konon Gatotkaca mempunyai kepala dengan bentuk serupa kendi. Namun Gatotkaca bukanlah nama yang dibawanya sejak lahir. Karena semasa kecil, Gatotkaca memiliki nama Jabang Tetuka.

Jika bayi lain ketika lahir segera dipotong tali pusarnya, hal itu berlaku berbeda dengan Tetuka. Di usia yang sudah menginjak setahun, tali pusar Tetuka belum bisa dipotong meski menggunakan senjata apa pun.

Arjuna selaku paman sekaligus adik dari Bimasena kemudian memutuskan pergi bertapa meminta senjata kepada para dewa untuk dapat memotong tali pusar keponakannya itu. Di waktu yang sama, Karna, panglima Hastina juga sedang bertapa untuk mendapat senjata pusaka dari para dewa.

Pihak Kahyangan yang melihat kejadian itu kemudian mengutus Batara Guru untuk memberikan pusaka Kontawijaya kepada Arjuna agar digunakan untuk memotong tali pusar Tetuka.

Batara Narada kemudian turun dan salah memberikan Pusaka Kontawijaya kepada Karna. Hal itu terjadi karena Batara Narada tidak bisa membedakan wajah Karna dan Arjuna yang sejatinya merupakan saudara kembar.

Seiring berjalannya waktu, saudara kembar itu memilih jalan yang berbeda. Arjuna mengabdikan dirinya untuk Pandawa, sedangkan Karna lebih memilih mengabdikan dirinya untuk Kurawa.

Setelah mengetahui kesalahannya, Batara Narada kembali turun, memberitahukan Arjuna perihal kesalahannya. Arjuna kemudian mengejar saudara kembarnya, Karna. Keduanya kini berhadapan. Pertarungan hebat tak bisa dielakkan. Saudara kembar yang telah lama berselisih itu bertarung dalam pertempuran yang sangat sengit.

Merasa telah mendapatkan apa yang diinginkan, Arjuna memilih untuk segera pergi mengakhiri pertempuran. Karna yang merasa pusaka Kontawijaya adalah haknya, dengan cerdik berhasil menipu Arjuna yang hanya berhasil membawa pembungkusnya saja.

Karna pergi membawa pusaka Kontawijaya. Namun tampaknya pusaka pemberian dewa itu sangatlah sakti. Meskipun hanya dengan sarung pembungkus yang terbuat dari kayu Mastaba, nyatanya itu sudah bisa digunakan untuk memotong tali pusar Tetuka.

Saat digunakan untuk memotong, kayu Mastaba lenyap, masuk menjadi satu ke dalam perut Tetuka. Krisna yang saat itu ikut menyaksikan kejadian itu kemudian memberitahukan bahwa kelak Tetuka akan tumbuh menjadi ksatria yang sangat sulit untuk dikalahkan.

Keluarga Pandawa yang mendengar ucapan Krisna merasa sangat bahagia. Namun Krisna juga memberitahukan perihal ramalannya bahwa kelak, Tetuka akan tewas di tangan pemilik senjata Kontawijaya.
***
SETELAH menjatuhkan panji-panji musuh, Gatotkaca memisahkan diri dari rekannya panglima perang dengan senjata panah. Gatotkaca memburu panglima perang musuh yang terlihat melarikan diri ke dalam hutan.

Hari semakin petang, dan kekuatannya makin bertambah kuat. Tampaknya Gatotkaca tidak sadar bahwa dirinya telah dijebak. Sesampainya di tengah hutan, tiga panglima perang telah menunggu siap untuk mengeroyok. Merasa terhimpit, Gatotkaca membesarkan tubuh menjadi raksasa, guna melawan ketiga panglima perang musuh.

Sementara di tempat lain, panglima bersenjata panah berhadapan dengan panglima musuh yang juga bersenjata panah. Rupa keduanya sama. Sulit untuk dibedakan layaknya saudara kembar.

Dalam situasi tersebut, panglima musuh lebih diunggulkan karena memiliki senjata pusaka yang lebih sakti. Panglima musuh juga sangat berambisi untuk segera mengakhiri nyawa panglima bersenjata panah yang rupanya kembar dengan dirinya.

Saat hendak membunuh lawannya, tiba-tiba ada rekannya menghampiri. Memberitahukan bahwa ada yang harus ia bunuh karena yang bisa membunuh ksatria itu hanyalah dirinya. Tentu dengan senjata panah sakti miliknya. Dengan berat hati, dia mundur menjauh dari lawan yang kembar dengan dirinya, memasuki area hutan.

Sementara panglima bersenjata panah yang mulanya merasa sudah mendekati ajal merasa gembira dengan perginya sang musuh kembarannya.

Gatotkaca tampak dikeroyok oleh tiga panglima musuh sekaligus. Saat itu pula muncul lagi satu panglima. Karena waktu sudah mendekati tengah malam, panglima yang baru datang itu harus segera menentukan pilihan.

Panah saktinya hanya bisa digunakan sekali serangan. Gatotkaca yang merasa bahwa ajalnya sudah dekat, segera memperbesar ukuran tubuh menjadi ukuran maksimal. Panglima itu sudah menentukan pilihan. Ia menarik busur, anak panahnya seketika meluncur ke tubuh Gatotkaca.
***
KEMUDIAN layar menjadi hitam.

“Sialan! Padahal kurang sedikit lagi.”

“Kenapa, Bet?”

“Handphoneku mati. Aku lupa tidak membawa charger”.

“Yah, padahal sedikit lagi kita menang. Coba kamu pinjam charger sama Mas yang di sana.”

“Ya, sorry. Aku pinjam charger dulu. Setelah itu kita nonton wayang lagi.”

Aku berjalan menghampiri Mas penjual untuk meminjam charger. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 00:13. Sudah hampir tujuh jam aku menghabiskan waktu di coffee shop ini. ***

Anggoro Kasih, lahir di Karanganyar, Jawa Tengah. Pernah menuntut ilmu di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo. Sekarang aktif di komunitas sastra Kamar Kata.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Baca Juga
Lihat juga...