Sanggar Budaya di Sikka, Pelestari Adat

Editor: Satmoko Budi Santoso

133

MAUMERE – Kehadiran berbagai sanggar budaya yang ada di Kabupaten Sikka hendaknya bukan sekedar mencari uang saja dengan menampilkan atraksi tarian serta menjual aneka kain tenun ikat berbagai motif. Sanggar harus menjadi pelestari adat dan budaya.

“Saya meminta sanggar yang ada untuk berbahagia menjadi pelestari kebudayaan Kabupaten Sikka yang kian hari kian tergerus modernitas,” sebut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, Drs. Kensius Didimus, Minggu (9/9/2018).

Dikatakan Kensius, budaya yang terlestari tidak hanya menunjukkan tingginya adat dan peradaban. Tetapi juga akan mampu mendatangkan keuntungan ekonomis bagi semua pelaku pelestarian adat dan budaya.

Heribertus Adjo ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) cabang Sikka.Foto : Ebed de Rosary

“Keuntungan ekonomis yang saya maksudkan adalah keuntungan adanya kunjungan para wisatawan ke sanggar,  baik yang membayar untuk menikmati atraksi budaya maupun karena membeli produk-produk. Misalnya sarung tenun ikat,” sebutnya.

Ketua Sanggar Lurun Blutuk Lero Bekor, Markus Kustandi Lerang, mengatakan, sebelum mendirikan sanggar, dirinya merasa sangat kehilangan berbagai atraksi budaya seperti tarian yang biasa dinikmati saat kecil.

“Saya mula-mula hanyalah orang yang merasa kehilangan akan budaya indah. Saat saya kecil masih bisa menyaksikan dan mengalami. Tapi sekarang tidak ada lagi. Dari situ saya terdorong mendirikan sanggar untuk menghidupkan kembali berbagai seni budaya yang terlupa itu,” terangnya.

Markus bersyukur, semua warga di sekitar sanggar yang terletak di Nita mendukung gagasannya, sehingga sanggar berdiri dan sanggar ini didukung pula oleh Pemda Sikka serta para pelaku pariwisata.

Heribertus Adjo, Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) cabang Sikka, meminta pengelola dan penenun mempertahankan keaslian produk sarung dan menjaga sungguh-sungguh keharmonisan antara warga dan pengunjung, serta tata-cara melayani tamu.

“Tamu itu uang. Tapi jangan lihat uangnya dulu, melainkan manusianya. Perlakukan mereka dengan ramah-tamah, layanilah permintaannya dan kebutuhannya dengan sebaik-baiknya,” pesannya.

Hery juga berpesan agar membuat tamu merasa aman dan nyaman. Penting juga menjaga keharmonisan dengan masyarakat di luar sanggar. Sebab bila wisatawan senang maka dia akan mempromosikan sanggar ke mana-mana.

Konradus Rindu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) cabang Sikka, mengajak agar para pemilik sanggar membenahi fasilitas dasar. Demi memberikan kenyamanan kepada para wisatawan yang berkunjung untuk menikmati atraksi adat dan budaya di sanggar.

“Siapkan tempat parkir yang memadai dan ada penjaga yang bisa menjaga keamanan kendaraan yang diparkir. Juga perlu arena pentas untuk panggung pementasan berbagai atraksi,” pesannya.

Selain itu, tambah Konradus, bisa juga disiapkan home stay. Sebab pasti akan ada wisatawan yang ingin menginap atau memperdalam berbagai atraksi adat maupun budaya yang dipentaskan serta disuguhkan.

Lihat juga...

Isi komentar yuk