Sanggar Mawar Budaya, Lestarikan Budaya Betawi

Editor: Makmun Hidayat

251

JAKARTA — Tarian tradisi merupakan warisan leluhur yang patut dilestarikan, dan Mawar Budaya merupakan sanggar tari tradisi yang berpijak pada seni tari Betawi.

Mawar Budaya telah menghasilkan berbagai karya seni Betawi dan tari tradisi. Kini usianya sudah 28 tahun, Mawar Budaya mempersembahkan pagelaran seni bertajuk ” Tanpa Batas”.

Tari Topeng Tiga Generasi atau Tari Tigen mengawali gelaran ini dengan gerak gemulai para penari berbusana tradisi Betawi.

Tari Lenggang Nyai, yakni kreasi baru Betawi yang terinspirasi dari cerita Nyai Dasima disajikan oleh penari yang merupakan para penyitas kanker.

“Kami para penyitas kanker tampil menyampaikan pesan kepada komunitas kanker bahwa vonis kanker itu bukan akhir dari segalanya,” kata Chrystina Binol, seorang penyitas kanker kepada Cendana News ditemui di sela-sela pagelaran di Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Jumat (28/9/2018) malam.

Koreografer Tiada Batas, Chrystina Binol – Foto: Sri Sugiarti

Dengan berkesenian, jelas Chrystina sangatlah bermakna memberikan terapi healing yang memberikan kekuatan untuk melawan keganasan sel kanker. “Kita harus terus berkarya tanpa batas seperti Mawar Budaya yang berkomitmen lestarikan budaya tradisi,” kata Chrystina yang merupakan koreografer Tanda Batas.

Pimpinan Sanggar Mawar Budaya, Trimawarsanti menambahkan, pagelaran ini merupakan ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa melalui cinta, ketulusan dan harapan untuk mencapai asa tanpa batas.

Menurutnya, pagelaran ini tidak saja menyajikan kolaborasi tiada batas dari sisi usia, gender, kemampuan, status sosial, latar belakang pendidikan dan kesehatan. Namun juga memberikan ruang kepada seluruh siswa dan komunitas seni untuk berkolaborasi dalam sebuah pagelaran sebagai upaya melestarikan budaya tradisional Indonesia.

“Seni itu tidak terbatas oleh apapun maka menggabungkan berbagai unsur, seperti seni suara, gerak tari, teater, pantun bertutur dan bela diri terangkum dalam bingkai tanpa batas menampilkan aneka seni tari betawi,” jelas Santi yang menjabat Kepala Bagian Produksi dan Kreatif Program Bidang Budaya TMII.

Pimpinan Sanggar Mawar Budaya, Trimawarsanti – Foto: Sri Sugiarti

Gelaran tanpa batas ditutup penampilan drama tari “Tuan We dan Dasima : Cinta, Tragedi dan Pengorbanan”, yang menyatukan kisah cinta mereka hingga merajut mahligai rumah tangga.

Namun dalam kebahagian, suami Dasima yang merupakan orang asing tersebut ditugaskan untuk kembali ke negaranya tapi tidak diperbolehkan membawa sang istri tercinta.

Cinta keduanya terbelenggu dalam jarak dan waktu hingga derita menimpa Dasima yang berakhir di ujung maut. Tua We menemukan Dasima, istri tercinta terkujur tak bernapas di aliran sungai Ciliwung.

Manager Informasi Budaya dan Wisata TMII, Dwi Windyarto mengatakan, TMII memberikan ruang dan tempat bagi seniman untuk berproses dan berkarya.

Seiring dengan misi TMII, yaitu sebagai wahana pelestarian, pembinaan dan pengembangan kebudayaan Indonesia. “Seni tradisi tak lengkang dimakan zaman, dan pasti akan berkembang. Saya apresiasi Mawar Budaya yang telah lestarikan budaya betawi dan seni tradisi,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...