Sastrawan Eka Kurniawan: Program Penerjemahan dan Penerjemah Diperlukan

Editor: Makmun Hidayat

202
Eka Kurniawan - Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA — Eka Kurniawan termasuk sastrawan yang produktif berkarya, juga banyak meraih penghargaan. Salah satunya yang baru-baru ini diraihnya adalah penghargaan Prince Claus Award 2018 yang diselenggarakan oleh Kerajaan Belanda.

Sebelumnya, Eka juga meraih penghargaan dalam Festival Prestasi Indonesia yang digelar oleh Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) –kini Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)– pada tahun 2017.

Penghargaan sebagai ikon prestasi ini, ia raih berkat kiprahnya dalam dunia kepenulisan yang bergaung hingga ke mancanegara.

Pengalaman kiprahnya di mancanregara ini ia sampaikan berkaitan dengan Program Bantuan Dana Penerjemahan (LitRI) yang diselenggarakan oleh Komite Buku Nasional (KBN) bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

“Saya akan berbagi pengalaman mengenai program penerjemahan semacam ini di luar negeri,” kata sastrawan Eka Kurniawan dalam acara bincang santai tentang penerjemahan di stan Komite Buku Nasional – Indonesia Market Focus LBF 2019, Indonesia International Book Fair di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Minggu (16/9/2018).

Dari pengalaman sastrawan kelahiran Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, 28 November 1975, itu berhubungan dengan penerbit-penerbit asing yang bermacam-macam, seperti di antaranya ada penerbit kecil yang tidak punya uang.

“Mereka tertarik untuk menerbitkan buku-buku tertentu, tapi karena tidak punya uang tentu punya halangan-halangan tertentu dibantu dengan program penerjemahan semacam ini,” ungkap jebolan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kemudian, lanjut Eka, ada juga penerbit yang punya uang yang katakanlah relatif besar, mereka tidak mau buang-buang waktu untuk menerbitkan buku penulis Indonesia. “Mereka masih berpikir apakah ada pembacanya, dalam konteks seperti ini juga sangat terbantu dengan program penerjemahan semacam ini,” ungkapnya lagi.

Bahkan dalam kasus ektrem, kata Eka, misalkan mereka punya uang dan tertarik untuk menerbitkan buku-buku tertentu dan mau menerbitkannya. Mereka merumuskan lebih jauh bukunya yang akan diterbitkan

“Dalam kondisi-kondisi tertentu, program penerjemahan semacam ini memang sangat membantu penulis Indonesia di luar negeri,” bebernya.

Eka menyampaikan, program penerjemahan semacam ini sangat bagus mengkover terjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa asing, demikian juga sebaliknya dari bahasa asing ke bahasa Indonesia.

“Sampai sekarang yang menjadi masalah kita, adalah program ketersediaan penerjemah yang seringkali menjadi sangat masalah sekali, kalau bahasa Inggris masih ada, tapi ketika bahasa-bahasa lain, seperti bahasa Perancis maupun bahasa Jerman, mungkin ada penerjemah yang bisa tapi belum banyak penerjemah yang mengerti sastra,” paparnya.

Eka menyebut perlu ada program beasiswa bagi penerjemah yang benar-benar mau serius menerjemahan.

“Perlu dipikirkan ke depan, tidak hanya program penerjemahan, tapi juga memang perlu juga program bagi penerjemahnya,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...