Sejarah Rumoh Cut Meutia dan Rumoh Aceh di TMII

Editor: Satmoko Budi Santoso

158

JAKARTA – Taman Mini Indonesia Indah (TMII) adalah wadah pelestarian dan pengembangan ragam budaya yang mewakili 34 provinsi di Indonesia. Kesemua anjungan tersebut dibangun di sekitar danau miniatur kepulauan Indonesia yang terbagi atas enam zona. Yakni, zona Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Anjungan Aceh TMII, tepat menghadap danau miniatur tersebut, yang dalam pelestarian seni budaya masyarakatnya menampilkan dua model rumah adat, yaitu Rumoh Cut Meutia dan Rumoh Aceh.

Kepala Pelaksana Harian Anjungan Aceh TMII, Cut Putri Alyanur. Foto : Sri Sugiarti.

Kepala Pelaksana Harian Anjungan Aceh TMII, Cut Putri Alyanur, mengatakan, anjungan Aceh diresmikan pada 20 April 1975 oleh Presiden Soeharto. Idenya tergagas dari pemikiran cemerlang Ibu Negara Tien Soeharto atau bernama lengkap Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah yang ingin menyatukan budaya dan alam Indonesia sesuai kondisi aslinya dalam satu kawasan.

Yakni, sebuah kawasan yang unik, menawan dan menyenangkan sebagai sarana wisata dan edukasi budaya bangsa yang bisa dinikmati oleh pengunjung.

“Kalau saya punya jempol, empat jempol. Saya akan angkat empat jempol saya untuk Ibu Tien Soeharto, sebagai penghormatan atas ide cemerlang beliau mempersatukan budaya bangsa dalam miniatur Indonesia ini,” kata Cut Putri kepada Cendana News, Minggu (9/9/2018).

Tampilnya Rumoh Cut Meutia di anjungan ini, jelas dia, merupakan bangunan bersejarah yang sudah berusia 200 tahun. Ini merupakan bangunan rumah asli Cut Meutia yang sengaja dipindahkan dari tempat aslinya, rumah pahlawan wanita Aceh, Cut Meutia dari daerah Bukit Perak, Aceh Utara.

Rumoh Aceh di Anjungan Aceh TMII, Jakarta, Minggu (9/9/2018). Foto : Sri Sugiarti.

“Rumoh ini asli pemberian dari keluarga Cut Meutia, yaitu Cut Nursiah Nurusman untuk dipasang di anjungan Aceh ini. Ini rumah bersejarah, dan Ibu Tien mengucapkan terima kasih kepada ahli waris Cut Meutia,” kata Cut Putri.

Rumah dengan 16 tiang penyangga ini memiliki dua keunikan, pertama pada jendela yang tak punya daun jendela. Jendela di rumah ini bentuknya berupa lubang-lubang ventilasi yang diselingi ukiran di seluruh dindingnya.

Keunikan kedua, yakni bentuk pintunya, mengikuti pakem Rumoh Aceh. Dijelaskan dia, letak pintu rumah adat Aceh umumnya di lantai di ujung tangga, dengan bukaan daun pintu ke arah atas atau dalam. Menyulitkan orang untuk masuk ke dalam rumah, jika tidak menggunakan tangga. Pilihan pintu seperti ini bertujuan untuk keamanan penghuninya.

Rumah Cut Meutia juga memiliki banyak ukiran pada bagian dindingnya yang terbuat dari kayu. Ukiran di rumah ini berupa bunga-bungaan, di antaranya, bungong meulu, bungong jeumpa dan bungong mata ureo.

Rumoh Cut Meutia di area Anjungan Aceh TMII, Jakarta. Foto: dokumen Anjungan Aceh TMII.

Sedangkan untuk warna ukiran disesuaikan dengan warna dasar bangunan, dengan motif ukiran awan beriring atau canek awan yang merupakan lambang kesuburan. Ukiran ini tersaji pada tangga, dinding, dan ruang tengah bangunan.

Sedangkan untuk pintu bangunan rumah Cut Mutia terdapat sebuah lukisan kaligrafi, dan untuk tulak angin serta dinding atas dengan ukiran keurawang memiliki motif sulur-suluran. Konon, selain untuk keindahan juga dapat sebagai ventilasi bagi rumah tersebut.

Selain motif bunga, jelas dia, ada motif kaligrafi dan Pinto Aceh yang sudah cukup familiar. Desainnya diciptakan oleh Mahmud Ibrahim alias Utoh Mud, perajin yang mendapat sertifikat dari pemerintah Hindia Belanda.

Inspirasi ciptaannya berasal dari Pinto Khob, yaitu, pintu belakang istana kerajaan Aceh, tempat keluar masuknya permaisuri Sultan Iskandar Muda, jika ingin ke tempat pemandian. Di sebelah rumah ini terdapat Kreong Padi atau lumbung padi dan penumbuk padi kayu atau jengki.

Dalam rumah Cut Meutia ini dipamerkan contoh kamar Cut Meutia, pelaminan dan dapurnya. Ini sejarah bangsa yang layak diketahui oleh generasi muda.

Adapun replika Rumoh Aceh, terbagi menjadi tiga ruangan. Yaitu jelas Cut, Seramo Keue atau serambi depan yang berfungsi untuk menerima tamu. Seramo Jureu atau ruang tengah, untuk tempat tinggal keluarga inti. Seramo Likot atau serambi belakang merupakan dapur.

Dianjungan ini, masing-masing ruangan tersebut memamerkan budaya adat Aceh dari 23 kabupaten/kota meliputi, pakaian pengantin, jenis-jenis senjata, dan hasil kerajinan. Tersaji juga tempat duduk pengantin dengan hiasan sulaman khas Aceh. Tempat tidur pengantin dengan tujuh lapis seprei dan tujuh tutup kelambu.

Menurutnya, rumah adat yang berasal dari Sumatera, rata-rata hampir sama karena berpakem adat melayu yang ditopang oleh dengan kayu.

“Rumoh Aceh di anjungan ini, adalah tipe rumah Aceh Cut Nyak Dien, di Daerah Lampisan, Banda Aceh. Kalau Rumoh Cut Meutia di daerah Bukit Perak Kabupaten Aceh Utara,” ujarnya.

Ornamen lukisan rumah adat Aceh lebih ke tumbuhan atau flora. Ini, jelas Cut, karena Aceh itu bersyariat Islam tidak boleh menggambarkan ornamen dan relief kepada makhluk yang bernyawa dalam bentuk binatang.

Tipe warnanya pun identik warna Aceh, yakni hijau, kuning, merah dan hitam. Warna hijau bermakna kemakmuran, kuning perlambang kebangsaan dan kerajaan, dan merah adalah keberanian. Hitam sebagai warna dasar yang fundamen untuk seluruh warna.

Di samping rumoh Aceh, terdapat replika Lonceng Cakra Donya yang diberikan oleh kerajaan China melalui Laksamana Cheng Ho yang merupakan pelayar tangguh.

“Cakra ini hadiah dari negeri Thiongkok pada tahun 1414, sebagai ikatan persahabatan antara kerajaan China dengan Kerajaan Aceh,” tandasnya.

Cakra Donya adalah lonceng yang berupa mahkota besi berbentuk stupa buatan Cina 1409 Masehi, dengan tinggi 125 cm dan lebar 75 cm. Cakra berarti poros kereta, lambang-lambang Wishnu, cakrawala atau matahari. Sedangkan Donya berarti dunia.

Pada bagian luar Cakra Donya terdapat hiasan dan simbol-simbol berbentuk aksara Cina dan Arab. Aksara Cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo (Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5).

Anjungan Aceh TMII juga dilengkapi meunasah (mushola), panggung pertunjukan dan kantor pengelola. Setiap Sabtu dan Minggu pukul 14.00 WIB, sanggar seni diklat anjungan ini juga dimeriahkan dengan tarian khas Aceh.

Bahkan, sanggar-sanggar kesenian Aceh yang berada di sekitar Jakarta juga turut dirangkul anjungan ini untuk berlatih bersama dalam upaya pelestarian budaya tradisi Aceh.

Cut Putri berharap, melalui TMII dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan DKI Jakarta serta dinas provinsi lainnya, mengajak siswa sekolah melakukan studi budaya dan wisata ke setiap anjungan, khususnya untuk edukasi.

Semua pelajaran tentang budaya lahir di anjungan daerah yang bisa membuat anak-anak sekolah itu tahu bahasa adat daerahnya masing-masing. Misalnya, sebut dia, si anak bisa bahasa Batak, diharapkan dengan studi ke anjungan Aceh bisa tahu dan mengerti bahasa Aceh. Mereka tidak hanya belajar tentang adat daerahnya, tapi juga tahu budaya daerah orang lain.

“Ya, seperti Rumoh Cut Meutia ini kan rumah sejarah pejuang wanita Aceh dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Diharapkan generasi muda tahu sejarahnya,” tutupnya.

Lihat juga...