Sektor Pertanian di NTT Belum Digarap Maksimal

Editor: Koko Triarko

1.528
MAUMERE – Gubernur dan Wakil Gubernur NTT yang baru dilantik pada 5 September 2018, diminta agar fokus mengembangkan sektor pertanian yang selama ini masih belum menjadi prioritas.
“Harus diakui, sektor pertanian meskipun sebagai penyumbang terbesar perekonomian di NTT, namun potensi ini belum digarap masksimal. Untuk bawang saja kita masih mendatangkan dari Bima, provinsi NTT dan Sulawesi,” sebut Direktur Wahana Tani Mandiri, Carolus Winfridus Keupung, Senin (10/9/2018).
Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM), Carolus Winfridus Keupung. -Foto: Ebed de Rosary
Dikatakan, Wim, sapaannya, sesuai data BPS, total lahan irigasi di NTT sebanyak 214.883 hektare, dengan luas lahan irigasi 122.895 hektare, sementara lahan nonirigasi 91.998 hektare.
“Dari jumlah tersebut, luas lahan sawah yang tidak ditanami apa pun sebanyak 24.345 hektare, sementara tidak ditanami padi sebanyak 9.191 sesuai data BPS NTT 2016,” bebernya.
“Sementara luas lahan pertanian yang sementara tidak dimanfaatkan sebanyak 808.625 hektare di 2015. Ini menunjukkan, masih banyak lahan tidur yang belum digarap,” ungkapnya.
Pada 2016, tambah Wim, tanaman pangan menyumbang 8,86 persen dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di provinsi NTT, sementara kontribusi dari subsektor peternakan dan hasil-hasilnya mampu mencapai 9,48 persen menurut data BPS 2017.
“Meski penyumbang terbesar PDRB, namun sektor pertanian masih belum digarap secara serius dan maksimal. HaI ini yang menyebabkan tingkat kesejahteraan petani di NTT masih sangat memprihatinkan,” tuturnya.
Untuk itu, katanya, diperlukan sebuah terobosan dengan membuat perencanaan berdasarkan data yang valid, menentukan langkah yang dilakukan serta melakukan evaluasi setelah program dijalankan.
“Bila ini dijalankan, maka bisa dijamin sektor pertanian bisa berkembang dengan baik dan bisa memberikan kesejahteraan bagi petani kita,” sebutnya.
Sementara itu, Servasius Sina, petani di kabupaten Sikka, menyebutkan, selama ini petani sangat bergantung kepada pupuk kimia dan air dalam mengelola lahan sawah yang dimiliki.
“Pupuk hanya bisa dibeli melalui kelompok, dan terkadang harus menunggu terlebih dahulu bila stok di pengecer lagi kosong. Namun, kendala terbesar yakni ketersediaan air, di mana saat musim kemarau pasti debit mata air menurun drastis,” ungkapnya.
Tidak heran, kata Servas, petani di kecamatan Magepanda tidak semuanya bisa menanam padi saat musim kemarau, karena hanya petani yang memilki modal besar saja yang bisa menegebor air dan menggunakan pompa untuk mengairinya ke sawah.
Baca Juga
Lihat juga...