Selamatkan Lingkungan, Sumbar Galakan Konservasi Perairan

Editor: Mahadeva WS

166

PADANG – Sumatera Barat (Sumbar) membutuhkan lokasi konservasi perairan. Hal itu dibutukan untuk menjaga ekosistem lingkungan dan biota laut di daerah tersebut.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumatra Barat (Sumbar) Yosmeri/Foto: M Noli Hendra

“Adanya kawasan konservasi di kawasan pesisir, untuk menjaga eksosistem lingkungan dan biota laut tetap terjaga. Karena, sumber daya alam hayati dan ekosistem, pada dasarnya saling tergantung antara satu dengan yang lainnya,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar, Yosmeri, Selasa (4/9/2018).

Saat ini kawasan konservasi di Sumbar ada tujuh. Diantaranya, Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) yang terletak di Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Pasaman Barat dan Kabupaten Kepulauan Mentawai. “Dikawasan KKPD ini dilaksanakan kegiatan perlindungan dan pelestarian hewan, serta kegiatan pelestarian ekosistem lingkungan pesisir dan laut,” tambahnya.

Keberadaan kawasan konservasi, memberikan manfaat bagi masyarakat pesisir. Dengan demikian, pemerintah daerah setempat berupaya membentuk kelompok peduli kepada ekosistem dan biota laut. “Tidak hanya itu, kita juga melakukan pengendalian dengan lakukan patroli laut. Sehingga, kita dapat mengendalikan apapun yang menganggu ekosistem dan biota laut. Contohnya, kita melakukan penindakan kepada salah satu resort yang mengambil terumbu karang untuk pembangunan tempatnya,” terangnya.

Sumatera Barat memiliki sejumlah tempat konservasi penyu yang tersebar disejumlah daerah, seperti konservasi di Pasir Jambak dan Pantai Air Manis, di Kota Pariaman, Kabupaten Pasaman, dan di Kabupaten Pesisir Selatan. Sumbar termasuk daerah yang cukup aktif melakukan konservasi hewan yang dilindungi. “Kita sangat mendukung adanya kegiatan konservasi penyu itu. Karena selain adanya kesadaran bagi masyarakat untuk menjaga dan melindungi penyu. Dengan adanya konservasi tersebut turut memberikan edukasi bagi masyarakat, serta menjadi ekowisata,” tambahnya.

Konservasi penyu yang dilakukan, mulai dari penetasan, pelepasan tukik, dan juga pelepasan penyu. Disetiap lokasi konservasi, ada ratusan penyu yang diselamatkan masyarakat, yang membetuk sebuah kelompok penyelamat penyu.

Peneliti Penyu dari Universitas Bung Hatta, Padang, Sumatera Barat, Harfiandri Damanhuri mengatakan, saat ini diperkirakan, populasi penyu di Sumatera Barat mencapai 30.000 ekor. Dari jumlah tersebut, yang paling banyak berada di kawasan Kabupaten Kepulauan Mentawai. Hitungan populasi itu, terlihat dari banyaknya penyu yang hendak naik ke daratan untuk bertelur. “Jadi yang di Mentawai memang banyak penyu yang naik untuk bertelur. Sedikitnya ada sekira 8.000 ekor penyu yang bertelur di Mentawai dalam rentang waktu selama satu tahun,” katanya.

Harfiandri menyebut, tempat konservasi penyu tidak hanya turut melestarikan hewan yang dilindungi tersebut, tetapi juga telah menciptakan sebuah wisata edukasi seputar penyu.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.