Seluruh Perguruan Tinggi Berpotensi Disusupi Radikalisme

Editor: Mahadeva WS

187

JEMBER – Perguruan Tinggi (PT) di seluruh Indonesia, berpotensi disusupi ajaran radikalisme. Hal itu merupakan hasil survei intelejen, yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) sejak 2017 hingga pertengahan 2018.

“Terkait penyebaran teroris, BNPT sudah melakukan penelitian melalui intelejen. Dan hasilnya sudah masuk dunia pendidikan. Seluruh perguruan tinggi di Indonesia berpotensi terpapar radikalisme,” ujar Kasubdit Binmas Direktorat Deradikalisme BNPT, Solihudin Nasution, usai mengisi kuliah umum “Anti Radikalisme dan Anti Terorisme dalam Menjaga NKRI” di Gedung Soetarjo Universitas Jember, Rabu (26/9/2018).

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dunia pendidikan khususnya PT, menjadi sasaran penyebaran radikalisme, menyasar mahasiswa dan dosen. “Jadi radikalisme ini sudah menyebar ke semua lini, termasuk seluruh perguruan tinggi. Masyarakat terpapar, mahasiswa terpapar, dosen juga terpapar. Bahkan pejabat dan polisi pun ada yang terpapar radikalisme,” tandas Solihudin.

Kendati demikian, Solihudin menolak menyebutkan nama PT yang sudah terpapar ajaran radikalisme. “Kalu kita harus menyebutkan di lembaga pendidikan mana itu kita tidak boleh. Itu harus disampaikan kepada universitas secara langsung. Karena ini kan faham yang tidak boleh tersebar. Itu wewenangnya intelejen untuk menyampaikan,” terangnya.

Menurut Solihudin, ada sejumlah faktor utama penyebaran faham radikalisme di PT. Salah satunya adalah, minimnya pengetahuan civitas akademika, tentang ilmu agama. Hal itu membuat mereka mudah terpengaruh oleh ajaran radikalisme yang mengatasnamakan agama. Selain itu, faktor ekonomi, kedangkalan keilmuan, faktor ketidakpuasan terhadap lingkungan, pemerintahan maupun dunia internasional, faktor dendam juga menjadi pendorong menyebarnya radikalisme.

Oleh sebab itu, untuk menanggulangi radikalisme, BNPT sudah menggandeng seluruh kementerian dan lembaga pemerintahan, menyosialisasikan bahaya radikalisme, agar penyebarannya bisa diantisipasi sedari dini. “Jadi kita sudah ada MoU dengan kementerian-kementerian, termasuk Kemendikti. Ketika BNPT menemukan di Universitas ini ada penyebaran ajaran radikalisme, sehingga informasi ini kita sampaikan kepada menterinya. Menterinya akan menegur rektor,” jelasnya.

Dr. Abdullah Syamsul Arifin, Ketua Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Jember menyebut, radikalisme dan terorisme terjadi karena pemahaman agama yang sempit. Paham kebenaran agama dengan menyalahkan pihak lain yang berbeda dengan kelompoknya. Ini akibat dari pemahaman agama yang dilakukan secara instan.

“Hati-hati belajar agama dari internet, jangan karena alasan sibuk, menjadikan mahasiswa enggan menimba ilmu agama dari para guru agama, kiai, dan ustad yang sudah terbukti memiliki otoritas agama yang diakui. Pagi hingga sore Anda bisa menimba ilmu di Kampus Tegalboto, malamnya bisa belajar di pesantren yang banyak tersebar di Jember,” kata kyai yang akrab dipanggil Gus Aab tersebut.

Dosen IAIN Jember tersebut meminta, agar diseminasi pemahaman agama yang moderat, seperti yang diajarkan oleh organisasi keagamaan NU, Muhammadiyah, ataupun MUI,  lebih intens dilakukan. Hal itu untuk memberikan pemahaman akan Islam yang rahmatan lil alamien.

Kapolres Jember, AKBP Kusworo Wibowo membeberkan, ciri-ciri mereka yang sudah terpapar ajaran radikalisme dan terorisme, seperti meninggalkan sekolah, kuliah dan pekerjaaan. Bersikap tertutup dengan orang lain, serta mengalami disharmoni dengan keluarga dan kawan dekat.

“Beberapa waktu lalu kami menangani kasus terorisme dimana ada seorang mahasiswa di Jember yang sudah siap menjadi pengebom. Untungnya di saat-saat akhir yang bersangkutan berbicara dengan keluarganya yang kemudian melaporkan kepada kami. Alhamdulillah dengan cara-cara persuasif, jajaran Polres Jember beserta Polda Jatim berhasil mencegah niatan tadi, bahkan mampu membongkar keberadaan kelompok teroris tersebut,” tuturnya.

Sofyan Tsauri, mantan teroris yang kini menjadi aktivis anti radikalisme dan terorisme di Indonesia menyebut, mahasiswa merupakan target penyebaran paham radikalisme dan terorisme. Oleh karenanya, mahasiswa diminta berhati-hati terhadap tawaran berkedok kegiatan mengaji. “Jangan karena ikut mengaji atau daurah sebulan dua bulan lantas berani berfatwa,” tutur Tsauri.

Tsauri menyebut, ciri-ciri kelompok yang patut dicurigai sebagai kelompok radikalisme dan terorisme, yakni eksklusif, intoleran, sering melakukan nikah tanpa wali, mudah mengkafirkan kelompok lain, bahkan enggan salat di masjid yang bukan masjid kelompoknya, termasuk dalam melakukan Salat Jumat.

Baca Juga
Lihat juga...