Semarak Sail Pulau Moyo Tambora 2018

285

JAKARTA — Sebanyak lima penerjun paramotor beratraksi di langit biru Pulau Moyo, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Mereka berputar-putar di atas laut sehingga memberikan hiburan tersendiri bagi warga pada acara Sail Moyo Tambora 2018.

Mereka terbang flying pass di depan podium upacara dengan komposisi pilot pertama Edwin Uzir berparasut warna biru merah kuning yang merupakan pilot paramotor dari Bekasi.

Pilot kedua Teguh Rasdianto dengan parasut oranye dari Tangerang Selatan, pilot ketiga Rudi Hindarko dengan parasut biru ungu dari DKI. Selanjutnya pilot keempat Taufik Nugraha dengan parasut warna merah oranye berasal dari Bandung serta pilot kelima Anwar Soerjomataram dengan parasut oranye putih hitam dari Jakarta.

Hiburan bermakna bagi warga Nusa Tenggara Barat akan menandai kebangkitannya pariwisata provinsi tersebut pascagempa tektonik yang menerjang wilayah tersebut.

Atraksi penerjun paramotor pada 9 September 2018 bagian dari sejumlah kegiatan Sail Moyo Tambora 2018. “Paramotor terbang dalam dua sorti dimulai pukul 07.00 waktu setempat sebelum upacara pembukaan Sail Moyo Tambora,” kata manajer tim paramotor, Dewi.

Paramotor adalah olahraga dirgantara yang berada di bawah organisasi dunia Microlight (Federation Aeronautique International) dan bernaung di bawah Federasi Aero Sport Indonesia. Olahraga dirgantara paramotor kini berkembang pesat dengan pilot/penerbang yang tersebar hampir di seluruh Indonesia.

Untuk menyambut even yang berlangsung sejak 9 sampai 23 September 2018 itu, Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Moh Fauzal pernah menyatakan 140 kapal yacht dipastikan mengikuti Sail Moyo Tambora yang dilaksanakan di Teluk Saleh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, pada 9-23 September 2018.

“Yang sudah konfirmasi ke kita ada 140 peserta,” kata dia.

Sebanyak 140 yacht akan melintasi jalur Sail Moyo-Tambora di perairan Indonesia. Para peserta mulai berlayar dari dua lokasi berbeda sebagai titik start, yakni sebagian dari Darwin, Australia dan Malaysia serta Singapura, mulai awal Juni.

“Kapal-kapal layar ini nantinya akan berkumpul di kawasan Labuhan Bajo, Flores, NTT pada awal September, untuk kemudian bersama-sama menuju lokasi puncak kegiatan di Teluk Saleh yang menjadi bagian dari kawasan minapolitan Samota (Saleh, Moyo, Tambora) di Pulau Sumbawa,” jelasnya.

Sebanyak 17 rangkaian kegiatan disiapkan untuk menyemarakkan Sail Moyo juga digelar, di antaranya Ekspo Maritim, Penampilan Kebudayaan Moyo Tambora, Festival Budaya, Festival Tenun Internasional, Barapan Kebo, Berselancar Internasional, dan Dialog Budaya Maritim.

“Ada juga parade 1.000 Perahu Tradisional, kemudian Lari Gembira Moyo Tambora, Forum Investasi, serta bersih pantai,” kata Fauzal.

Drama musikal Tanjung Menangis berjudul Istana Takdir Rindu digelar pada opening ceremony Sail Moyo Tambora 2018 – Foto: Youtube

Perjalanan NTB untuk menjadi tuan rumah Sail Indonesia dimulai sejak 2015. Dengan NTB ditetapkan sebagai tuan rumah Sail Indonesia dengan bagiannya, Sail Moyo Tambora 2018, maka hal-hal terkait itu semua menjadi materi rapat Dinas Pariwisata NTB dan pihak-pihak terkait lain di sana.

“Alhamdulilah, Sail Indonesia yang ‘di-branding’ Sail Saleh Moyo Tambora (Samota) 2018 ini Kabupaten Sumbawa menjadi tuan rumahnya. Sail Moyo Tambora 2018 ini akan berlangsung pada 9-22 September 2018 mendatang, dan mempunyai tujuan untuk mendatangkan wisatawan untuk berkunjung ke Pulau Sumbawa pada khususnya,” ucapnya.

Bupati Sumbawa M. Husni Djibril memberi apresiasi terhadap pelaksanaan Sail Moyo Tambora 2018 di Kabupaten Sumbawa karena bisa mengangkat dan memperkenalkan potensi wisata daerah itu.

Djibril juga mengimbau kepada seluruh jajaran SKPD Kabupaten Sumbawa untuk memeriahkan dan menysukseskan Sail Moyo Tambora 2018, mulai dari awal kegiatan hingga puncaknya di Pelabuhan Badas, Kabupaten Sumbawa, pada 10 September mendatang.

Ia menekankan kebersihan lingkungan di Kabupaten Sumbawa harus tetap dijaga. Pada 2017, Kabupaten Sumbawa hampir dipastikan menjadi tuan rumah Sail Indonesia namun gagal karena kebersihan lingkungan.

“Saya tidak mau gagal lagi dalam kegiatan Sail Moyo Tambora ini. Kebersihan lingkungan harus kita jaga, mengingat kegiatan ini sudah masuk dalam 100 keindahan Indonesia di Kementerian Pariwisata,” kata dia.

Inovasi Desa Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi menampilkan inovasi-inovasi desa dalam pameran untuk memeriahkan acara Sail Moyo Tambora 2018.

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) melalui Kepala Biro Humas Kemendes PDTT, Bonivasius Prasetya Ichtiarto, mengatakan model-model pemberdayaan masyarakat desa di berbagai daerah juga ditampilkan dalam acara tersebut.

“Kementerian Desa berpartisipasi dalam pameran ini juga untuk mengangkat program-program pemberdayaan yang sudah dilakukan di desa dan daerah tertinggal, termasuk dana desa,” katanya.

Diharapkan Kemendes PDTT dalam Sail ini bisa memberikan praktik-praktik nyata untuk berbagi pemberdayaan masyarakat, tidak hanya untuk Sumbawa, akan tetapi juga untuk kabupaten lain di Indonesia.

Selain menampilkan ragam inovasi desa, stan Kemendes PDTT juga menampilkan data realisasi penggunaan dana desa yang menunjukkan bahwa dalam tiga tahun terakhir dana itu sudah digunakan untuk membangun 123.858 kilometer jalan desa, 791.258 meter jembatan, 6.576 unit pasar desa, 26.750 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), 2.960 tambatan perahu, 1.971 embung, 28.830 irigasi, dan 3.111 sarana olahraga.

Dana desa juga telah digunakan untuk membangun 67.094 unit penahan tanah, 38.331 fasilitas air bersih, 112.003 unit MCK, 5.402 polindes, 38.217.065 meter drainase,18.177 unit fasilitas pendidikan anak usia dini, 11.574 unit posyandu, dan 31.122 sumur.

Bonivasius berpendapat Sail Moyo Tambora akan membawa manfaat signifikan bagi pengembangan pariwisata dan menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

“Sail ini tujuannya ada di dua sektor, pertama pariwisata, yang kedua perikanan. Tapi sebenarnya produk pertanian juga bisa dikembangkan, seperti jagung,” ujarnya.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, menyebutkan Sail Moyo Tambora 2018 yang digelar di Sumbawa merupakan awal kebangkitan pariwisata pascagempa beruntun di provinsi tersebut.

Luhut yang meresmikan kegiatan Sail Moyo Tambora 2018, Minggu (9/9) itu, mengapresiasi terselenggaranya acara yang juga diisi dengan rangkaian kegiatan amal dan bakti sosial, sehingga dapat membangkitkan semangat dan mengurangi beban korban yang terdampak gempa.

Perhelatan Sail Moyo Tambora 2018 menjadi awal dari pemulihan pariwisata Lombok dan Sumbawa pascagempa yang menerpa NTB secara beruntun dalam beberapa waktu terakhir.

“Saya mengimbau, bilamana kita mempunyai kegiatan perhelatan di luar kantor, mari kita arahkan pelaksanaannya di kawasan ini sebagai bentuk solidaritas kita untuk membangkitkan kepariwisataan di sini,” katanya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...