Sikka Kekurangan Vaksin Anti Rabies

Editor: Mahadeva WS

148
Anjing peliharaan warga Kota Maumere yang masih bebas berkeliaran dan masih belum divaksin rabies. -Foto: Ebed de Rosary

MAUMERE – Di tengah meningkatnya kasus gigitan anjing rabies, di 2018 ternyata Pemkab Sikka kekurangan vaksin rabies untuk hewan peliharaan baik seperti anjing, kucing maupun kera.

“Dosis vaksin rabies untuk hewan ada 33 ribu yang bersumber dari dana APBN, dari Kabupaten Sikka ada 21 ribu dosis. Dari jumlah tersebut yang sudah digunakan 12 ribu dosis, mencakup 10 kecamatan dan 40 desa. Sementara jumah anjing saja ada 60 ribu ekor,” jelas Penjabat Bupati Sikka, Drs.Mekeng P.Florianus, Senin (3/9/2018).

Dikatakan Mekeng, untuk 2018 Pemkab Sikka sudah mengajukan anggaran, namun belum ada jawaban dari pemerintah pusat. Sikka membutuhkan minimal 55 ribu dosis vaksin rabies, sebab populasi anjing sudah mencapai 60 ribu ekor. “Terkait usulan dari DPRD Sikka agar menggunakan dana tanggap darurat, usul ini nanti saya akan cek terlebih dahulu, sebab berada di pos anggaran yang mana. Di Sikka ini kasus rabies bukan hal yang baru, dan saya sudah meminta agar segera mencari seekor anak anjing yang dibawa ke kota Maumere dan tertular rabies,” sebutnya.

Di 2018, hingga akhir Agsutus lalu,  29 spesimen otak anjing yang menggigit masyarakat sudah dikirim untuk pemeriksaan laboratorium veteriner di Denpasar. Hasilnya, posistif rabies. Sementara di 2017, ada 11 spesimen yang dinyatakan posistif rabies. Di 2018 hingga Agustus, sudah ada 720 kasus gigitan anjing. Jumlah tersebut tergolong besar, sehingga dilakukan koordinasi untuk melakukan penanganan secara cepat dan tepat.

Dokter Asep Purnama, sekertaris Komite Rabies Flores dan Lembata (KRFL). Foto : Ebed de Rosary

Dokter Asep Purnama, Sekretaris Komite Rabies Flores dan Lembata (KRFL) menyebut, sampai Agustus 2018, dari 64 sampel yang dikirim ke Denpasar untuk diperiksa di laboratorium, 29 spesimen dinyatakan positif rabies. Dan jumlah tersebut terus mengalami peningkatan. “Jika dibandingkan dengan enam tahun terakhir, maka ada peningkatan drastis, sehingga harus segera diambil langkah tegas, untuk menghentikannya, agar kasus rabies tidak menyebar ke wilayah kecamatan lain yang belum tertular,” tandasnya.

Di 2012, dari 20 sampel yang diperiksa, ditemukan sembilan sampel positif rabies. Di 2013, ada tiga sampel positif dari 14 sampel, sementara di 2014 dari 14 sampel yang diperiksa, hanya satu yang diketahui positif rabies.Di 2015, tercatat  ada dua sampel positif dari sembilan sampel yang dikirim, sementara di 2016, hanya satu sampel saja yang positif dari 11 sampel yang dikirim. Di 2017, dari 28 sampel yang dicek, 11 sampel positif rabies.

Asep menyarankan, warga yang digigit anjing yang diduga tertular rabies, segera mencuci luka bekas gigitan di air yang mengalir selama kurang lebih 15 menit. Pencucian dilakukan dengan sabun, lalu segera bawa korban ke rumah sakit untuk diberikan suntikan anti rabies. Rabies atau sering dikenal dengan sebutan penyakit anjing gila, akan menyerang otak dan sistem saraf manusia.

Penyakitnya termasuk golongan mematikan. Gejala rabies pada manusia antara lain demam tinggi, rasa gatal di bagian yang terinfeksi, perubahan perilaku menjadi agresif, dan takut terhadap air atau hidrofobia serta kesemutan. “Gejala rabies biasanya muncul sekitar empat sampai 12 minggu setelah pasien digigit hewan yang terinveksi. Hewan rabies dagingnya tidak boleh dikonsumsi sebab virusnya akan menyebar,” tegasnya.

 

 

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.