Sistem ‘Yarnen’, Solusi Kredit Peralatan Warga di Lamsel

Editor: Koko Triarko

145
LAMPUNG – Keinginan untuk memperoleh sejumlah perabotan rumah tangga, khususnya peralatan memasak, kerap terkendala ketiadaan uang tunai. Memanfaatkan kondisi ini, penjual peralatan memasak di Lampung Selatan, menjualnya dengan cara kredit atau dibayar setelah panen, atau ‘yarnen’.
Muklis (28), pemilik usaha penjualan perabotan rumah tangga, khususnya sejumlah peralatan memasak, menyebut, peralatan memasak berupa wajan, dandang, alat pembuat kue, periuk, langseng, kuali, panci dan peralatan memasak dari alumunium dibuat di kecamatan Natar.
Ratusan pedagang menjadi ujung tombak dalam mendistribusikan peralatan memasak tersebut. Penjual tersebar di sejumlah kabupaten kota yang ada di provinsi Lampung, untuk memenuhi kebutuhan sejumlah pemilik usaha kuliner, kerajinan rumah tangga serta ibu rumah tangga.
Berbagai barang tersebut dijual ke pelanggan dengan sistem kredit, dan khusus di wilayah pedesaan dijual dengan sistem bayar panen (yarnen).
“Sebagian peralatan memasak yang saya sediakan terbuat dari alumunium dan dijual dengan sistem kredit, agar ibu rumah tangga dan konsumen lain bisa memakainya terlebih dahulu sebelum memiliki uang, dengan menunggu menjual hasil panen,” terang Muklis, Selasa (11/9/2018).
Muklis menyebut, sistem bayar panen dilakukan berdasar kepercayaan dari konsumen yang membeli peralatan tersebut. Cara tersebut sudah dijalankan sejak puluhan tahun silam, sebagai cara mendapatkan pelanggan dan meringankan cara pembayaran.
Konsumen dari masyarakat ekonomi menengah ke bawah, menjadi faktor diterapkannya sistem pembayaran tempo. Sebab, sebagian masyarakat, di antaranya petani dan pekebun kerap memiliki uang saat panen padi, jagung atau pemilik tambak.
Mukhlis menyebut, cara itu dilakukan pertama kali saat musim panen jagung di wilayah Lampung Tengah. Sistem pembayaran pascapanen atau dikenal Yarnen dilakukan petani pertama kali untuk pembayaran kredit kendaraan roda dua.
Kala itu, katanya, satu unit kendaraan yang dijual seharga Rp5juta bisa dibayarkan dalam jangka tiga kali masa panen jagung. Praktiknya, sejumlah petani bahkan bisa melunasi kredit kendaraan lebih awal dari waktu panen.
“Masa panen jagung dilakukan sekitar empat bulan sekali, dan kredit kendaraan motor bisa diterapkan bayar panen, lalu penjual peralatan memasak menerapkan sistem yang sama,” beber Muklis.
Berbagai jenis peralatan memasak yang dijual oleh Muklis, harganya bervariasi. Wajan ukuran kecil seharga Rp100.000, wajan sedang Rp150.000 hingga wajan besar Rp200.000. Jenis dandang dijual seharga Rp200.000 ukuran sedang serta sejumlah peralatan lain maksimal dijual seharga Rp300.000.
Penerapan sistem Yarnen untuk alat memasak, kata Muklis, lebih diminati sejumlah ibu rumah tangga. Sebab, cara tersebut membuat ibu rumah tangga bisa menabung untuk membayar pada saat waktu yang ditentukan, yang umumnya selama tiga bulan.
Muklis menyebut, menjual semua peralatan tersebut dengan menggunakan kendaraan roda dua dan yang sudah sukses mulai memakai kendaraan roda empat.
Mengontrak di salah satu rumah warga di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, ia menjual berbagai peralatan tersebut hingga ke beberapa kecamatan di Lampung Selatan.
Setelah mendapatkan konsumen, Muklis hanya menuliskan nama dan alamat konsumen, memberitahukan pembayaran dilakukan tiga bulan setelah barang diterima. Ia bahkan tidak meminta uang muka (Down Payment).
Satu kali berkeliling menjajakan peralatan memasak, Muklis membawa sekitar 30 peralatan memasak. Semua peralatan tersebut kerap laku terjual dalam sehari, sehingga ia bisa kembali ke kontrakan tanpa membawa barang dagangan.
Sembari berkeliling menjajakan peralatan baru, ia menagih kepada konsumen yang tiga bulan sebelumnya telah mengambil barang. Sebagian bahkan ada yang memilih membayar satu bulan lebih cepat sebelum waktu yang ditentukan, karena sudah memiliki uang.
Tutik (30), salah satu ibu rumah tangga yang berada di dekat kontrakan milik pedagang peralatan memasak, mengaku terbantu dengan sistem pembayaran kredit. Pasalnya, suami yang bekerja sebagai petani kerap memiliki uang setelah panen. Sebagian uang hasil panen disisihkan untuk mencukupi pembayaran alat rumah tangga yang dijual secara kredit.
“Tanpa menggunakan pembayaran kontan, saya bisa memiliki sejumlah alat memasak, apalagi saya keluarga baru, mencicil menjadi cara untuk memiliki alat memasak pelengkap,” beber Tutik.
Alat memasak pelengkap diakuinya merupakan sejumlah alat memasak untuk acara-acara seperti pernikahan dan khitanan. Yakni, berupa peralatan berukuran besar yang hanya dipakai pada saat tertentu.
Melalui sistem pembayaran panen sejak dua tahun terakhir, sejumlah alat bisa diperolehnya dan sudah dibayar lunas. Terakhir, ia mengaku membeli dandang besar untuk dipergunakan sebagai alat penanak nasi.
Pemilik usaha kuliner bernama Ratna Yunianti (41), mengaku menggunakan dandang besar untuk mengukus bahan kerupuk kemplang yang sudah dicetak. Ia mengaku, dandang berusia sekitar lima tahun harus diganti dengan yang baru.
Dandang yang cukup besar tersebut harus dibeli dengan sistem pemesanan, karena penjual peralatan memasak seperti Muklis tidak membawa saat keliling.
Sistem pemesanan diakuinya dilakukan dengan mengukur diameter dan tinggi dandang untuk dibuatkan baru sesuai ukuran. Sistem pembayaran dengan kredit, diakuinya cukup membantu untuk mendukung usaha kecil pembuatan kerupuk kemplang miliknya.
Baca Juga
Lihat juga...