Soto Mi Betawi, Kuliner Legendaris Khas Kota Bekasi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

703

BEKASI — Soto Mi Betawi saat ini sudah jarang dijumpai di Kota Bekasi. Dulu era 90-an kuliner khas ini banyak dijumpai di komplek warga ataupun tepi jalan karena dijual pikulan. Tapi sekarang seakan langka dan orang lebih kenal Soto Betawi, ataupun Soto Mi Bogor.

Soto Mi Betawi, memiliki citarasa berbeda dibanding soto betawi, meski mirip tetapi lebih menonjolkan rasa khas tersendiri. Racikan tradisional menjadi andalan yang terjaga dan dilestarikan sejak tahun 60-an. Tak heran jika sekarang Soto Mi Betawi banyak diburu penikmat kuliner khas daerah di Kota Bekasi.

Soto Mi Betawi, seakan menjelma menjadi menu legendaris, dan difavoritkan bagi warga Kota Patriot. Dengan kuah khas, isinya mi kuning, soun, kol, saledri, koya, dan rempah dipadu daging khusus kepala sapi. Hanya kepala sapi yang tidak dipotong dan langsung dijeburkan ke dalam kuah yang telah diisi racikan. Mungkin ini keistimewaannya dan tentunya kepala sapi tersebut, terlebih dulu dibersihkan.

Menggunakan pakaian khas Betawi, sedang melayani pembeli. Foto: Muhammad Amin

Racikan yang tetap dijaga, menjadi rahasia kenikmatannya, seperti bumbu dikerjakan secara tradisional tidak menggunakan mesin apapun, di tengah banyaknya peralatan modern. Itu untuk menjaga kestabilan rasa.

“Ini adalah resep warisan dari Ayah, dan saya sebagai anak tunggal tentu harus meneruskan usaha ini setelah beliau meninggal. Meskipun dua tahun ini, diracik oleh saya, tapi rasanya tidak merubah dari H. Bari sang maestro Soto Mi Betawi,” kata Samnah, pemilik sekaligus pengelola warung Soto Mi Betawi H. Bari.

Di tangan Samnah, kuliner khas Kota Bekasi itu, terus berkembang dan setidaknya menghantar nama Kota Bekasi menjadi juara dua tingkat Provinsi saat perlombaan makanan khas daerah menggeser makan khas daerah dari Kota dan Kabupaten lain di Provinsi Jawa Barat tahun lalu.

 

Ia juga mengisahkan Soto Mi Betawi, yang dijalankan adalah usaha ayahnya alm. H. Bari, awal mula merintis jualan keliling kampung dengan dipikul. Hal itu dilakoni kurang lebih selama 12 tahun lamanya, hingga akhirnya dapat menyewa tempat.

“Pada tahun 2000-an mendapat tempat di kawasan Sumber Arta sampai sekarang tetap bertahan,” tambahnya.

 

Baca Juga
Lihat juga...