Suweden: Pak Harto, Presiden yang Bijak dan Sangat Mencintai Rakyatnya

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

279

JAKARTA — I Gusti Nyoman Suweden, mantan ajudan presiden ke-2 Indonesia, mengaku bangga bisa mendampingi Jenderal Besar HM Soeharto dalam kehidupannya hingga akhir hayat.

“Bangga. Saya bangga bisa mendampingi Pak Harto, semasa hidupnya. Beliau itu melebihi bapak saya sendiri, sangat perhatian dan berhati mulia,” kata Suweden kepada Cendana News ditemui di sela-sela haul ke 11 Pak Harto di Jalan Cendana No.8, Menteng, Jakarta, kemarin.

Peristiwa bersejarah 21 Mei 1998, saat Presiden Soeharto menyatakan diri berhenti dari jabatannya setelah didemo oleh mahasiswa, menurut Suweden, adalah untuk keamanan rakyat yang dicintainya.

“Pak Harto sangat bijaksana berpikir jernih demi rakyat. Meski dihujat beliau tidak dendam, tapi mengikhlaskan,” ujarnya.

Pasca peristiwa Mei 1998, Letnan Kolonel Purnawirawan TNI Angkatan Darat ini tetap menjadi ajudan Pak Harto. Suweden pun merasa bangga karena Pak Harto yang meminta dirinya untuk terus mendampinginya.

“Beliau yang pilih saya untuk melayani dalam kesehariannya. Ini kebanggaan karena saya bisa mendampingi mantan orang nomor satu di Indonesia,” tandasnya.

Suweden mengaku banyak kenangan indah selama menjadi ajudan Pak Harto. Apapun yang ditugaskan, dia upayakan dengan maksimal.

Setiap hari, ia bangun pukul 03.00 WIB dini hari. Dia pun bergegas mandi, dan lalu mempersiapkan kebutuhan Pak Harto yang akan dikenakan di setiap harinya. Seperti pakaian dan sarung yang biasa beliau pakai.

Sebelum pukul 04.00 WIB, ia harus sudah berada di kamar Pak Harto, mendampingi dan melayani untuk persiapan shalat subuh.

“Semua kegiatan Pak Harto, saya yang siapkan. Saya ikhlas dan bangga, karena beliau, bapak terbaik bagi saya,” tukas pria asal Bali ini.

Disampaikan, di masa sebelum Pak Harto sakit, waktunya dihabiskan dengan shalat berjamaah bersama keluarga, shalat tarawih, dan shalat tahajud. Namun itu pun, kata Suweden, dilakukan di atas kursi roda, mengingat sudah tidak bisa shalat dijalaninya sambil berdiri.

Selepas beribadah, Pak Harto mengajaknya berjemur di halaman rumah. Terkadang meminta jalan-jalan ke luar rumah. Namun karena Suweden tidak punya pengawal, maka demi keamanan terlebih dulu ia meminta izin kepada putra putri Pak Harto, terutama pada Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut Soeharto.

Di mata Suweden, Pak Harto adalah sosok pemimpin yang tidak ada cacatnya. Bahkan menurutnya, Pak Harto itu tidak pernah marah-marah. Bahkan saat marah, beliau hanya diam dan senyum tetap ditebar.

“Selama saya mengabdi pada Pak Harto. Beliau tidak pernah memarahi saya, malah saya dilindungi,” ujarnya.

Contohnya, kata Suweden, saat dimarahi Mbak Tutut karena dia tidak memberitahukan pendarahan yang dialami Pak Harto, saat dirawat di rumah sakit. “Bapak membela saya,” ucapnya.

Bagi Suweden dengan tidak pernah dimarahi menjadi kenangan terindah dalam dirinya selama menjaga, merawat dan menemani Pak Harto. Menurutnya, Pak Harto sangat menghargai keluarga, pegawai, dan rakyatnya.

Menurut Suweden, Pak Harto memiliki rasa kepedulian terhadap kemanusiaan. Semua yayasan yang dimiliki, tujuan utamanya adalah untuk menyejahterakan rakyat Indonesia. Seperti pendidikan anak kurang mampu, kesehatan bagi rakyat miskin, kesejahteraan keluarga veteran, keluarga prajurit, pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi rakyat.

Dalam kepemimpinannya, sebut dia, Pak Harto telah sukses menjadikan negara Indonesia ini maju dan berkembang dari keterpurukan. Bahkan berhasil swasembada pangan dengan mendapat penghargaan dari Food and Argiculture Organization (FAO).

Suweden juga menyakini kalau program-program pembangunan Pak Harto ada yang diterapkan dalam pemerintahan sekarang ini.

“Program Beliau itu dipakai sebenarnya, tapi seolah tak kepakai. Jadi tidak tahu itu unsur sengaja atau tidak,” ujarnya.

Kalau di negara luar dan dimana pun, sebut dia, kalau ada program pemerintah sebelumnya yang baik, terus diterapkan dalam upaya memajukan bangsanya. Sedangkan program yang jelek dibuang alias tidak dipakai.

Dia menegaskan, bahwa dalam pemimpin bangsa, almarhum Pak Harto juga tetap melaksanakan program- program pembangunan yang dicanangkan Bung Karno. Namun demikian program yang tidak cocok tidak dikehendakinya. Contohnya, kata Suweden, terkait Partai Komunis Indonesia (PKI).

PKI dibubarkan karena tidak sesuai dengan falsafah hidup bangsa Indonesia. Pak Harto tetap berpegang pada Pancasila dan UUD 45.

“Sekarang orang mengatakan Pak Harto bukan Pancasilais. Aneh-aneh saja. Beliau itu berpegang pada Pancasila dalam memimpin dan memajukan negara ini,” tukas Suweden.

Dalam doa, Suweden memohon agar Tuhan Yang Maha Esa mengampuni dosa-dosa almarhum Pak Harto dan menempatkan di sisi terbaik di surga.

Baca Juga
Lihat juga...