Tak Bisa Bertani, Jala Ikan di Waduk

Editor: Satmoko Budi Santoso

162

SOLO – Musim kemarau panjang tahun ini, membuat sebagian petani terutama lahan tadah hujan tak bisa bercocok tanam. Berbagai cara pun dilakukan untuk bisa mengais rejeki agar tetap bisa menghidupi keluarga yang ada di rumah.

Saalh satunya yang dilakukan Sadiman, warga Kajuran, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah yang memilih mencari ikan ketimbang hanya duduk di rumah. Kondisi kemarau yang membuat tidak adanya air mengalir untuk sarana irigasi, memaksa bapak dua anak ini harus bisa memanfaatkan potensi yang ada di sekitarnya.

Terutama kondisi waduk Lalung yang berada di perbatasan antara Sukoharjo dan Karanganyar, dimanfaatkan untuk bisa mengais rejeki dengan menjala ikan. Upaya ini, ditempuh pria 54 tahun ini, karena air dari waduk yang dibangun sejak zaman presiden Soeharto itu, tak lagi bisa mengalir untuk sarana irigasi.

Sadiman tengah memilih ikan hasil tangkapan yang memanfaatkan Waduk Lalung yang mulai dangkal akibat kemarau panjang – Foto Harun Alrosid

“Untuk sambilan sama Mas, karena sudah tidak bisa menggarap sawah. Airnya mengering, jadi tidak sampai di sawah,” ucap Sadiman, saat ditemui cendana news, di Waduk Lalung, Senin (17/9/2018).

Dengan hanya mengandalkan jaring yang sudah dipersiapkan, Sadiman mengaku, tidak terlalu ngoyo untuk menjala ikan. Sebab, setiap kali ia mencari ikan, hasilnya juga tidak menentu. “Kalau pas baik bisa 5 kilogram. Tapi ya kadang hanya 2 atau 3 kilogram,” lanjut pria yang juga mengaku sebagai buruh tani tersebut.

Setelah pulang dari Waduk, Sadiman mengaku, sudah ada pedagang langganan yang menampung hasil tangkapan. Satu kilogram ikan hasil tangkapan yang berisi ikan Nila dan Embo, biasanya dijual dengan harga Rp15.000. “Kalau dijual di pasaran satu kilogram Rp15.000 sampai Rp16.000,” imbuhnya.

Kondisi air waduk yang banyak menyusut juga dimanfaatkan warga dari Karanganyar maupun Sukoharjo untuk mencari ikan. Tak hanya menjaring, warga juga beramai-ramai mancing maupun nyobok. “Tak menentu, kadang ya dapat banyak, kadang juga cuma sedikit,” tambah Didik, warga Lalung, Karanganyar.

Diakui Didik, banyak petani di sekitar waduk tak bisa bertanam karena air tak lagi cukup. Tak kurang, belasan hektare lahan petani hanya dibiarkan dan tidak ditanami karena tidak ada air untuk irigasi.

“Banyak sekitar waduk yang dibiarkan tidak ditanami. Terutama di sebelah utara waduk, belasan hektare sawah pilih tidak ditanami,” katanya.

Baca Juga
Lihat juga...