Taman Buah Mekarsari Edukasi Metode Tanam Vertikultur

Editor: Koko Triarko

261
BOGOR – Semakin menyempitnya lahan yang dapat dipergunakan untuk menanam tumbuhan di perkotaan, memunculkan metode alternatif penanaman dengan media tanam vertikal, yang biasa disebut vertikultur.
PIC Perawatan Kebun Sayur dan Buah Taman Buah Mekarsari, Nyanyang Komarudin, menjelaskan, bahwa vertikultur ini dapat dilakukan di lahan sempit maupun lahan yang luas, dan memiliki fungsi sebagai penghias maupun sebagai sumberr ekonomi.
“Penanaman vertikultur ini sangat cocok dilakukan di perkotaan, mengingat lahan di kota itu sudah jarang. Ditambah dengan penggunaan media tanam yang berasal dari barang yang tidak terpakai, membuat sistem vertikultur ini juga akan membantu masalah sampah plastik dan juga penghijauan,” kata Nyanyang, usai memberikan workshop vertikultur di Area Danau Taman Buah Mekarsari, Bogor, Sabtu (29/92018).
Pemilihan tanaman yang diutamakan biasanya adalah sayuran daun, seperti selada, sawi, seledri.
“Penyemaian itu memakan waktu sekitar tiga minggu, dengan menggunakan media sekam, dan tanah, kohe dan sekam untuk tunas kecil. Kalau sudah sekitar 10 hari hingga dua minggu, itu sudah siap untuk vertikultur,” urai Nyanyang.
Media tanam vertikultur ini adalah bahan yang mudah dan murah. Bisa menggunakan paralon atau pun bahan bekas lainnya. Media ini bisa digunakan untuk dua kali tanam.
“Di media tanam ini, kita akan memberikan jarak sekitar lima centimeter, fungsinya sebagai lubang tanam. Di masing-masing lubang inilah nanti bibit yang sudah disemaikan ditanam. Sekitar 21 hari, sudah bisa panen,” papar Nyanyang.
Nyanyang juga menyampaikan, bahwa sistem vertikultur ini bisa diterapkan pada lokasi-lokasi di tengah kota.
“Biasanya kan kalau di rumah-rumah itu yang ditanam sayur yang membutuhkan perawatan intensif. Kalau untuk tanaman hijau di tengah kota, misalnya di tiang-tiang jalan tol, mungkin bisa dipilih jenis tanaman yang membutuhkan perawatan yang lebih sedikit dan tahan air,” ujarnya, lebih lanjut.
Sementara itu, animo para pengunjung di area danau terlihat tinggi. Terutama dari pengunjung wanita dan pengunjung yang berusia lanjut.
“Kita memang melakukan registrasi sebelum acara, tapi hanya untuk mendapat data saja, dan memastikan bangku yang kita sediakan cukup. Pas acara berlangsung, banyak yang tidak registrasi juga ikut ngumpul dan mendengarkan. Rata-rata yang usianya sudah umur. Karena mereka melihat ini sebagai cara untuk mengisi waktu di rumah. Apalagi, ibu-ibu. Soalnya, yang kita contohkan di sini kan jenis sayur,” papar Markom Taman Buah Mekarsari, M. Fathir.
Fathir menjelaskan, bahwa Taman Buah Mekarsari sudah melakukan edukasi vertikultur ini sejak 2011. “Mulainya tahun 2009-2010. Tapi mulai rutin pada 2011. Dan, bukan hanya pengunjung saja yang datang ke sini, yang kita beri edukasi. Ada juga instansi yang secara khusus meminta pelatihan untuk vetrikultur ini bagi para stafnya. Seperti Kemenkumham yang memberikan pelatihan saat Hari Kartini atau untuk pembekalan bagi para stafnya yang mau memasuki masa pensiun,” ucap Fathir.
Dari instansi pendidikan juga banyak yang melakukan kerja sama dengan Taman Buah Mekarsari, untuk melakukan pelatihan bagi para murid. “Biasanya kita melakukan per tiga bulan untuk edukasi seperti ini. Ada yang rutin juga, seperti kerja sama kita dengan Disbudpar Bogor,” kata Fathir, lebih lanjut.
Taman Buah Mekarsari selain memberikan edukasi juga memberikan kesempatan bagi para pengunjung dan peserta workshop, untuk dapat membeli tanaman vertikultur dengan harga yang relatif murah.
“Awalnya kita hanya menjual yang berukuran satu meter atau 1,5 meter dengan kisaran harga antara Rp125.000 hinga Rp175.000, ini juga termasuk beberapa jenis bibit. Tapi, banyak calon pembeli yang bingung, bagaimana cara membawa pulangnya. Akhirnya, kita juga membuat yang ukurannya 50 cm. Dan, kita model gantung gitu, sehingga saat dibawa pakai motor juga gampang. Nanti saat  di rumah bisa digantung di teras,” pungkas Nyanyang.
Baca Juga
Lihat juga...