Target Luas Lahan Kedelai di Sumbar Tak Tercapai

Editor: Mahadeva WS

198
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Barat, Candra/Foto: M. Noli Hendra

PADANG – Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Barat, di 2017 lalu, menetapkan target lahan perkebunan kedelai di daerah tersebut 15.000 hektare (ha). Saat ini, luas lahan kedelai yang semula hanya 1.000 ha, sebelum ditetapkan target, kini telah bertambah menjadi 4.000 ha. 

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Barat, Candra mengatakan, target 15.000 ha lahan perkebunan kedelai adalah program dari pemerintah. Target tersebut ditetapkan secara nasional, untuk tanaman padi, jagung, dan kedelai. Tanaman padi dan jagung diupayakan perluasan lahan dengan memanfaatkan lahan kering, yang dialih fungsikan untuk lahan pertanian padi dan jagung.

“Gerakan pajale (Padi, Jagung, Kedelai) ini diseluruh Indonesia, lahan kedelei di Sumatera Barat hanya seluas 4.000 haktare itu berada di Kabupaten Pasaman, Pesisir Selatan, Solok Selatan, Dharmasraya, dan Kabupaten Sijunjung,” ujarnya, Senin (24/9/2018).

Struktur tanah dan cuaca di Sumatera Barat tidak semua cocok untuk berkebun kedelai. Untuk itu, target 15.000 ha lahan kedelai diperkirakan sulit untuk dicapai. Kendati demikian, Candra menegaskan, ada upaya secara terus menerus, untuk mencapainya, dengan cara meminta kepada Balai Penyuluh Pertanian di kecamatan, mencari dan menyuluh masyarakat untuk bisa berkebun kedelai.

Guna mencapai target itu, peran Balai Penyuluh Pertanian sangat diharapkan. Pertanian yang sering disosialisasikan ke masyarakat ialah, bertanam padi jajar legowo. “Kalau untuk produksi kedelai di Sumatera Barat saat ini masih tergolong rendah, berkisar 1,15 ton hingga 1,32 ton per ha, dengan luas tananam berfluktuasi sangat signifikan, sekira 296 ha dengan produksi 1,19 ton per ha, yang dibandingkan luar negeri 2,3 ton hingga tiga ton per ha.

Kebutuhan kedelai di Sumatera Barat, kondisi saat ini terbilang cukup tinggi, mencapai 241,05 ton per bulan atau 2.892,6 ton per tahun. Untuk menutupi kebutuhan kedelai di Sumatera Barat, pemerintah mendatangkan kedelai dari Jambi, Riau dan Medan.

Tingginya kebutuhan kedelai tersebut, karena ada 18 industri pengolahan kedelai yang bergerak untuk membuat tahu dan tempe. “Produksi kedelai Sumbar tidak stabil dari tahun ke tahun, cendrung menurun sejak 1996 hingga 2006. Sebagai contoh di 1996, produksi kedelai Sumatera Barat 13.408 ton dan di 2006 hanya 1.438 ton. Produksi kedelai pernah tertinggi di 2000 sebesar 12.686 ton,” ujarnya.

Dulu, ada sepuluh kabupaten dan kota di Sumatera Barat yang turut bertanam kedelai, yakni Kabupaten Pasaman, Padang Pariaman, Pasaman Barat, Limapuluh Kota, Agam, Tanah Datar, Sijunjung, Dharmasraya Solok Selatan dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Wakil Gubernur, Nasrul Abit mengatakan, tanaman kedelei bagi masyarakat petani di Sumatera Barat memiliki kendala, karena ada yang menilai tanaman kedelai kurang menarik. Tanaman kedelai memerlukan air yang cukup untuk pertumbuhan, sementara tidak semua lahan perkebunan bisa mendapatkan air cukup.

Apabila sarana dan prasarana bagus, maka hasil kedelai di Sumatera Barat dapat menjadi tambahan penghasilan yang menguntungkan. “Kelebihan dan kekeringan tanaman kedelai tidak dapat tumbuh dengan baik. Oleh karena itu kepada dinas dan pihak terkait agar menyiapkan sarana dan prasarana pemasaran yang jelas,” ujarnya.

Baca Juga
Lihat juga...