Terinveksi Rabies, Seorang Anak di Sikka Meninggal

Editor: Mahadeva WS

217
Ketua Fraksi PAN DPRD Sikka Philipus Fransiskus. Foto : Ebed de Rosary

MAUMERE – Seorang anak, berinisial EG (5,5), asal Desa Baomekot, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, Minggu (2/9/2018) meninggal karena tertular virus rabies. Korban yang meninggal di RSUD TC Hillers Maumere, digigit anjing pengidap rabies, sekira 5 bulan sebelum kejadian tragis tersebut.

“Minggu (2/9/2018) sore, seorang anak di Sikka meninggal akibat digigit anjing. Informasi yang saya peroleh anjing tersebut bukan saja menggigit satu orang saja, tetapi tujuh orang,” sebut Philipus Fransiskus, Ketua Fraksi PAN DPRD Sikka, Senin (3/9/2018).

Dengan kejadian tersebut, kondisi yang harus disepakati bersama saat ini adalah, Kabupaten Sikka sudah darurat rabies. Dan Perda Kabupaten Sikka mengenai rabies, sudah dibuat sejak 2014, tetapi belum dilakukan upaya pelaksanaan termasuk pemberian tindakan tegas kepada pemilik anjing.

“Pemerintah harus mengambil tindakan tegas kepada pemilik anjing yang tidak mau anjingnya divaksin. Langkah ini yang harus segera diambil oleh pemerintah daerah. Fakta di lapangan, lebih banyak pemilik anjing lebih sayang anjingnya divaksin daripada sayang manusia,” ungkapnya.

Terhadap hal itu, dimintanya, pemerintah daerah untuk melakukan kordinasi dengan cepat bersama polisi dan TNI. Jika anjingnya tidak diizinkan untuk divaksin, maka anjing peliharaan tersebut harus dieksekusi. Kebijakan tersebut, untuk menyelamatkan manusia, daripada hewan peliharaan, agar jangan ada korban lagi.

Dokter spesialis anak, Mario B. Nara, dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Hengkt Sali, membenarkan peristiwa kematian EG, warga Desa Baomekot akibat gigitan anjing pengidap rabies.

Mario menyebut, EG diantar keluarganya ke RSUD TC Hilelrs pada Sabtu (1/9/2018) malam. Saat diantar, kondisi korban dalam keadaan gelisah, dan tingkat kesadaran yang terus mengalami penurunan. Sesuai riwayat disebutkan, korban pernah digigit anjing, sekira lima bulan sebelumnya, tepatnya di sekira April 2018.

Dokter Asep Purnama, Sekretaris Komite Rabies Flores dan Lembata (KRFL) menyebut, semua warga Flores, khususnya para pemimpin, mulai dari pemimpin rumah tangga, pemimpin umat maupun pemimpin masyarakat, harus diberi pencerahan, agar menjadi lebih peduli untuk melindungi warganya. Terutama anak-anak, dari kematian konyol terinveksi rabies.

 “Sudah ratusan nyawa melayang sia-sia di Flores akibat kebiadaban si jahanam virus rabies. Perlu berapa korban nyawa lagi, supaya kita bisa lebih peduli lagi? Sekarang Maria korbannya, tapi suatu saat salah satu di antara kita akan menjadi korban berikutnya jika kita tetap cuek dan tidak peduli,” sebutnya.

Menurut Asep, pemerintah saat ini hanya bersikap seperti pemadam kebakaran. Bila ada masyarakat yang meninggal akibat digigit anjing yang sudah tertular rabies, baru semua orang tersadar, dan mulai melakukan vaksin terhadap anjing dan kera peliharaan. Sementara, jika tidak ada korban dari masyarakat, maka semuanya terdiam. “Kita terkasan seperti pemadam kebakaran, hanya bekerja sesaat saja. Tidak ada program yang jelas untuk menangani rabies yang sudah sejak 1992 melanda pulau Flores dan Lembata,” tandasnya.

Percuma saja kalau ada orang yang meninggal, baru semua pihak sibuk. Hal tersebut dapat dicegah, dengan pemberantasan tuntas agar tidak ada lagi orang yang mati sia-sia akibat digigit anjing yang tertular virus rabies.

Baca Juga
Lihat juga...